Cerbung: The Name of The Game (Chapter 23)

Cerbung: The Name of The Game (Chapter 23)

Adelina Ayu Lestari
Monday, 12 March 2018, 20:00:00 348 0

 

Chapter 22, read here

Flo.

Setiap maba di FIB wajib menyelenggarakan acara makan-makan untuk seniornya. Tujuannya, sih, untuk membiasakan maba supaya di ke depannya nanti, mereka terbiasa bila harus mengurus acara yang lebih besar. FIB, kan, fakultas yang paling sering ada acara. Tiap minggu pasti ada aja acara yang digelar oleh setiap jurusan. Kalau kata kak Andra, FIB itu bukan Fakultas Ilmu Budaya melainkan Fakultas Ilmu Berpesta.

Gue bingung mau mengambil divisi apa untuk acara makan-makan ini. Yang jelas, gue ingin mengambil divisi yang minim interaksi dengan senior. Jadi, divisi humas sudah pasti gue coret paling awal. Daryll bilang, paling aman itu mengambil divisi danus. Kerjanya diawal doang, itu juga hanya mungut-mungutin duit. Biasanya saat hari H, divisi danus paling hanya disuruh bantu-bantu divisi lain. "Gue anak danus sejati. Biasanya setiap gue yang mintain duit, semua orang enggak akan nunggak," katanya. Bukan enggak akan nunggak kali, melainkan enggak berani nunggak. Hihihi.

Gue menempel hiasan berbentuk croissant di jendela, -bantuin anak dekor, lalu menoleh ke Oliv, "Seharusnya anak danus disuruh pulang aja tauk. Gue yakin kita nanti bakalan berdiri doang kayak orang bego."

"Enggak mungkin berdiri doang, sih, Flo. Pasti nanti kita disuruh ngangkat-ngangkatin piring bekas makan bareng sama anak K3, deh," Jawab Oliv, "Lo, sih, pakai pilih danus  segala. Jatuhnya, tuh, kita kerja dua kali tauk!"

"Ya, daripada jadi anak acara? Mending begini, kan." Gue membersihkan tangan gue dari lem. Acara makan-makan ini selesai paling cepat jam sembilan malam. Padahal kalau enggak malam-malam, gue, kan, bisa pulang sama Daryll. Dia udah keluar rumah sakit, tapi nyokapnya meminta cowok itu untuk enggak ngekos dan pulang ke rumah dulu supaya beliau bisa mengontrol jatah minum Milonya.

Kak Lala, Kak Andra dan Kak Billian turun dari lantai dua. Mereka bertiga baru saja habis kelas eksternal Bahasa Italia, disusul oleh... Kak Shaien dan Zio.

"FLO!" Zio menghampiri gue heboh. Ekspresinya riang gembira seperti habis dapat uang kaget,

"Lagi ngapain lo?" tanya cowok itu semangat. Gue lupa kalau dia mengambil kelas eksternal di FIB.

"Ngurusin ini..." Gue menunjuk ke hiasan dekorasi yang baru saja gue pasang. Enggak berani ngomong aneh-aneh karena ada kak Lala, "Lo habis kelas eksternal, ya?"

"Kok tahu?" tanya Zio.

"Gue yang ngasih tahu." Kak Andra merangkul bahu gue, "Gue, kan, mentornya. Lupa lo?" cewek itu lalu menunjuk kak Shaien dan Zio, "Kalian mau ikut makan enggak? Maba Perancis lagi bikin acara makan-makan buat senior, ikutan aja, yuk! Lumayan banget, kan, dapat makan gratis?"

Kak Shaien melirik Zio sebentar, lalu bertanya, "Memang boleh?"

"Boleh-boleh aja. Cowok gue juga mau datang, kok." Kak Lala yang jawab. Cewek itu enggak terlihat sejutek biasanya. Kata Oliv, sih, karena pacarnya mau datang. Jadi pingin lihat cowok seperti apa yang sanggup jadi pacarnya, "Ikut aja, Ien, Yo."

