Cerbung: The Name of The Game (Chapter 9)

Cerbung: The Name of The Game (Chapter 9)

Adelina Ayu Lestari
Monday, 04 December 2017, 20:00:00 155 0 0
The Name of The Game, Chapter 9.
The Name of The Game, Chapter 9.

Chapter 8, click here

Zio.

Selain Shaien, teman dekat gue di jurusan itu Sharon. Yup, Shaien dan Sharon. Kaya nama anak kembar, ya? Kalau gue punya anak nanti, gue akan menamainya dengan huruf S dan H sebagai huruf depannya karena sahabat-sahabat gue sudah membuktikan kalau pemilik nama dengan huruf S dan H adalah orang-orang terbaik.

Sharon adalah cewek berkacamata kotak dengan rambut yang  selalu dikuncir satu. Berbeda dengan gue dan Shaien yang berkepribadian santai, Sharon agak kaku dan suka banget belajar. Kalau gue dan Shaien paling suka mendesign bangunan dengan warna-warna colorful, Sharon setia dengan warna monochrome dan abu-abu. Cewek itu punya obsesi tersendiri dengan bangunan-bangunan tua kumuh gaya Eropa. Salah satu impiannya adalah membeli salah satu bangunan kumuh di Kota Tua lalu mengubahnya menjadi perpustakaan kecil.

Jangan bilang-bilang, ya. Selain menyukai warna monochrome dan gedung tua, Sharon menyukai satu hal lain. Yaitu Daryll.

Sharon pemalu dan agak tertutup, makanya, mau seberapa sering gue ajak dia kenalan, cewek itu selalu menolak. Ia bilang, tanpa harus mengenal Daryll dan hanya bisa memperhatikan cowok itu setiap lagi makan di kantin aja dia udah senang banget. Lagian, daripada naksir, Sharon bilang, perasaannya itu hanya kagum.

"Bagaimana lo bisa kagum kalau lo bahkan enggak kenal dia?" tanya gue suatu hari. Sharon dan Daryll hanya saling mengenal nama tanpa pernah mengobrol sama sekali. Mungkin pernah sapa-sapaan beberapa kali. Itu, pun, gue harus menyenggol bahu Sharon dulu agar dia berani untuk mengucapkan 'Hai' yang hanya dibalas senyum singkat oleh Daryll.

"Lo enggak kenal Julia Roberts tapi lo kagum sama dia." Balas Sharon santai. Gue ingat cewek itu mengatakannya sambil mengelus seekor kucing yang sering dikasih makan sama Daryll, "Lagian, gue kagum dengan the idea of him. Bukan dia secara pribadi. Seperti yang lo bilang, gue enggak kenal dia."

"Maksud lo?" kenapa cewek ini selalu membuat hal simpel jadi ribet, sih?

Sharon berdehem, lalu memulai ceramahnya, "Daryll hanya dekat dengan beberapa orang, tapi, gue enggak yakin apa teman-temannya benar-benar kenal dan tahu dia. Termasuk lo." Telunjuknya menunjuk wajah gue, "Lo berkali-kali bilang kalau udah kenal Daryll dari SMP, tapi, lo pasti enggak tahu apa yang dia lakukan setiap malam minggu."

"Buat apa juga gue tahu?" gue menepis telunjuknya, "Lo kebanyakan teori. Kalau  naksir, mah, naksir aja."

"Lo sama sekali enggak mengerti nilai estetik dari misteri."

Oh my God, here we go agaiin...

Sharon menyenderkan punggung ke tembok kelas sambil diam-diam memperhatikan Daryll. Cowok itu sedang duduk-duduk di depan koridor bareng Bima dan Sam. Satu detik wajahnya serius dan jutek, namun sedetik kemudian, raut dingin itu meleleh oleh tawa karena entah apa yang dikatakan Bima, "Kebanyakan orang, -kecuali lo mungkin-, tertarik dengan sesuatu yang enggak bisa mereka pecahkan. Saat bertemu dengan hal seperti itu, seseorang akan menghabiskan waktunya untuk memecahkan hal tersebut. Buat gue, seseorang itu adalah Daryll. Mungkin, enggak cuma gue. Banyak, kok, cewek-cewek yang naksir dia karena cowok itu enggak bisa ditebak."

