Cerbung: The Name of The Game (Chapter 19)

Cerbung: The Name of The Game (Chapter 19)

Adelina Ayu Lestari
Monday, 12 February 2018, 20:00:00 190 0
The Name of The Game, Chapter 19.
The Name of The Game, Chapter 19.

Chapter 18, read here 

Zio. 

Flo benar-benar datang ke rumah sakit. Tapi, dia enggak datang dengan wajah pucat pasih dan air mata bercucuran seperti yang gue bayangkan. Gue pikir sangking khawatirnya mendengar Daryll masuk rumah sakit, cewek itu akan mewek jelek dan menghambur ke pelukan gue. Tapi, kayaknya itu hanya mau gue aja.

"Hai." Sapa cewek itu. Hari ini, Flo mengenakan rok jeans pendek, sweater tipis warna kuning dan sepatu converse putih. Rambut sebahunya yang biasa digerai hari ini di kuncir setengah dengan aksen kepang. Cewek itu kelihatan lebih cantik dari waktu terakhir gue melihatnya, "Mana Daryll?"

"Di dalam." Gue mengedik ke pintu kamarnya, "Masih ada Shaien sama Sharon. Lo mau tunggu mereka keluar atau gimana?"

Cewek itu pasti ingin menjenguk Daryll sendiri. Kalau gue jadi dia, gue pasti pingin menggunakan kesempatan ini untuk berduaan dengan Daryll. (INI PERUMPAMAAN,YAAAA), "Em... Menurut lo enaknya gimana, Yo?" Flo malah nanya balik, "Gue enggak tahu apa lebih baik gue menjenguk Daryll atau enggak."

"Kok, gitu? Kan, lo udah jauh-jauh ke sini?"

Flo menggigit bibir. Cewek itu menatap pintu kamar Daryll ragu-ragu lalu mengambil langkah mundur, "Kayaknya lebih baik gue enggak usah datang, deh."

Gue mengerjap. Ada yang salah. Gue mengambil tangannya, lalu menariknya ke tempat duduk yang agak jauh dari kamar Daryll, "Lo kenapa?"

Flo membuang nafas keras-keras. Anak-anak rambutnya berantakan dan basah karena keringat, padahal lorong rumah sakit terasa dingin. Entah karena sebelumnya ia berlari untuk sampai ke rumah sakit ini, atau ini efek salting karena sebentar lagi bertemu Daryll. Either way, pasti bukan karena gue, "Gue enggak tahu apa Daryll bakal senang gue jenguk." Katanya, "Bima dan Sam mana? Kok, mereka enggak jenguk?"

Benar juga, "Mungkin Daryll enggak mengabari mereka."

"Tuh! Itu!" serunya, "Teman-teman dekatnya bahkan enggak dikabari. Apalagi gue?"

"Tapi, lo udah datang ke sini."

"Karena lo yang ngabarin."

"So?" Gue jadi enggak paham. Gue pikir, cewek itu akan senang dikabarin, nyatanya, dia malah jadi linglung begini, "Intinya, lo mau jenguk dia, kan?"

Cewek itu mengetuk-ngetukan telunjuknya di atas tumit, "Mau. Tapi, apa Daryll mau gue jenguk? Teman-teman dekatnya bahkan enggak dikabari. Apalagi gue? Gue bukan temannya. Gue bukan siapa-siapa. Annoying banget enggak, sih, kalau tiba-tiba gue datang?"

Gue menghela nafas, lalu tersenyum. Dasar cewek. Flo udah beberapa kali curhat tentang Daryll, tapi, ini pertama kalinya ia menunjukan sisi mau tapi malu seperti cewek-cewek pada umumnya saat sedang naksir orang. Mungkin, ini, lah, yang membuat Flo kelihatan lebih cantik.

Cewek ini sedang jatuh cinta.

Dengan Daryll.

 Bummer.

"Lo pikir, deh, sekarang. Menurut lo, Daryll selama ini ke lo gimana? Dia sering ngajak lo makan, sering nge-chat juga. Kalau itu bukan karena dia lagi PDKT sama lo, gue enggak tahu itu apa." Gue mengangkat bahu sok asik. Padahal lidah gue terasa pahit. "Daryll bukan tipe cowok yang mengoleksi cewek untuk jadi adek-adek-an, Flo. Kalau dia dekatin lo, berarti dia suka sama lo. Simpel." Gue kalah. Gue udah tahu gue kalah dari awal. Tapi.., "Daryll pasti senang kalau tahu lo datang, Flo."

Enggak sampai tiga detik, senyum cewek itu mengembang. Kata-kata gue pasti bikin cewek itu lega. Daryll suka Flo. Flo suka Daryll. Zio masuk selokan aja, "Gitu, ya, Yo?"