"GUE IKUT!" Zio menunjuk tangan seperti murid ambisius di kelas Matematika, "Ikut, yuk, Ien! Lo temanin Andra, gue temanin Flo."

Kak Billian menepuk dahinya, "Aduh, gue baru ingat kalau MC kita kurang satu." Cowok itu menepuk pundak gue, "Flo, temanin Dello ya jadi MC."

"Kok, aku?!" Sial. Udah sengaja pilih danus biar gabut, tapi malah harus tampil terpampang nyata di atas panggung, "Oliv aja, tuh!"

"Ih, enak aja!" Oliv mencubit bahu gue, "Lo aja, lah! Kan, yang disuruh elo!"

"Aku enggak bisa jadi MC, kak." Melas gue. Please, jangan gue, dong. Mending disuruh bantuin anak K3 ngumpulin sampah, deh, daripada harus jadi MC. Lagian, kenapa harus gue, sih? Anak danus yang gabut, kan, bukan cuma gue.

"Enggak apa-apa, Flo. Kan, ada Dello." Bujuk kak Andra, "Nanti, biar dia aja yang meramaikan suasana, kamu tinggal ngasih tahu acara selanjutnya."

Bukan itu masalahnya. Gue paling enggak suka tampil di depan umum. Jangankan, jadi MC. Setiap presentasi aja gue selalu mulas sangking tegangnya. Apalagi harus sok asik jadi MC untuk meramaikan suasana. Yang ada gue muntah di atas panggung kaya Anna Camp di Pitch Perfect.

Gue pingin berdebat lagi, tapi enggak enak karena mentor-mentor ada di sini. Apalagi ada Kak Lala. Kalau gue mengeluh lagi, bisa-bisa gue dicakar.  

Kak Billian memanggil Dello, "Del, Flo jadi MC, ya, sama kamu. Gantiin si Awa. Tadi siang dia baru kabarin aku kalau neneknya meninggal makanya enggak  bisa datang."

Gue melotot. Neneknya  meninggal? Apaan, tuh! Orang si Awa pernah cerita kalau neneknya udah meninggal bahkan sebelum dia lahir. Ternyata cewek itu juga memakai taktik licik langganan gue.

"Nih, Flo, dibaca-baca aja dulu." Dello memberikan Q Card dengan logo bendera Perancis sambil nyengir. Sebelum memilih divisi acara, tadinya Dello berniat untuk masuk divisi danus juga, tapi mentornya memaksa supaya cowok itu masuk divisi acara aja, "Tenang  aja,  nanti gue bantuin, deh, di depan. Jadi, lo tinggal bacain rundown aja." Cowok itu menepuk bahu gue menenangkan, lalu kembali masuk ke Aula, diikuti oleh Kak Lala, Kak Andra, Kak Billian dan Kak Shaien.

Zio masih berdiri di sebelah gue. Ekspresinya jahil. "Haduh, maba gue jadi MC. Jadi bangga, nih." Cowok itu menyenggol badan gue, pandangannya mengekori langkah Dello, "Itu yang  namanya Dello, Flo? Cakep lagi. Lebih cakep dari Daryll."

Gue mengernyit, "Kalau sama lo gimana?"

"Aduh, gimana, ya? Semut merah yang berbaris di dinding juga tahu jawabannya." Zio pura-pura merapikan rambutnya. Melihat gue enggak nafsu ketawa, cowok itu menepuk-nepuk bahu gue, "Udah, selow aja. Enggak akan mati, kok. Paling kalau salah ngomong, lo dilemparin batu jumroh sama Lala." Gue masih enggak ketawa juga. Zio mengacak-acak rambut gue, "Tenang aja kali, Mbak. Coba sini, ada yang bisa gue bantu enggak?"

