Cerbung: The Name of The Game (Chapter 6)

Cerbung: The Name of The Game (Chapter 6)

Adelina Ayu Lestari
Sunday, 12 November 2017, 20:00:00 125 0 0
The Name of The Game, Chapter 6
The Name of The Game, Chapter 6

Chapter 1-5

Daryll.

Gue enggak punya  banyak teman sewaktu kecil. Kebanyakan teman-teman gue itu sepupu-sepupu atau anak tetangga yang kebetulan mengambil kelas TPA yang sama seperti gue. Setiap istirahat, mereka enggak pernah absen untuk mengajak gue main slepet sarung atau jajan kue laba-laba. Gue selalu menolak ajakan pertama, tapi selalu menerima yang kedua.

Gue suka makanan manis. Sayang. Cinta.

Walaupun udah menampung tiga porsi nasi goreng sekalipun, gue enggak pernah menolak tawaran sepotong Tiramisu. Setiap mendekati lebaran, nyokap gue selalu misuh-misuh karena stok kue Putri Salju dan Lidah Kucing sudah ludes bahkan sebelum malam takbiran. Kalau beliau bertanya kenapa gue enggak kenyang-kenyang, gue tinggal menjawab, "Dessert doesn't go to the stomach, Bu. Dessert goes to the heart."

Kalau udah begitu, kakak perempuan gue, Zetta, pasti langsung nimbrung, "Kalau  begitu, kenapa ukuran dada lo masih kalah dari pantatnya Nicky Minaj?"

Selain makanan manis, gue juga punya affair sama milo. Baik diseduh atau langsung menggado bubuk-bubuknya, pun, gue enggak peduli. Asalkan itu milo, gue enggak akan bawel. Waktu gue kecil, sangking sukanya sama milo, nyokap gue sampai menyeduhnya di Tupperware segede dosa biar gue enggak bawel minta dibikinin lagi. Ujung-ujungnya, gue masuk rumah sakit karena kurang minum air putih.

Enggak selesai dengan itu, gue juga suka banget sama film dokumentasi, apalagi kalau bertemakan hewan ala-ala National Geographic. Gue ingat banget, waktu putus dari mantan gue yang terakhir, teman-teman dekat gue enggak berhenti untuk mengajak gue keluar kamar agar bisa menghirup udara segar, tapi gue malah menolak dan lebih memilih untuk menonton video kuda nil kawin dan melahirkan.

Buat manusia-manusia  skeptis dan malas mikir kayak gue, film dokumentasi adalah jawaban dari  semua permasalahan. Mereka menyajikan fakta dan enggak mengada-ada. Ditambah lagi kita enggak perlu menghafal nama dan wajah pemeran ataupun memikirkan jalan cerita.

"Film dokumentasi apa yang paling lo suka?" tanya Flo sambil mengaduk-aduk  isi tasnya. Dari tadi cewek itu enggak berhenti mencari-cari sesuatu dari dalam sana.

"Film dokumentasi tentang hewan, sih. Kucing, pastinya. Tapi  kalau nonton film yang ada kucingnya, gue harus baca spoiler-nya dulu. Kalau  kucingnya mati, gue enggak mau nonton." Kata gue sambil bergidik. Gue jadi teringat kematian kucing pertama gue, si Leo. Saking sedihnya, gue bolos sekolah tiga hari karena enggak bisa berhenti nangis.

"Gue selalu mengantuk tiap menonton dokumentasinya National Geographic di NatGeo." Komentar Flo sambil melangkah pelan-pelan agar enggak menginjak genangan air bekas gerimis tadi, "Emang lo nggak merasa bosen pas nonton gituan?"

"Bosen, tapi gue kurang suka film perang, thriller, action dan sejenisnya. Berisik." Membayangkan tujuh puluh persen film action yang diisi dengan suara tembakan pistol bikin jidat gue berkedut. Hal ini juga berlaku pada genre science-fiction. Gue enggak mengerti kenapa orang-orang gila banget sama Star Wars atau Star Trek. Rasanya seperti menonton game yang  sedang dimainkan anak kecil. Film bergenre  'mustahil' yang gue suka itu hanya Harry Potter. Who doesn't like Harry Potter, anyway? Pasti bukan manusia.