"Yaiyalah. Udah, habis ini lo jenguk aja dia di kamar. Kalau dia tidur, gebuk aja pakai kursi biar bangun."

Flo ketawa. Cewek itu lalu menyentuh punggung tangan gue, "Makasih, ya, Yo. Makasih udah ngabarin dan dengerin gue."

"Palugada."

"Apaan, tuh?"

"Apa lu mau gue ada."

Flo ketawa lagi, tapi kali ini cewek itu melepas punggung tangan gue. Ia mengubek-ngubek tas ranselnya lalu mengeluarkan sebuah tempat makan, "Buat lo." Cewek itu membuka tutup tempat makan itu, "Kakak gue kemarin beli satu loyang cheese cake....... strawberry. Bukan vanilla, sih. Eh, ada enggak, sih, cheese cake vanilla?" Flo menggaruk pipinya bingung, "Anyway, ini permintaan maaf karena gue enggak jadi neraktir lo kemarin...." Cewek itu menaruh tempat makan itu di atas paha gue.

Gue enggak suka cheese cake. And to be honest, gue alergi stroberi. Tapi detik ini rasanya gue pingin nangis. Seneng banget bundaaaaaaa, "Thanks, Flo...." lalu gue teringat sesuatu, "Kok, lo cuma bawain buat gue? Buat Daryll mana?"

"Kenapa gue harus bawain buat Daryll?" Flo balik nanya, "Kan, gue kalah taruhannya sama lo. Gue bawain buat lo doang, lah."

EAT THAT SHIT  DARYLL LER YOGASWARA.

Flo menutup kembali ranselnya lalu berdiri, "Gue kayanya mau jenguk dia sekarang." Ah, back to reality. Cewek itu ke sini buat jenguk Daryll, bukan untuk memberi gue kue. Tapi, YAUDAH, SEEEEHHHHHHHHHHHHHH. Seneng dikit boleh kali, seus, "Lo masih mau di rumah sakit atau mau pulang, Yo?"

"Kayanya kalau Sharon dan Shaien balik, gue ikut balik, deh. Udah lama juga gue di sini."  Kecuali lo mau gue temani. Gue mau, kok, menemani lo menjenguk Daryll supaya kalian enggak bisa berduaan. Tapi, lo pasti enggak mau gue melakukan itu, kan, Flo? Lagian, gue udah senang banget dibawain kue sama lo. (and the fact that she remembers I like vanilla tho!)  Walaupun mungkin bagian stroberinya akan gue buang karena kalau gue paksa makan, yang ada gantian gue yang masuk rumah sakit. But thank you, thank you, thank you. Gue akan menuliskan tentang ini saat bermain Glad Game di rumah nanti.

"Duluan, ya, Yo." Cewek itu berbalik pergi untuk menemui Daryll lagi. Dan gue membiarkannya pergi lagi. Sambil bernyanyi lagu My Heart Will Go On lagi.

Tapi kali ini, dengan hati yang sudah pasti.

-

Flo.

Tepat ketika gue ingin mengetuk pintu, kak Shaien dan kak Sharon keluar dari kamar Daryll. Kak Sharon buang muka begitu melihat gue, sementara kak Shaien tersenyum ramah. I like him. Gue enggak kenal dia tapi pasti dia orang yang baik. Auranya menenangkan kaya ustad, "Hai, Flo. Mau jenguk Daryll, ya?" tanya cowok itu, "Daryllnya lagi solat. Tunggu sebentar aja." Katanya, "Zio mana?"

"Zio tadi bilang mau nunggu kakak di lobby aja."

Kak Sharon dan Kak Shaien bertukar pandangan mendengar jawaban gue. Mereka kelihatan ingin bertanya lebih, tapi pada akhirnya hanya mengangguk lalu pamit pulang duluan.

Gue membuka pintu kamar Daryll sedikittttt supaya bisa mengintip ke dalam. Cowok itu berbaring di atas kasur. Matanya terpejam damai, kedua tangannya ditaruh di atas perut dan bibirnya bergerak tanpa suara. Melihat Daryll solat sambil tiduran menyentuh soft spot kecil dalam hati gue. Gemas banget.

Waktu selesai rakaat terakhir, cowok itu berdoa sebentar. (awwww :""""")) Dan waktu membuka mata, ia kaget melihat gue berdiri di ambang pintu, "Flo? Ko, lo ada di sini?" sebelum gue menjawab, cowok itu me-nyetting tempat tidurnya ke posisi duduk, "Sini, sini. Masuk aja, Flo."

Gue menggigit bibir bawah lalu masuk dan duduk di kursi kosong yang ada di sebelah tempat tidurnya. "Kok, lo tahu gue masuk rumah sakit, Flo?"