Gue melihat rundown yang ada di Q Card. Sambutan dari PO dan WAPO, makan malam, performance dari maba, games tebak-tebakan, foto bersama, penutupan. "Ini, nih." Gue menunjuk bagian games tebak-tebakan, "Siapa, sih, yang mau susah-susah ikut games ginian? Mana hadiahnya cuma tentengan isi ciki kaya ultah anak SD lagi. Pasti nanti gue harus sok asik di atas panggung untuk nyari peserta, deh."

"Yaudah. Gue aja, deh, yang  jawab semua pertanyaannya. Lo ada kunci jawabannya enggak?" tawar Zio.

"Ini. Jawabannya ada di Q Card. Lo foto aja." Gue membiarkan Zio memotret isi Q Card, "Beneran, ya, Yo. Jangan lupa tunjuk tangan pas games tebak-tebakan. Awas lo."

"Iya, mbak." Zio men-zoom hasil fotonya. Memastikan tulisannnya bisa terbaca, "Paling nanti kalau foto ini enggak kebaca, gue minta tolong Lala buat bacain." Cowok itu menghindar dari cubitan gue sambil tertawa, 'Iya, iya. Nanti gue yang  jawab semua, deh. Udah sana kerja lagi. Gue mau ke Lala dulu. Pingin ngaduin kalau mabanya curang!" sebelum berhasil gue selengkat, cowok itu berhasil ngibrit duluan.

"Ganteng banget, Flo..." Oliv tiba-tiba nimbrung, "Kok, lo bisa kenal sama temannya Kak Lala sama Kak Andra, sih?"

"Dia temannya Daryll juga, tauk. Namanya Zio." Gue lupa cerita tentang Zio ke Oliv, "Emang ganteng. Dia mantan artis, loh."

"Kenapa lo enggak sama dia aja?"

"Kayak dia suka sama gue aja." Gue memutar bola mata lalu membuka ponsel. Pingin cerita sama Daryll.

Flo: Lo, sih, nyuruh gue pilih danus.

Daryll: Emang kenapa?

Daryll: Gabut, kan, lo sekarang?

Flo: Karena gabut, makanya gue disuruh bantu divisi acara dengan jadi MC.

Daryll: Ooh hahahaha.

Daryll: Yaudah.

Flo: Yaudah gimana?

Daryll: Tinggal jadi MC aja susah amat.

Flo: Emang lo bisa?

Daryll: Bisa.

Daryll: Tinggal baca Q Card apa susahnya.

Flo: Kalau begitu kenapa lo enggak ambil divisi acara terus jadi MC sekalian?

Daryll: Gue dua tahun kali jadi anak acara.

Daryll: Komdis, tuh, jatohnya anak acara juga.

Flo: Lo pernah jadi komdis?

Daryll: Gue mantan ketuanya.

Flo: Pantesan.

Daryll: Pantesan apa?

Flo: Enggak apa-apa.

Flo: Enggak mau banget jadi MC pingin kabur aja rasanya.

Daryll: Udah enggak usah lebai.

Daryll: Dicoba aja dulu.

Flo: Iya, iya.

Flo: Zio juga mau bantuin gue, sih.

Daryll: Kok, ada Zio?

Flo: Zio sama Kak Shaien diajak mentor gue buat ikutan makan.

Daryll: Oh.

Flo: Lo mau datang juga enggak?

Daryll: Emang boleh?

Flo: Zio sama Kak Shaien aja datang. Pacarnya mentor teman gue yang bukan anak UI juga datang, kok.

Flo: Nanti lo gabung aja sama Zio dan Kak Shaien.

Daryll: Yaudah.

Flo: Yaudah apa?

Daryll: Gue dateng.

"YES!" Gue memeluk Oliv sekencang mungkin, "Daryll mau datang juga, Liv!"

"Oh.... Daryll yang waktu itu." Oliv ngangguk-ngangguk, tapi wajahnya bingung, "Gimana, sih, lo? Katanya malas jadi MC. Bukannya kalau gebetan datang malah jadi tambah malu, ya?"