Flo mengangguk-angguk, "Lo enggak suka film horror, Ryll?"

"Muka gue udah cukup horror."

Cewek itu ketawa.

Waktu gue enggak sengaja melihat sebungkus popcorn tanpa merek yang dijual di koperasi  fakultas, gue langsung teringat Flo dan popcorn jolly team extra butter yang dulu ada di dalam tasnya. Jadi, gue iseng mengajaknya pulang bareng. Toh, kebetulan hari ini gue memang berniat untuk pulang  ke rumah, sekalian mengambil persediaan baju bersih karena  terlalu malas untuk membawa baju-baju kotor ke laundry.

Waktu  bertemu dengannya lagi di Tamling dua minggu lalu, gue seperti melihat sosok diri sendiri dua tahun yang lalu. Gue bisa melihat bayangan 'Daryll maba' duduk di sampingnya. Gue masih bisa mengingat perasaan asing dan kebingungan yang melekat waktu  pertama kali jadi mahasiswa. Gue enggak mengerti kenapa teman-teman seangkatan gue sebegitu semangatnya mendaftarkan diri untuk ikut UKM atau organisasi. Memangnya mereka enggak teringat dengan rasa ketoprak di kantin SMA atau wangi ruangan kelas dulu? Kemana perginya kenangan-kenangan itu? Kenapa hanya gue yang  masih terikat dan enggan meninggalkan cerita putih abu-abu?

Namun, saat itu gue beruntung karena masih ada Zio dan Shaien, wajah-wajah familiar yang bikin gue merasa kalau kampus bukan zona yang benar-benar asing. Tapi, Flo berbeda. Waktu di Tamling kemarin, cewek itu sempat bercerita kalau teman-teman SMA nya meneruskan kuliah di  kampus yang berbeda-beda. Dan sekarang ia benar-benar sendirian.

Gue  jadi membayangkan kalau gue sekarang masih maba, apa gue akan melakukan hal yang sama, duduk di sampingnya di Tamling kemarin dan mengajaknya kenalan, atau malah memilih menghindar karena ia orang asing?

-

Flo.

Where is my goddamn perfume?!!!!

Gue udah mengaduk-ngaduk isi tas selama lima menit dan enggak menemukan parfum kesayangan  yang selalu gue  bawa-bawa. Gue ingat sudah memasukkannya ke dalam tas hari ini. Kenapa sekarang enggak ada, sih?

Berjalan di sebelah Daryll ternyata bikin salting gila. Pertama, gue baru sadar kalau cowok ini wangi banget. Gue enggak bisa mendeskripsikan seperti apa wanginya. Bukan wangi bunga, buah, atau manis vanilla kaya Zio. Wangi tubuhnya mengingatkan gue dengan sabun mandi keluarga, putung rokok, dan desir ombak. Makanya, biar enggak kalah, gue juga harus wangi!

Selain itu, berjalan di samping cowok ini ternyata sukses bikin buku-buku jari gue dingin. Puncak kepala gue hanya melewati sedikit dari pundaknya. Jadi, gue harus sedikit mendongak setiap kali ia bicara, dan kalau  sudah begitu, kan, ia jadi bisa melihat wajah gue dengan lebih jelas. Gue enggak mau ia menyadari ada semburat merah di pipi gue yang enggak bisa disembunyikan.

Waktu pesan dari Daryll muncul di layar handphone gue, gue setengah berteriak saking kagetnya.

Bagaimana enggak? Cowok ini santai banget. Setelah enggak menghubungi sama sekali selama dua minggu, tiba-tiba aja ia mengirim pesan yang  kelewat santai.