"Masa?" gue sok kaget. Padahal, Sharon bukan orang pertama yang mengatakan hal seperti itu. Teman-teman cewek gue  yang lain juga mengatakan hal yang serupa. Mereka mengagumi Daryll karena cowok itu misterius, cool, unpredictable dan sulit didekati. Dan, yup. Semua orang yang mengira kalau banyak cewek yang suka sama gue itu salah, mereka suka sama Daryll, bukan gue.

Makanya, gue bohong sama Flo. Gue bilang ke dia kalau 'Daryll homoan gue' padahal yang benar 'ZIO HOMOAN DARYLL' . Percaya, deh, penggunaan underline, italic dan bold  itu benar-benar menunjukan kalau kemanapun gue pergi, Daryll selalu berjalan satu-dua langkah di depan. Sementara gue tertatih-tatih berlari di belakangnya sambil berusaha menanggalkan title kalau gue adalah nomor dua.

Gue bahkan enggak dekat-dekat amat sama dia, makanya gue enggak mengerti kenapa orang lain suka banget membawa-bawa gue setiap mereka membicarakan Daryll. Enggak sekali gue mendengar orang lain bilang, 'Zio ganteng, tapi gue lebih suka Daryll','Daryll atau Zio? Daryll, lah. Zio, mah, enakan dijadiin temen aja','Kalau sama Zio nanti kalah 'cantik' dong hahahaha. Mending Daryll kemana-mana.'

Gue kasih tahu, ya, Daryll itu dari SMP sampai SMA enggak punya teman.

Gue yang berbaik hati menyapanya duluan dan sering mengajaknya makan bareng agar cowok itu enggak menghabiskan waktu istirahat sendirian di atap sekolah atau perpustakaan. Gue yang menawarkan menjadi pasangannya setiap mengerjakan tugas kelompok. Gue yang selalu meminjamkannya catatan karena cowok itu sering tidur setiap pelajaran. 

Seharusnya gue enggak usah mendengar omongan-omongan itu. Tapi, kalau lo udah mendengar hal-hal seperti itu dari SMA, munafik kalau gue bilang gue enggak kepikiran, dan lama-lama gue jadi berpikir apakah hal itu benar.

Gue harus gimana? Apa gue harus mengubah kebiasaan gue jadi kaya Daryll agar gue jadi nomor satu? Apa gue harus menahan diri setiap ingin curhat agar jadi misterius kayak Daryll? Apa gue harus menghentikan kebiasaan 'rempong' gue agar cewek-cewek itu berhenti menganggap gue sebagai salah satu dari teman perempuan mereka?

Gue tahu kalau seharusnya, gue tinggal menutup kuping dan berlagak enggak peduli. Tapi, gue enggak bisa berpura-pura kalau  gue enggak takut. Gue takut kalau suatu hari semua orang akan memilih Daryll. Gue takut suatu hari ditinggal karena enggak cukup baik. Gue takut kalau suatu hari, Shaien dan Sharon akan jadi lebih dekat dengan Daryll karena cowok itu santai dan cuek enggak rempong kayak gue.

I know I'm being a drama queen right now, but I'm just sick being his shadow.

-

Semester ini gue mengambil kelas eksternal bahasa Italia bareng Shaien di FIB. Ini pertama kalinya kami mengambil kelas di luar fakultas sendiri dan ternyata seru juga, lagian FIB dan Fakultas Teknik, kan, sebelahan jadi jaraknya enggak jauh-jauh banget, tinggal nyeberang jembatan Teksas, sampai, deh.

Oh, iya, gue belom cerita, ya, kalau papa dan bunda bertemu di jembatan Teksas?

Sama kaya gue, papa dulunya adalah mahasiswa arsitek di UI, sementara bunda adalah mahasiswa sastra yang lebih muda beberapa tahun darinya. Mereka sering enggak sengaja silang jalan saat sama-sama melewati Teksas, dan dari lirik-lirik manja, akhirnya papa memberanikan diri mengajak bunda kenalan.