"Biarin. Yang penting bisa ketemu." Gue menyerahkan sisa kerjaan anak dekor ke Oliv, "Nih, lo lanjutin. Gue mau latihan dulu di depan calon pendamping gue."

Oliv tersenyum jahil, "Maksud lo di depan kak Lala?"

"Sama aja lo kaya Zio!"

-

Daryll.

Acara makan-makan yang Flo maksud ada di aula gedung 4 FIB. Waktu gue membuka pintu, tamu-tamu yang datang sudah duduk lesehan dengan piring makanannya masing-masing. Gue menemukan Flo sedang duduk di samping panggung, membaca Q Card sambil sesekali ngobrol dengan cowok di sebelahnya. Waktu cewek itu melihat kehadiran gue di ambing pintu, ia tersenyum lebar sambil melambaikan tangan.

Karena sedang bertugas, Flo enggak bisa menghampiri gue. Ia menunjuk ke sisi kanan aula, ada Zio dan Shaien .

Shaien menyikut Zio begitu melihat gue. Dan waktu Zio menoleh, tampangnya seperti habis liat Kalong Wewe di siang bolong, "Kok ada elo?? Kok, ada elo??" serunya heboh, "Ngapain lo di sini?? Pulang sanah! Pulang!"

Gue enggak menanggapi seruannya dan malah duduk anteng di sebelah cowok itu. "Ini es lo bukan? Bagi, ya." Sebelum Zio menjawab, gue mengambil segelas es campur di depan cowok itu dan meneguknya. Kalau nyokap lihat, bisa-bisa gue dilempar meja karena baru keluar RS langsung minum minuman berasa lagi.

Zio mencibir. Cowok itu meraih kembali gelas es campurnya, mengambil es batu paling besar dari sana lalu memasukkanya ke punggung gue.

"Anjing. Apaan, sih, lo!" Tangan gue meraba-raba punggung. Si anjir, kayanya masuk ke celana, deh.

Zio mengangkat bahu sok polos lalu lanjut ngobrol lagi sama Shaien. Main-main lo, Yo, sama gue.

"Naaahhhhh! Gimana nih makanannya kakak-kakak?" Cowok yang sedari tadi ngobrol sama Flo naik ke atas panggung. Cewek itu mengikuti dari belakang. Gerak-geriknya kikuk dan ekspresi wajahnya seperti minta dibawa kabur sekarang juga. Waktu pandangan kami bertemu, gue tersenyum menenangkan. Cewek itu hanya membalasnya dengan senyum canggung, "Udah pada kenyang belum, nih?"

"BELOOOOOOM!" Zio teriak keras banget. Satu aula ketawa. Termasuk Flo di depan sana. Kecanggungannya seketika hilang. Zio kelihatan puas.

 Cowok di sebelah Flo ketawa, "Tenang-tenang, kak! Habis ini kita akan bagi-bagi hadiah makanan lagi, kok. Siapa yang mau?!"

"MAUUUUUUUUU!" Zio teriak lagi. Satu aula ngakak.

"Nah, sebelum bagi-bagi hadiah makanan, kakak-kakak harus jawab dulu, nih, tebak-tebakan dari kita. Kalau berhasil bakalan dapat...."  cowok di sebelah Flo mengangkat bingkisan berwarna bening berisi cemilan khas tentengan anak SD, "Bingkisan spesial!!!!"

"YEAAAAAAAAAAAAAAAAY!" Lama-lama meledak juga, nih, kuping gue duduk sebelah Zio. Gue enggak pernah melihat cowok ini seantusias ini sebelumnya. Apalagi perkara bingkisan isi ciki doang. Waktu gue menoleh ke Flo lagi, cewek itu udah enggak kelihatan grogi sama sekali. Bibirnya membisikkan 'thank you' tanpa suara. Zio membalasnya dengan senyum lebar sambil menunjukan ibu jari.

Dia sengaja.

"Nah, pertanyaan pertama." Kali ini Flo yang gantian ngomong, "Telor, telor apa yang paling sangar?"