Gue enggak langsung menjawab pertanyaannya. Yang gue lakukan malah mencoba untuk menebak-nebak ekspresinya. Apa ia senang gue datang? Atau malah kecewa?, "Em.... Zio yang ngabarin gue kalau lo masuk rumah sakit. Makanya gue datang..."  Gue menggantungkan nada bicara gue, "Gue.... ganggu, ya?"

Cowok itu malah ketawa. Salah satu  suara yang paling gue suka di dunia ini adalah suara ketawanya Daryll Ferdinand Yogaswara, "Ya, enggak, lah. Santai aja lagi, Flo. Malah gue senang lo datang, jadi enggak sepi-sepi amat."

Gue senyum aja. Walau dalam hati belum seratus persen yakin kalau datang ke sini adalah sebuah keputusan yang tepat, "Kok lo bisa, sih, Ryll, masuk rumah sakit hanya gara-gara Milo?"

"Enggak pakai hanya. Milo bukan 'hanya'." Katanya serius, "Lagian, ini bukan pertama kalinya gue masuk rumah sakit gara-gara Milo. Dulu juga pernah."

"Kapan?"

"Udah lama banget. Belum lahir kali lo."

Gue mencubit lengannnya gemas lalu tertawa. Cara ngomongnya itu, loh. Ngasal banget!, "Kata dokter lo apa?"

"Dia selalu bilang kalau gue punya dua pilihan. Berhenti minum Milo sama sekali dan banyak-banyak minum air putih supaya gue sehat sepenuhnya, atau tetap minum Milo dengan resiko penyakit kambuh lagi."

"Terus lo memilih yang mana?"

"Yang kedua, lah! Makanya sekarang gue masuk rumah sakit lagi!" Cowok itu ngakak lalu geleng-geleng sendiri, "Hempas, datang  lagi.... Hempas, datang lagi...."  ia memiringkan tubuhnya supaya bisa memperhatikan gue lebih jelas, "Gue masih kaget lo ada di sini, Flo. Mana lo muncul habis gue solat lagi, gue pikir tadi Malaikat Izrail mau jemput gue."

Pingin banget rasanya menimpuk Daryll pakai remote TV, "Sialan lo!"

Cowok itu ketawa lalu menopangkan tangannya ke atas gagang tempat tidur dengan susah payah karena takut terlilit selang infus.

Waktu Zio mengabari kalau Daryll masuk rumah sakit, gue enggak membayangkan cowok itu akan terbaring lemah di atas kasur dengan kulit super pucat. Gue malah membayangkan Daryll tiduran di atas kasur rumah sakit dengan tampang bosan sambil mengutak-ngatik remote TV yang rusak, sambil misuh-misuh karena untuk beberapa waktu ke depan enggak bisa menikmati segelas Milo kecintaannya, "Lo akan dirawat berapa lama, Ryll?"

"Enggak tahu. Tapi dokter bilang gue harus menjalani pengobatan laser supaya batu ginjalnya luruh."

"Batu ginjal? Jadi ginjal lo, pun, udah membatu?"

"Iya kali." Daryll mengangkat bahu santai seakan sekarang ia hanya jatuh terluka dan lecet dibagian tumit, "Gue malas nanya-nanya. Ikutin aja, lah, dokternya bilang apa."

"Lo enggak takut?" Gue enggak tahu, sih, prosedur pengobatan laser seperti apa. Tapi pasti enggak akan menyenangkan.

"Milo selalu worth the pain." Daryll mengedipkan sebelah  matanya, "Terserah mau dilaser kaya apaan. Asalkan habis ini gue masih bisa minum Milo."

Gue berdecak khawatir, "Jangan minum Milo lagi, Daryll.... Kalau lo jadi gagal ginjal terus harus cuci darah, masih bisa bilang Milo itu worth the pain?"

Daryll memikirkan pertanyaan gue sebentar, pandangan cowok itu lalu berubah teduh, "Sesuatu yang lo suka, seberapa sempurnanya itu, pasti juga akan memberikan efek buruk buat lo. Makanya, gue selalu berusaha untuk enggak suka sama sesuatu sampai dalam banget." Ia membetulkan posisi duduknya hingga menghadap gue. Bibirnya  tersenyum lemah, "Tapi lama-lama gue jadi  berpikir, kalau it's actually nice to have something worth the pain."

"Karena?"

"Karena di dunia ini memang enggak ada yang sempurna dan hati kita ditakdirkan untuk terus mencinta. So, you have to deal with it," jawabnya serius.

Gue jadi pingin ketawa. Lo sadar enggak, sih, Ryll, kalau daritadi lo, tuh, ngomongin Milo? Kok, sampai berubah jadi dangdut gini? Jadi iri, deh, sama Milo. Pingin juga, dong, dibela-belain sama Daryll kaya gitu.

Cowok itu tiba-tiba menghela nafas, "Haduh, jadi hutang terima kasih dua kali gue sama Zio."