Enggak ada, tuh, basa-basi seperti, 'Hai, Flo. Ini gue Daryll, yang kemarin ngajak kenalan di Tamling.' Atau 'Hai, Flo. Masih ingat gue enggak?'. Yang  ada, cowok ini langsung to the point bertanya, 'Mau pulang bareng enggak?'

Mau? Ya, mau, lah!

Setiap hari gue menunggu-nunggu kapan bisa bertemu cowok ini lagi, dan saat kesempatan itu datang, gue enggak akan menyia-nyiakan sepeser pun. Sebenarnya hari ini gue masih ada kumpul maba, tapi gue berbohong sama Kak Andra, bilang kalau nenek gue baru aja meninggal. Padahal  beliau memang udah meninggal bahkan sebelum  gue lahir.

Gue senang banget bisa mengetahui beberapa hal tentang dirinya. Tentang milo yang menjadi drug of choice-nya dan kecintaannya pada film dokumenter. "Nonton film dokumenter itu kaya minum air. Lo enggak perlu ngunyah. Semua informasinya dikasih blak-blakan." Jelasnya, "Kalau ada yang bikin film dokumenter tentang Sheila on 7, kelar udah hidup gue."

Gue bisa membayangkan sosoknya, menonton film dokumentasi sendirian di kamar, ditemani segelas milo hangat sambil meringkuk dalam selimut tebal. Gue membayangkan matanya yang sayu terkantuk-kantuk, dan senyum iritnya muncul saat melihat kucing dalam layar.

Sebenarnya gue kaget juga begitu tahu Daryll enggak suka film action. Gue pikir, cowok itu akan menyembah-nyembah film The Godfather dan sejenisnya, ternyata, ia penggemar setia National Geographic. Gue juga kaget waktu  tahu kalau ia lebih milih kucing daripada anjing. Seriously, who chooses kittens?  Lagian, gue lebih bisa  membayangkan Daryll lari pagi ditemani dengan seekor German Shepperd raksasa daripada bermain bola karet dengan anak kucing.

"Awas, Flo." Daryll menarik lengan gue mendekat ketika ada sepeda motor yang melaju dengan kecepatan tinggi dan menciprati genangan air. Cowok itu melempar tatapan pembunuh pada pengendara sepeda motor tadi, lalu kembali menatap gue, "Celana lo basah nggak?"

"Enggak, kok." Jawab gue pelan. Padahal dalam hati mau pingsan karena merasakan telapak tangannya memeluk lengan gue, "Makasih."

Cowok itu mengangguk cepat lalu kembali melangkah untuk menyebrang. Gue juga baru tahu kalau Daryll jalannya cepat banget. Cowok itu sepertinya enggak sadar kalau gue ngos-ngosan mengikuti langkah kakinya.

Begitu sampai di stasiun, kami mencari sandaran tempat duduk kosong lalu menyandarkan punggung di sana. Daryll bilang, sandaran tempat duduk ini dulunya berupa bangku panjang yang memang bisa diduduki, entah apa yang merasuki direktur KRL hingga merubahnya menjadi sandaran tempat duduk yang mirip jemuran handuk.

Gue jadi berpikir, kalau Daryll sedang ingin pulang ke rumahnya seperti hari ini, ia lebih sering pulang sendiri atau bersama teman? Kalau yang kedua, teman laki-laki atau perempuan? Kira-kira orang seperti apa, ya, yang bisa dekat dengan cowok seperti dia?

"Lo tahu enggak kenapa di rel kereta banyak batunya?" tanya Daryll tiba-tiba. Cowok itu menyilangkan lengannya di depan dada. Matanya fokus menatap peron seberang. Kalau gue enggak mengenal dia, gue pasti berpikir cowok ini sekarang sedang bad mood. Padahal memang cetakan wajahnya seperti itu.

"Hmmmmmmmmm, enggak tahu." Iya juga, ya. Kenapa rel kereta enggak memakai aspal atau tanah aja? Siapa tahu suara lajunya jadi enggak terlalu berisik.

"Karena rel kereta butuh sesuatu yang solid untuk menampung beban kereta. Kalau pakai aspal bisa retak."