Waktu gue membuka pintu kelas, ternyata sudah ada Lala dan Andra. Kedua cewek itu sedang mengobrol sesuatu lalu terhenti sebentar karena menyapa gue. Andra tersenyum lebar memamerkan deretan giginya, sementara Lala hanya tersenyum tipis.

"Sendirian aja, Yo?" tanya Andra ketika melihat gue menjatuhkan tas di belakangnya. Tanpa berpikir dua kali, gue tahu maksud tersembunyi dari pertanyaan itu.

"Shaien nanti masuk, kok, Ndra. Tapi, mungkin sedikit telat." Balas gue jahil. Semut di Ujung Kulon juga tahu kalau Andra tertarik sama Shaien.

Cewek itu hanya menampis malu dengan pipi merah. Bunda bilang, make up perempuan yang paling cantik adalah saat mereka sedang jatuh cinta, kalau laki-laki apa, ya?

 

"Kalau gue, setiap datang bulan biasanya sakit perut sama pusing-pusing gitu, sih. Apalagi kalau darahnya lagi keluar banyak banget, pasti jadi gampang lemes." Andra menyenderkan punggungnya ke tembok menghadap gue dan Lala, "Kalau udah begitu, biasanya seharian gue tiduran di kasur aja, tapi kadang suka kebablasan dan lupa ganti pembalut, akhirnya darahnya bocor sampai ke seprei."

 Cewek itu lalu ketawa, begitu juga Lala. Sementara gue cuma bisa bingung. Apanya yang lucu?

"Kalau gue, setiap datang bulan pasti nafsu makan jadi meningkat banget. Pokoknya, semakin banyak darah yang keluar, semakin banyak gue makan." Lala menimpali, "Pokoknya kalau  lagi dapet, selain sedia pembalut, gue juga harus sedia cemilan-cemilan karena kalau enggak bisa ngomel sepanjang hari."

Apa nyambungnya sama dapet? Itu, mah, lo ngomel karena emang laper, jangan nyalahin karena lagi datang bulan!

Gue enggak tahu mau menimpali apa jadi ikutan ketawa-ketawa aja.

"Oh, dan lo pasti tahu, kan, La, sakitnya datang  bulan saat hari pertama dan kedua?" tanya Andra antusias, "Semakin menggumpal darah yang keluar, sakit perutnya makin parah."

"Iya, gue sering kayak gitu, Ndra." Tanggap Lala, "Kadang sangking menggumpalnya, warna darahnya malah jadi hitam bukan merah."

Gue mengernyit jijik, tapi enggak menanggapi apa-apa. Toh, cowok-cowok juga sering membagi pengalaman mereka tentang coli dan sebagainya, tapi setidaknya  mereka enggak membicarakan hal seperti itu di depan cewek-cewek. Sure, hal yang mereka bicarakan hal yang  alami, tapi, kok, mereka nyaman  banget membicarakan hal begitu di depan cowok? Apa bagi mereka pun gue...

Andra siap ngomong lagi, "Oh, terus, La..."

Please, Ndra. I don't wanna hear anymore about your vajayjay.

"Menti gue juga hari ini izin enggak ikut kumpul maba karena sakit dapet. Tadi pas izin sama gue, mukanya pucet banget."

"Menti lo?" Alis Lala menyatu, "Si Flo?"

"Jadi lo mentornya Flo?" Kalau tentang ini gue baru mau dengar.

"Iya." Andra kelihatan ingin tertawa melihat reaksi kaget gue, tapi cewek itu cepat-cepat menyembunyikannya, "Kayaknya dia beneran sakit, jadi gue izinin dia buat enggak ikut kumpul."

Lala memutar bola matanya skeptis, "Lo yakin dia beneran sakit? Dia udah dua kali enggak ikut kumpul, loh, Ndra. Lo jangan baik-baik amat sama dia."

Habis itu, gue enggak begitu fokus lagi mendengar pembicaraan mereka. Gue mengambil handphone dari kantong dan mengirim pesan untuk Flo. Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya gue mengiriminya pesan. Sepulang nanti gue akan menuliskan tentang ini dalam buku Glad Game.

Zio: Lo sakit, Flo?

Flo: Sakit apa?

Zio: Andra bilang lo sakit makanya izin enggak ikut kumpul maba.

