Nestapa di Kala Senja

Nestapa di Kala Senja

Calista Cayan
Wednesday, 15 November 2017, 17:30:50 121 0 0
Nestapa di Kala Senja karya Calista Cayan (dok. unsplash)
Nestapa di Kala Senja karya Calista Cayan (dok. unsplash)

            Suasana senja di awal bulan November, membuat Sharra lagi-lagi termenung. Setiap sudut ruangan menjadi saksi bisu mengapa ia bergeming dan tak mengucapkan sepatah kata. Ia masih berdiri sambil menatap ke arah jendela, di luar sana hujan. Tatapan matanya kosong--tidak berkedip sama sekali--dan napasnya berderu. Lehernya dibalut syal yang aku berikan saat hari ulang tahunnya. Rambut hitamnya halus dan bergelombang, sudah lama aku tidak menyentuhnya. Ia masih tampak cantik seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya.

            Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana pertemuanku dengan Sharra. Awal seluruh kisah kami dimulai. Saat itu, aku melihat Sharra sedang membaca sebuah buku di perpustakaan. Bukan hanya sekali aku melihatnya namun berkali-kali, bahkan aku sengaja mengunjungi perpustakaan hanya untuk melihat Sharra. Aku memberanikan diri untuk mendekat dan berkenalan dengannya. Ketika aku memperkenalkan diri lalu menjulurkan tangan, ia hanya tersenyum. Sebuah senyum manis yang tidak akan pernah terlupakan.

"Aku datang," kataku.

            Sharra tidak menoleh sedikit pun. Aku perlahan menepuk bahu Sharra, namun matanya berkaca-kaca. Ia masih bergeming menatap kosong ke arah jendela. Ia tidak biasanya murung seperti ini bahkan berdiam diri dengan waktu yang lama. Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang telah terjadi pada Sharra. Dengan perlahan aku menjauhinya. Mungkin ia membutuhkan waktu untuk menenangkan pikirannya.

Aku menghela napas, "Sharra, kalau suasana hatimu sudah membaik, beritahu semuanya padaku."

            Sharra tidak memberikan isyarat apapun. Aku masih menunggunya untuk berbicara. Suara isakan tangis memecah keheningan. Ia menangis tersedu-sedu, namun masih tetap berdiri di sana. Aku mendekat lagi, memegang bahunya--mencoba memberikan ketenangan. Kedua matanya dengan cepat menjadi sembab, telapak tangannya pun dingin. Aku mencoba merangkulnya, namun ia masih tidak ingin berpindah. Aku terus bertanya-tanya pada diriku sendiri apa yang telah aku lakukan terhadap Sharra hingga membuatnya menjadi begini.

            Aku mencoba mengingat lagi dua tahun yang lalu, ketika aku harus melanjutkan pendidikan di New Zealand dan berpisah dengan Sharra. Saat itu, rasanya begitu berat bagiku meninggalkan Sharra, padahal tidak ada kekecewaan pada raut wajahnya. Dengan riangnya ia selalu mendukungku. Ia juga tidak pernah mengeluh kepadaku tentang jarak di antara kami. Aku jatuh hati padanya. Ia berbeda di antara gadis lainnya. Kelemahlembutan hatinya membuat aku jatuh hati padanya. Kami merindukan satu sama lain dan aku telah menyelesaikan pendidikanku lalu kembali ke kota ini. Bukan hanya merindukan suasana kota ini, yang paling kurindukan adalah Sharra, gadis yang dengan setia menungguku kembali.

Baca: Berikut ini 5 Spot Keren untuk Menikmati Senja

            Suasana hujan saat senja membuatku teringat padanya. Saat itu, kami kembali dari sekolah setelah menyelesaikan tugas bersama. Namun, ketika kami sampai di persimpangan jalan, hujan mulai turun. Dengan sigap aku langsung mengambil payung dan memberikannya kepada Sharra, ia tidak mau menggunakan payung itu jika aku tidak menggunakannya juga. Akhirnya, kami menggunakan bersama-sama. Aku dengan jahil memercikkan air hujan ke wajahnya dan ia hanya tertawa dan membalasnya. Langit oranye menjadi saksi betapa bahagianya kami. Aku sangat merindukan Sharra dan aku tahu ia pun begitu.

"Sharra, kalau aku punya salah, beritahulah. Jangan berdiam diri, aku tersiksa melihatmu begini."

            Sharra menundukkan kepala dan masih tidak mau angkat bicara sedikit pun. Aku mengelus rambut gelombang halus miliknya. Ia masih terlihat cantik ketika sedang menangis. Matanya berbinar, bibirnya sedikit kering. Ia kembali menatap ke arah jendela dengan tangan kanannya menempel pada kaca. Ia masih tidak menggubrisku. Aku benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi padanya. Kami tidak pernah lost contact bahkan seminggu sebelum aku kembali ke sini, aku memberitahu Sharra bahwa aku akan kembali sesegera mungkin.