"Kan, bisa pakai tanah." Balas gue sok pintar.

"Menurut lo? Aspal aja bisa retak apalagi tanah." Jawabnya sewot. Selain wajah jutek, nada sewot dan galaknya itu juga udah cetakan dari sananya, "Mereka pakai batu karena batu itu solid dan kuat, jadi enggak akan retak atau hancur."

"Itu pengetahuan anak mesin?"

Cowok itu tertawa irit, "Pengetahuan umum."

Walau pun wajahnya dingin dan nada bicaranya sewot, kalau udah ketawa, Daryll bisa mencairkan kutub utara. Jangan-jangan cowok ini salah satu penyebab global warming.

Beberapa meter dari tempat kami berdiri, ada segerombolan cewek-cewek yang sedang bergosip tentang sesuatu lalu tertawa keras-keras. Gue pikir, cowok di sebelah gue ini akan berkomentar sewot soalnya kalau dari yang gue tangkap dari alasan mengapa ia enggak suka film perang dan action, Daryll sepertinya tipe orang yang menyukai ketenangan. Tapi, bukannya mengeluarkan nada sewot andalan, cowok itu malah ikutan ketawa.

"Kok, tiba-tiba ketawa," tanya gue bingung.

"Enggak apa-apa." Jawabnya masih sambil tersenyum (akh), "Gue suka ngeliat cewek-cewek kalau lagi heboh."

"Kenapa?"

"Kelihatannya seru banget." Daryll memperhatikan segerombolan cewek-cewek itu, "Gue jadi menebak-nebak mereka lagi gosipin apa."

Dasar aneh.

"Eh, kayaknya  dia kehausan." Seru Daryll tiba-tiba. Cowok itu membuka ranselnya cepat-cepat, mengambil sebotol air darisana lalu berlari menuju seekor kucing yang sedang mengais-ngais aspal. Daryll menuangkan sedikit air ke dalam tutup tempat minumnya lalu menaruhnya di dekat kucing itu, "Tuh kan, diminum."

Gue enggak bisa menahan diri untuk tersenyum, "Kok, lo bisa tahu kalau dia kehausan?"

"Gue, kan, keturunan Nabi Sulaiman." Balasnya asal. Cowok itu terlalu fokus memperhatikan mamalia berkaki empat itu menjilati tutup botol minumnya.

"Kucing, tuh, enggak pernah ngedip, ya?" tanya gue penaran. Daryll sekarang udah duduk di lantai aspal sambil terus mengelus setiap sisi tubuh binatang beruntung itu.

"Mereka ngedip kalau mereka udah nyaman sama lo." Daryll mengangkat kucing itu lalu memeluknya. Aduh enggak kebayang tuh kumannya sebanyak apa.

"Gimana lo bisa tahu?"

"Udah gue bilang kalau gue itu keturunan Nabi Sulaiman." Daryll mencium pipi mungil kucing itu, lalu berseru "Tuh, Flo, lihat! Dia ngedip!" Cowok itu menghadapkan kucing berwarna oranye itu kearah gue. Matanya membulat dan wajahnya kegirangan, gue enggak pernah melihat Daryll berekpresi seperti itu sebelumnya, "Lihat, dia ngedip! Dia nyaman sama gue!"

Gue enggak bisa membalas apa-apa selain tertawa. Dasar aneh. Wajahnya dingin, tapi ternyata penggemar makanan manis. Enggak suka film action karena berisik, tapi suka melihat cewek-cewek tertawa heboh. Sering sewot dan ngomel, tapi luluh begitu melihat seekor kucing.

Daryll Ferdinand Yogaswara, The Book of Shadow.

 

*** Bersambung ***

Baca juga: Time Capsule

Komentar
Signin/Signup

Selamat Datang di teen.co.id

Jika tidak dapat login/signup akun, silahkan kontak kami
Twitter: @teencoid, Facebook: TeenIndonesia, Email: teen@teen.co.id

Term & Condition