Flo: Lo lagi sama kak Andra?

Zio: Enggak, kok, Tadi enggak sengaja ketemu.

Flo: Ooooooh.

Flo: Gue enggak sakit.

Zio: Lo lagi dimana sekarang?

Flo: Lagi pergi. Kenapa?

Zio: Kemana?

Flo: Kepo amat.

Zio: Lo pergi sama siapa?

-

Flo.

Gue berjalan di belakang Daryll seperti anak ayam mengikuti induknya. Sudah dua puluh menit cowok itu mutar-mutar Uniqlo untuk beli kemeja, tapi enggak kunjung menentukan pilihan. Daryll bilang, nyokapnya protes karena Daryll selalu memakai baju yang itu-itu saja, akhirnya, beliau memaksanya untuk membeli beberapa potong pakaian baru. Dan mungkin sebelum lahir di bumi, gue pernah menolong malaikat tersandung sehingga bisa mendapat keberuntungan untuk menemaninya belanja.

Gue ingin melompat sampai atap gedung bolong waktu cowok itu mengajak gue menemaninya belanja. Pertama, gue senang bisa ketemu Daryll. Bahkan bertemu lima menit saja gue udah bersyukur banget. Apalagi diajak menemaninya belanja. Mungkin, ini bukan kencan. Gue bahkan enggak tahu ini apa. Tapi, gue selalu ingin merasakan pergi berbelanja dengan... orang yang spesial. Belanja baju kek, jengkol kek, apa aja, deh!

Daryll mengambil kemeja flannel kotak-kotak warna hijau. Memperhatikannya sebentar lalu menaruhnya kembali, "Ah, bingung gue." Katanya gusar, "Gue enggak bisa membedakan mana yang bagus dan jelek. Semua kelihatan sama."

Daryll yang terlihat clueless malah kelihatan menggemaskan di mata gue, "Memang lo butuhnya apa? Kemeja? Kaus?"

"Gue enggak tahu. Biasanya, nyokap dan kakak gue yang ambil alih soal beginian, gue tinggal terima aja. Hari ini baru pertama kali gue disuruh belanja sendirian." Daryll berjalan ke area kaus laki-laki bergambar karakter-karakter film. Tema karakter film yang diadopsi Uniqlo kali ini adalah Star Wars. Motif kausnya enggak jauh-jauh dari topeng Darth Vader, quotes-nya Yoda, lightsaber warna-warni dan siluet Chewbacca.

Daryll memperhatikan kaus-kaus Star Wars itu tanpa minat, lalu menunjuk kaus bermotif topeng Darth Vader dengan wajah datar, "Robocop."

 "Hahaha, bukan! Itu Darth Vader!" Gue tahu dia cuma bercanda, tapi tampang datarnya benar-benar bikin  gue mengira kalau dia benar-benar berpikir Darth Vader itu Robocop.

Daryll tersenyum manis (GEMESSSS) namun kembali gusar ketika melihat keranjang belanjanya masih kosong. Tampangnya seperti habis diberi mandat untuk membangun seribu candi, deh.

"Sini gue bantu." Gue mengambil keranjang belanja dari tangannya, "Coba lo berdiri yang  tegak, deh." Cowok itu kelihatan bingung, namun tetap mengikuti perintah gue. Mata gue lalu memperhatikan Daryll dari ujung kepala sampai kaki. Duh, kok gue jadi ikutan bingung, sih? Dengan badan seperti ini, pakai apa aja juga bagus! Daryll memang agak kurus, tapi enggak terlalu kelihatan karena bahu dan punggungnya lebar. Jadi, kalau pun pakai kaus lengan pendek, lengan kurusnya enggak terlalu kelihatan. Pakai kemeja apalagi, Cowok ini seperti karakter utama dalam novel Teenlit picisan setiap pakai kemeja flannel kotak-kotak. Which is PERRRRFECT.

"Gimana kalau lo beli kemeja flannel aja, Ryll? Bahannya nyaman tapi tetap kelihatan rapih." Gue menoleh ke rak kaus-kaus Star Wars tadi, "Atau kalau enggak mau kemeja, kaus-kaus Star Wars ini juga bagus. Warnanya hitam dan putih, jadi enggak neko-neko dan berisik."