"Hutang apa?"

Daryll senyum ganteng, "Karena dia udah bawa gue ke rumah sakit, dan bawa lo ke sini." Seakan hal itu enggak cukup bikin jantung gue meledak, cowok itu mengangkat tangannya lalu mengelus rambut gue, "Ada daun."

Gue menyentuh puncak kepala gue, "Mana?"

Cowok itu ketawa casual lalu mengacak-acak rambut gue, "Bohong, dengggg!!!!"

Berbeda dengan Daryll, gue enggak pernah menyukai sesuatu sampai dalam banget. Kalaupun suka, yaudah suka-suka aja. Enggak pernah suka sampai harga mati seperti Zio pada Vanilla dan Daryll pada Milo, jadi gue enggak pernah tahu bagaimana rasanya. Tapi, ketika gue merasa jantung gue berpacu lebih cepat hanya karena melihat cowok di hadapan gue misuh-misuh karena selang infusnya terlilit, menggonta-ganti chanel TV dengan tampang bosan, dan tersenyum ketika melihat seekor burung hinggap di jendela kamar rumah sakitnya. Gue jadi belajar, kalau kata-katanya tadi memang benar.

It’s actually  nice to have something worth the pain

-

Zio.

Buku mewarnai gue sudah habis, tapi karena terlalu malas untuk membeli yang baru di toko buku, gue memutuskan untuk membeli buku mewarnai anak-anak yang  suka di jual di Indomart. Terakhir gue lihat mereka menjual buku mewarnai Cars.

Tapi waktu gue ke Indomart, buku mewarnai yang tersisa tinggal My Little Pony. Gue pingin balik lagi tapi BODO AMAT BENCONGGGGGGGGGGGGGGGGGG. Gue harus mewarnai sekarang sebelum syaraf di kepala gue keriting.

Sesampainya di rumah, gue mengeluarkan koleksi pensil warna gue dan mulai mewarnai. Orchid, Medium Violet Red, Alice Blue, Saddle Brown, Indian Red, Chartreuse, Sea Green.....

Gue jadi ingat, waktu pertama kali ketemu Flo di stasiun, cewek itu mengenakan sweater polos warna Indian Red dan sepatu kets warna Lemon Chiffon. Auranya masih maba banget, makanya gue kaget, kok, maba berani banget ngajak gue kenalan tapi pada akhirnya, gue enggak pernah  menyesali hari itu.

Gue mengambil pensil warna Corn Flower Blue lalu mulai mewarnai tubuhnya Rainbow Dash. Kalau gue punya pensil warna Bluebell Flower, gue pasti akan mewarnai semua kuda jadi-jadian ini dengan warna itu. Kalau sekarang hati gue dibelek, kayaknya warna darahnya Bluebell Flower juga, deh.

Gue tahu gue bodoh karena sudah berkali-kali membiarkan cewek itu lepas dari tangan gue. Tapi, bukannya dari awal, pun, Flo bukan milik gue? Sejak awal, dia sudah menyukai Daryll, begitu juga sebaliknya. Gue, lah, orang ketiga yang masuk ke dalam cerita mereka. Orang ketiga yang harus menanggung luka karena masuk ke dalam permainan yang bukan miliknya.

Mungkin gue enggak bisa masuk ke dalam ring. Mungkin tempat gue hanya duduk di bangku penonton. Tapi, bolehkan gue tetap ada di sini?

Sekarang gue bilang kalau gue suka Flo bukan karena gue enggak suka dia memilih Daryll.

Gue udah biasa bergaul dengan cewek dan sudah kenal dengan seluk-beluknya. Teman-teman cewek gue sering banget dengan entengnya merangkul-rangkul atau memeluk-meluk gue karena menganggap gue sama seperti mereka. Tapi Flo enggak pernah bersikap seperti itu. Dia enggak mengernyit setiap gue rempong pakai lipbalm atau menyemprotkan face mist. Dia tetap melihat gue sebagai laki-laki.

Gue suka setiap ia bercerita tentang kehidupan mabanya. Gue suka ketawanya setiap melihat gue memperagakan wajah menangisnya Kim. Gue suka melihatnya menggigit bibir ragu setiap melihat genangan air karena takut kepleset. Gue suka melihat senyumnya mengembang ketika menemukan layangan putus di langit.

Banyak alasan-alasan kecil yang bikin gue suka sama dia. Alasan-alasan kecil yang bikin gue enggak mau memberikannya untuk Daryll.

.

Karena gue mau dia.

.

***Bersambung***

 

 

 

Komentar
Signin/Signup

Selamat Datang di teen.co.id

Jika tidak dapat login/signup akun, silahkan kontak kami
Twitter: @teencoid, Facebook: TeenIndonesia, Email: teen@teen.co.id

Term & Condition