Kaghati, Layang-layang Pertama di Dunia Ternyata Berasal dari Indonesia!

Kaghati, Layang-layang Pertama di Dunia Ternyata Berasal dari Indonesia!

Ema Aprilisa
Wednesday, 19 April 2017, 10:11:37 6343 0
dok. Khairiyah Sartika (@tikasyofian) // teen.co.id
dok. Khairiyah Sartika (@tikasyofian) // teen.co.id

Layang-layang dikenal sebagai salah satu alat permainan tradisional tertua di dunia. Benda ini begitu populer di banyak negara. Meski belum diketahui siapa penemunya, Tiongkok tercatat sebagai negara asal layang-layang pertama di dunia.

Bukti otentik tentang layang-layang dari negeri tirai bambu ini diperkirakan telah ada sejak 2.800 tahun lalu. Namun fakta ini terpatahkan ketika seorang ahli layang-layang internasional Wolfgang Bieck, menemukan bukti lain bahwa layang-layang pertama di dunia adalah Kaghati, layangan khas Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.

Berdasarkan penelusuran Wolfgang, ditemukan sebuah gambar seorang laki-laki yang sedang menerbangkan layangan di dalam dinding Gua Sugi Patani. Keberadaan lukisan layangan di Gua Sugi Patani ini diperkirakan berasal dari masa 9000 - 5000 SM, artinya lebih tua dibandingkan temuan usia permainan layang-layang dari Tiongkok.

Berdasarkan penelitian yang dimulai sejak tahun 1997 tersebut, Wolfgang mengklaim bahwa layang-layang pertama di dunia berasal dari Pulau Muna. Di pulau tersebut, masyarakat lokal memiliki bentuk layang-layang tradisional khas yang bernama Kaghti. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan pada sebuah majalah di Jerman bertajuk The First Kitman pada 2003.

en.gocelebes.com
en.gocelebes.com

Ketertarikan Wolfgang pada Kaghti berawal pada sebuah event layang-layang internasional Berck sur Mer yang diselenggarakan di Perancis tahun 1997. Kaghati keluar jadi juara pertama dan berhasil mengalahkan Jerman. Padahal layangan tradisional yang mewakili Indonesia pada event tersebut hanya berasal dari lembaran daun. Kehebatan kaghati inilah yang membuat pecinta layang-layang asal Jerman ini menelusuri keberadaan dan bagaimana layang-layang ini dibuat.

Kaghati dibuat secara tradisional oleh masyarakat Pulau Muna dengan bahan-bahan alami, antara lain daun kolope atau ubi hutan sebagai bahan utama layarnya, kulit bambu sebagai rangka, serat nanas hutan yang sudah dipintal sebagai talinya. Semua bahan diolah secara alami sehingga menghasilkan layang-layang yang tahan air. Ukuran yang presisi layangan tradisional ini mampu membuatnya terbang tinggi dan mengudara selama berhari-hari. Ketangguhan layang-layang seukuran orang dewasa ini memikat banyak pecinta layang-layang terutama dari Eropa.

Masyarakat lokal Sulawesi biasanya menerbangkan Kaghati setelah panen raya. Kita juga bisa menyaksikannya mengudara mulai bulan Juni hingga September, karena pada bulan-bulan tersebut angin timur bertiup kencang sehingga inilah waktu yang tepat menerbangkan layang-layang.

Last Editor : Khairiyah Sartika
loading...
Komentar
Signin/Signup

Selamat Datang di teen.co.id

Jika tidak dapat login/signup akun, silahkan kontak kami
Twitter: @teencoid, Facebook: TeenIndonesia, Email: teen@teen.co.id

Term & Condition