"Gue enggak pernah nonton Star Wars, dan rasanya kaus itu jadi enggak ada seninya kalau gue bahkan enggak tahu apakah si Robocop itu karakter baik atau jahat." Daryll kembali berjalan ke bagian kemeja untuk ketiga kalinya, "Kemeja flannel memang paling aman, sih. Tapi, gue bingung mau pilih warna apa."

"Memang warna kesukaan lo apa?"

"Enggak punya warna kesukaan." Cowok itu mengangkat bahu, "Tergantung cocok atau enggak aja, sih."

Gue memutar bola mata. Pantesan milih baju aja lama banget. Cowok ini bahkan enggak memiliki tumpuan apapun untuk memilih, "Kalau begitu, diantara semua kemeja flannel ini, mana yang warnanya  kelihatan paling bagus buat lo?"

Kedua alis cowok itu menyatu. Dahinya berkerut-kerut, "Em................" tangannya menyentuh kemeja flannel warna hijau tua, "Gue suka ini. Tapi, gue udah punya kemeja warna hijau." Jarinya lalu berpindah pada kemeja flannel warna merah, "Ini juga bagus, tapi gue enggak cocok pakai warna merah. Merah terlalu loud buat gue." Entah kenapa gue pingin ketawa mendengarnya bilang begitu. Diam-diam ternyata memperhatikan penampilan juga, ya, "Gue udah punya semua warna kemeja di sini. Kecuali yang cokelat, tapi gue enggak begitu suka kemeja warna cokelat."

"Lah, yaudah kalau begitu enggak usah beli kemeja!"

"Kan, lo yang nyaranin buat beli kemeja!"

"Mana gue tahu kalau lo udah punya semua warna!" balas gue gemas, "Yaudah, beli kaus aja sanah."

Daryll menggeleng, "Gue enggak begitu suka motif kaus Uniqlo. Kaya bapak-bapak."

"Beli aja yang Star Wars. Kan motifnya anak muda banget."

"Tapi gue enggak pernah nonton Star Wars."

Gue mulai geregetan, "Yaudah. Lo beli kausnya sekarang, nanti sampai rumah langsung nonton filmnya."

"Tapi, gue enggak suka film sci-fi."

Kepala gue nyut-nyutan, "Oke. Beli sweater aja gimana?"

Gue pikir cowok itu akan menganggap ide gue brilian, tapi yang ada ia langsung menggeleng, "Gue udah punya banyak sweater."

"Kalau begitu kenapa nyokap lo masih nyuruh lo belanja?"

"Karena walaupun punya banyak baju, yang  gue pakai ya yang itu-itu lagi." Daryll ketawa mendengar nada frustasi gue, "Nyesel enggak, Flo, nemenin gue belanja?"

Enggak. Sama sekali enggak. Bahkan mau dibawa muter-muter sampai subuh pun jawaban gue tetap sama, "Jadi, lo mau beli apa dong?"

"Ganti toko aja, deh." Daryll mengambil keranjang belanja dari tangan gue lalu menaruhnya kembali ke tempat semula. Waktu cowok itu mengambilnya dari gue, tangan kami bersentuhan beberapa detik. Kontak fisik pertama untuk hari ini.

Kami keluar dari Uniqlo lalu mencari toko lain. Baru aja gue ingin menyarankan untuk melihat-lihat di H&M karena jenis bajunya banyak dan bermacam-macam, tapi, cowok itu malah diam melihat patung manekin yang di pajang di etalase sebuah toko. Patung manekin itu mengenakan oversized denim jacket bertuliskan Harley Davidson, "Jaket itu...  Persis kaya yang bokap gue pakai waktu dia masih kuliah." Katanya sambil terus memperhatikan jaket denim itu, "Gue pernah lihat fotonya di rumah kakek gue. Di foto itu, rambut bokap gue masih gondrong. Sebulan kemudian, dia dikenalin sama nyokap gue lewat temannya." Cowok itu tersenyum, "Bokap gue pernah bilang kalau di zamannya, jaket denim Harley Davidson itu  nge-trend banget. Gue jadi membayangkan beliau memakai jaket itu waktu jalan bareng sama nyokap gue untuk pertama kali."