            Sharra hampir menggigil. Aku segera mematikan pendingin ruangan yang Sharra nyalakan saat itu dengan suhu di bawah duapuluh derajat selsius. Hujan deras di luar sana tak kunjung reda. Aku masih menunggunya berbicara. Mungkin, aku salah karena tidak memberitahunya bahwa hari ini aku sudah kembali sehari lebih cepat dari jadwal yang telah ditentukan. Tapi, rasanya tidak masuk akal jika ia menjadi begini hanya karena hal kecil seperti itu.

Baca: Aku dan Pohon Tua Itu

            Waktu menunjukkan pukul lima lewat tigapuluh menit, hampir satu jam kami hanya berdiam diri. Mungkin, ia memang tidak ingin berbicara padaku dan membutuhkan waktu serta ruang untuk sendiri. Sewaktu masa-masa kami sekolah, Sharra selalu menceritakan segala hal yang dialaminya kepadaku. Kalau ia sedang bercerita, terkadang aku hanya menatapnya dan bertopang dagu sembari tersenyum-senyum. Ia menggerutu, katanya aku tidak mendengarkannya. Wajahnya begitu lucu ketika sedang menggerutu. Aku selalu tertawa mengingat kejadian-kejadian itu.

"Aku mencintaimu, Ken," katanya.

Aku tersenyum, "Aku selalu mencintaimu, Sharra."

            Hujan perlahan reda. Sharra tidak mengucapkan kata-kata lagi selain itu. Ia berjalan menuju sisi tempat tidur dan menyeka air matanya. Dari dekat jendela aku masih memperhatikannya. Wajahnya menjadi sedikit lebih pucat, bibirnya masih kering. Lalu, ia bergegas pergi keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Aku tidak tahu apa yang ingin ia lakukan karena tidak memberitahu kepadaku.

"Sharra, tunggu!"

            Sharra tidak menggubris. Aku memanggilnya berkali-kali namun ia tidak mendengar. Aku mengikutinya tanpa diketahui. Langkahnya tidak begitu cepat juga tidak begitu lambat. Ia masih diam seribu bahasa dan tidak menoleh sedikit pun. Aku bertanya-tanya akan kemana Sharra dan mengapa ia terlihat terburu-buru. Padahal lima belas menit lagi bulan akan menampakkan dirinya. Aku sengaja mengikuti agar menjaganya jika sesuatu hal terjadi padanya. Aku memanggilnya lagi, ia masih tidak menoleh bahkan tidak menggubrisnya.

            Langkah kaki Sharra membawa kami ke salah satu makam. Ia lalu menangis. Aku terkejut ketika melihat nisannya tertulis namaku, Ken. Aku masih terpaku melihatnya. Sharra masih menangis. Kedua matanya kembali sembab. Bibirnya bergetar, seperti ada yang ingin ia ucapkan. Ia kemudian berdoa dengan khusyuk. Apakah ini nyata? Bagaimana bisa?

"Sharra pasti senang kalau aku kembali lebih cepat."

            Aku mengambil ponsel dan hendak menelepon Sharra, memberi kabar padanya bahwa tiga hari lagi aku akan kembali dan bertemu dengannya. Aku berpikir dua kali dan mengurungkan niatku untuk memberitahunya dan akan kuberikan ini sebagai kejutan untuknya. Ada bahagia bercampur haru karena ia sudah menunggu hingga aku akan kembali lagi. Aku sangat merindukannya, aku tahu ia pun begitu. Hingga akhirnya tiba hari yang kutunggu-tunggu, hari dimana aku akan kembali. Namun, firasatku tentang Sharra buruk. Aku berharap dan berdoa agar tidak terjadi apa-apa pada Sharra.

"Aku kembali, Sharra, aku kembali. Tunggu aku..."

            Aku sudah mengingatnya dengan jelas dan kini aku tahu mengapa Sharra terus membisu. Aku telah tiada karena kecelakaan yang menimpaku pagi hari tadi saat hendak bertemu dengan keluargaku. Aku belum bertemu dengan Sharra. Sebab inilah ia terhanyut dalam duka, hatinya telah hancur lebur.

"Ken, aku mencintaimu," lirihnya, "Aku pulang, ya. Semoga kau tenang di sana."

"Aku selalu mencintaimu, Sharra. Tapi maaf, aku tidak akan pernah kembali... Sharra, aku tidak akan pernah kembali."

Komentar
Signin/Signup

Selamat Datang di teen.co.id

Jika tidak dapat login/signup akun, silahkan kontak kami
Twitter: @teencoid, Facebook: TeenIndonesia, Email: teen@teen.co.id

Term & Condition