Zio menunjuk tangan secepat kilat. Shaien sampai ngakak di sebelahnya, "Sinting lo, Yo."

"Silahkan, kakak bule yang daritadi paling semangat di sana." Cowok disebelah Flo menunjuk Zio, "Apa jawabannya?"

"TELOR ASIN KARENA ADA TATONYA!"

Satu aula ketawa. Cowok di sebelah Flo mempersilahkan Zio maju ke atas panggung untuk mengambil hadiah. Hanya beberapa detik, tapi gue bisa melihat senyum Zio menghangat waktu Flo menyerahkan bingkisan. Mereka berdua tertawa, bahkan hanya karena bertukar pandangan.

"Pertanyaan kedua." Flo berdehem, "Kenapa anak anjing sama anak kucing sering berantem?"

Zio menunjuk tangan lagi. Satu aula sekarang sudah tertawa duluan bahkan sebelum cowok itu membuka mulutnya, "GUE TAHU!"

Cowok di sebelah Flo mempersilahkan, "Apa jawabannya, kak?" 

"YA NAMANYA JUGA ANAK-ANAK!"

Satu aula pecah. Zio berjalan ke depan untuk mengambil hadiahnya yang kedua. Lagi, Zio dan Flo berbagi tawa saat pandangan mereka bertemu. Untuk beberapa detik, isi aula hanya mereka berdua.

"Kok, lo tahu jawabannya, sih?" tanya gue begitu Zio sudah kembali ke tempat duduk.

"Tahu, lah." Zio memasukkan hadiahnya yang kedua ke dalam ransel, "Sebelum acara tadi, Flo udah ngasih tahu kunci jawabannya biar gue yang jawab semua karena dia malas sok asik ngajak-ngajak penonton buat mikir."

"Gue mau lihat, dong." Udah kongkalikong ternyata. Pantas mereka seperti punya inside jokes sendiri.

"Enak aja! Enggak boleh!" Zio menjauhkan ponselnya, "Cari kartu AS lo sendiri."

"Pertanyaan ketiga." Kali ini cowok di sebelah Flo yang bertanya, "Kakak yang bule udah semangat aja, nih, buat dapat hadiah lagi. Mau buka warung ya, kak?" Jayus lo. Cepetan kasih tahu pertanyaannya, "Penyakit apa yang paling terkenal di China?"

Gue dan Zio sama-sama menunjuk tangan. Padahal gue juga enggak tahu apa jawabannya. Usaha aja dulu.

"Kakak bule lebih duluan tunjuk tangan." Cowok di sebelah Flo -ini orang namanya siapa, sih?, menunjuk Zio, "Apa jawabannya, kak?" 

"KUNGFLU!"

Cowok di sebelah Flo berseru, "Betul lagiiii!"

"Yesssss -eh, anjing masukin apa lo?" Zio merogoh-rogoh punggungnya. Berusaha mengambil es batu yang baru saja gue masukkan.

Gue mengangkat bahu sok polos. Makanya gantian, nyet.

Zio beranjak ke depan untuk mengambil hadiahnya yang  ketiga. Cowok itu mengatakan sesuatu yang membuat Flo tertawa. Gue enggak bisa mendengarnya dari sini, tapi gue yakin mereka enggak sedang menertawakan games tebak-tebakan ini. Perlu lebih dari sekedar inside jokes untuk memiliki vibe seperti itu.

Sudah berapa banyak cerita yang mereka bagi bersama?

"Tinggal dua pertanyaan lagi, ya. Ayo dong, kakak-kakak yang lain jangan mau kalah sama kakak bule!" Cowok di sebelah Flo sok-sokan memberi semangat yang malah bikin gue tambah emosi, "Pertanyaan selanjutnya, motor apa yang paling lucu?"

Gue dan Zio mengangkat tangan bersamaan lagi. Tapi, lagi-lagi Zio yang  ditunjuk. Si anjir, "WOY, GUE DONG!"