Gue ikutan senyum. Matanya waktu menceritakan hal itu kelihatan hangat banget. Pemandangan yang langka dari seorang Daryll Ferdinand Yogaswara. Akan gue ingat baik-baik, "Mau beli jaket itu aja?"

Senyum cowok itu makin lebar, lalu mengangguk, "Iya."

Kami masuk ke dalam toko dan meminta ukuran jaket yang pas untuk Daryll. Waktu cowok itu mencobanya, gue langsung membuang muka biar dia enggak bisa tahu kalau wajah gue merah. Daryll kelihatan keren banget. Ia jadi terlihat lebih casual dan... Playful? Gue enggak tahu bagaimana cara mendeskripsikannya. Tapi, aura Daryll yang biasanya serius dan dingin langsung berubah hangat begitu memakai  jaket itu.

 Warna biru denim bikin warna kulitnya jadi lebih terang. Dan karena itu sedikit oversized, badannya jadi terlihat lebih berisi. Sangking terpesonanya, perut gue sampai sakit.

"Lo kenapa, Flo?" tanya Daryll begitu selesai mencoba jaket dan membawanya ke kasir.

"Enggak tahu. Tiba-tiba perut gue sakit." Jangan-jangan gue kualat karena sudah bohong bilang kalau gue sakit perut sama kak Andra.

"Lo laper kali." Tebak Daryll, "Atau lagi datang bulan?"

Gue menggeleng. Sial. Ini, mah, beneran kualat.

Setelah selesai membayar, gue dan Daryll keluar dari toko, "Lo mau pulang aja?" tanya Daryll. IIHHHH ENGGAK MAU!  Enggak mau pulang sekarang! Gue belum menyerah. Sakit perut ini bukan apa-apa, "Muka lo pucet banget, loh, Flo." Tapi perut gue melilit banget.... bukan melilit mules atau karena lagi dapet. Gue juga enggak mengerti sebabnya kenapa. Gue enggak pernah mengalami sakit perut seperti ini sebelumnya.

Daryll melihat gue  khawatir, "Ayo beli obat di Century." Tanpa menunggu jawaban gue, cowok itu memimpin jalan dengan kekuatan langkah turbonya. Gue tertatih-tatih mengikuti dari belakang. Maaf kak Andra. Aku janji enggak akan bohong lagi, deh.

Sesampainya di Century, Daryll membelikan gue sebotol air mineral dan obat sakit perut. Setelah minum, gue dan dia mencari tempat duduk kosong dan duduk-duduk di sana. Perut gue masih melilit, bahkan rasanya lebih parah dari sebelumnya. Sangking sakitnya, gue enggak berhenti memeluk perut erat-erat sambil menggigit bibir.

Gue enggak enak banget sama Daryll. Gue juga mengutuk diri gue sendiri. Kalau gue enggak sakit, pasti gue dan dia sekarang sedang sibuk mencari tempat makan yang enak atau ke toko CD lalu mendengarnya mengoceh tentang Sheila on 7. Atau minimal duduk di kedai es krim lalu melihatnya melahap es krim dengan rasa paling manis dengan lahap.

Kenapa perut gue harus sakit sekarang sih, ih! Tunggu sampai gue pulang ke rumah, kek!

Daryll kebingungan duduk di sebelah gue. Cowok itu daritadi hanya memperhatikan gue dalam diam. Gelagatnya gelisah tapi enggak bisa melakukan apa-apa.

Tiba-tiba, gue merasakan hangat telapak tangannya di punggung gue. Daryll enggak mengatakan apa-apa. Yang  ia lakukan hanya menepuk-nepuk punggung gue pelan. Tindakannya memang enggak membuat sakit perut gue mereda, tapi cowok itu seakan-akan mengatakan 'I'm here and I’ll take care of you.'

***Bersambung***

Baca juga: First Day of Summer 

Komentar
Signin/Signup

Selamat Datang di teen.co.id

Jika tidak dapat login/signup akun, silahkan kontak kami
Twitter: @teencoid, Facebook: TeenIndonesia, Email: teen@teen.co.id

Term & Condition