Niatnya pingin berteriak semangat kayak Zio di awal tadi untuk meramaikan suasana. Tapi sekarang satu aula malah jadi hening. Kenapa giliran gue teriak enggak ada yang ngakak, sih!

Zio mengerjap kaget lalu ketawa. Cowok itu menyenggol bahu gue, "Santai aja kali, mbak, edan, ih!"

Gue merengut, "Gue bukan mbak-mbak!"

"Yaudah, kakak yang di sebelah kakak bule." Cowok di sebelah Flo menunjuk gue, "Apa jawabannnya, kak?" 

"Em...  Apa tadi pertanyaannya?" Jadi lupa gue.

"Motor apa yang paling lucu?"

"Em.... Em.... Honda?" Asbun banget lo, Ryll!

"Salah!" seru cowok itu, "Kakak bule tahu enggak?"

Zio menjawab dengan semangat ibu-ibu nawar sayur di pasar, "YAMAHAHAHAHA!"

Satu aula ketawa lagi. Riuh tepuk tangan terdengar saat  Zio maju ke depan untuk mengambil hadiahnya  yang entah sudah ke berapa. Mereka enggak tahu aja kalau hadiah sebenarnya bukan bingkisan.

Flo melihat gue. Ekspresinya enggak terbaca, tapi ia tersenyum. Entah apa maksudnya.

"Nah, pertanyaan terakhir adalah......" Cowok  di sebelah Flo berdehem sok dramatis. Baru aja ia ingin membacakan pertanyaan, tiba-tiba Flo menyentuh bahunya lalu membisikkan sesuatu. Cowok itu mengangguk-angguk lalu mempersilahkan Flo untuk membacakan pertanyaan yang terakhir.

"Pertanyaan terakhir adalah...."  Cewek itu masih melihat gue dengan penuh arti. Senyumnya  melebar, "Kenapa whipped cream di blueberry cake warnanya biru?"

Zio terkesiap lalu sibuk membuka-buka ponselnya, "Hah, pertanyaan yang mana, tuh?"

Gue mengerjap. Itu kan tebak-tebakan yang... senyum gue melengkung, lo mau gue menang, Flo?

Gue mengangkat tangan santai, "Karena whipped cream-nya dicekek makanya dari putih jadi biru."

Satu aula hening. Entah karena kali ini Zio enggak menang atau karena tebak-tebakan buatan gue jayusnya bukan main. Bodo amat, dah. Demi lo, nih, Flo.

Cowok di sebelah Flo mempersilahkan gue maju untuk mengambil hadiah. Waktu gue sampai di atas panggung, gue dan Flo bertukar senyum. Cewek itu kelihatan malu-malu dan wajahnya tersipu. Lucu, "Tumben dikuncir." Gue menyentuh ujung rambut Flo, "Biasanya  digerai."

"Hehehe, iya." Balas cewek itu malu, "Tadi keringatan makanya dikuncir."

Gue senyum, "Cantik."

"Eh, kakak bule mana, ya?" Cowok di sebelah Flo -Dello! Ternyata namanya Dello. Tadi Flo bisikin gue namanya, celingukan, "Kita mau foto bareng dulu, nih, sama para pemenang kuis."

Shaien yang menjawab. Cowok itu menunjuk pintu keluar, "Dia ke toilet."

"Oh, yaudah. Foto sama kakak yang ini aja, deh. Kita dikejar rundown soalnya."  Dello memberikan sinyal pada anak HPD untuk mengabadikan foto kami.

Setelah satu dua kali cekrek, gue dipersilahkan kembali ke tempat duduk. "Flo." Panggil gue, "Thanks hadiahnya."

"Ih, itu bukan dari gue. Gue, kan, anak danus." Cewek itu ketawa, "Yang nyiapin hadiah itu, tuh, anak konsumsi."

Gue senyum aja. Hadiah yang gue maksud bukan bingkisan berisi ciki ini, melainkan senyum penuh arti dari Bluebell Flower.

-

Zio.

Kenapa gue enggak pernah belajar kalau minum Dulcolax bukan ide yang  baik?

Tepat ketika Daryll maju untuk mengambil hadiah, usus gue berputar-putar. Siap memuntahkan segala isinya. Ngomong-ngomong tentang Daryll, gue enggak menyangka kalau cowok itu akan datang ke acara makan-makan ini. Takajuik ambo sampai, waktu melihatnya berdiri di ambang pintu. Pasti Flo, deh, yang memintanya untuk datang. Kehadiran gue aja enggak cukup buat lo ya, Flo?

"Eeeeeghhhhh. Ah, sialan!" Enggak lagi-lagi, deh, gue minum Dulcolax kalau besoknya kuliah. Pasti bakal ada drama-drama beser selanjutnya, deh.

"Yo." Suara Shaien, "Lo masih di toilet?"

"Eeeeeggghhhh." Ah, anjir, enggak keluar-keluar, "Mmmasih, Ien. K-kenapa?"

"Acara makan-makannya udah selesai. Ini gue taro tas lo di atas wastafel, ya."

 Gue enggak tahu apa jadinya hidup gue tanpa Shailendra, "Thanks, Ien..."

Shaien menyalakan wastafel, "Lo kalau boker lama banget, deh, Yo. Lo melahirkan, ya?"

"Melahirkan anaknya Daryll." jawab gue asal.

"Woy, hobi banget lo bawa-bawa gue." Lah, ada orangnya.

Gue ngakak, "Ryll, cepet pegangin tangan gue. Kepala anak lo udah mulai kelihatan."

Daryll menggedor-gedor pintu bilik gue, "Cepetan buka pintunya, biar gue bisa langsung adzanin dia!"

"Eh, eh, gue cuma bercanda." Lah, jadi beneran panik gue.

"Yeee, gue juga cuma bercanda kali!" balas Daryll sewot, "Susah banget, ya, orang lain bedain kapan gue bercanda kapan serius?"

"Jangan salahin orang, Ryll. Salahin kenapa muka lo kaya bulldog!"

"Berak lo, Yo!"

"Emang gue lagi berak!"

Shaien ngakak, "Kalian, tuh, daripada rebutan cewek mending pacaran aja, deh!"

Krik.

Krik.

Krik.

Gue jerit, "SHAILENDRA LO BIKIN SUASANA JADI AWKWARD AJA, DEH!"

Shaien berdehem, berusaha keluar dari suasana enggak enak yang ia buat sendiri. Dasar cowok enggak bertanggung jawab, "Eh, gue balik duluan, ya, Yo, Ryll."

"Kok, lo enggak balik bareng gue, Ien?" tanya gue dari dalam bilik. Tinggal beberapa plung lagi bisnis gue selesai, nih.

"Gue sama Andra pingin nebeng naik mobil cowoknya Lala. Kalau lo ikutan, jadi enggak muat." Balasnya, "Udah, ya, gue balik duluan. Semoga bayi lo selamat, Yo."

Krik.

Krik.

Krik.

"Ryll."

"Ya?"

"Lo masih di luar?" tanya gue pelan.

"Masih."

"Kok, lo enggak pulang?"

"Nungguin Flo. Dia masih di toilet."

Alis gue bertemu, "Loh, gue juga nungguin, Flo."

Krik.

Krik.

Krik.

Daryll keluar dari toilet secepat kilat, "GUE DULUAN!"

"EH, ANJING, TUNGGU! CURANG LO! DARYLL!" Gue mengambil semprotan lalu cebok secepat kilat, "TUNGGUIN GUE! WOY, DARYLL! DARYLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLL!!!!!!!!!!!!!"

***Bersambung***

Chapter 24, read here

Komentar
Signin/Signup

Selamat Datang di teen.co.id

Jika tidak dapat login/signup akun, silahkan kontak kami
Twitter: @teencoid, Facebook: TeenIndonesia, Email: teen@teen.co.id

Term & Condition