Cerbung: The Name of The Game (Chapter 30)

Cerbung: The Name of The Game (Chapter 30)

Adelina Ayu Lestari
Friday, 11 May 2018, 19:30:00 297 0
The Name of The Game, Chapter 30.
The Name of The Game, Chapter 30.

Chapter 29, read here. 

Fabrizio: Ini lo waktu enggak dengarin omongan gue.

Fabrizio:

Fabrizio: Ini lo waktu OTW balikin jaket.

Fabrizio:

Fabrizio: And this is how I react to your stupid decision

Fabrizio:

Fabrizio: You're doing amazing, dahling.

Flo: Hahahahaha.

Flo: Lo marah sama gue ya, Yo?

Fabrizio: Kenapa gue harus marah?

Flo: Soalnya gue bego.

Fabrizio: Lo ini yang bego bukan gue.

Flo: Hahahaha iya juga ya.

Fabrizio: Udah puas sekarang?

Fabrizio: Masih ada yang perlu lo tahu?

Flo: Engga kok.

Flo: Udah cukup.

Fabrizio: Let's see.

Flo: Ih, beneran.

Flo: Enggak ada yang perlu gue tahu lagi karena Daryll udah ngomong langsung sama gue, Yo.

Flo: Enggak ada lagi 'What if?'

Flo: Kemarin, gue enggak bisa berhenti mikirin kemungkinan kalau mungkin aja Daryll suka sama gue dan hal itu yang paling bikin gue galau, Yo. Gue enggak bisa diam selama masih mikir kalau gue punya kesempatan.

Fabrizio: Kan gue udah bilang kemarin sama lo. You have to love yourself enough to not tolerate your wishy washy feelings.

Flo: Iya tahu.

Flo: Tapi gue enggak bisa.

Fabrizio: Bullshit.

Fabrizio: Di dunia ini enggak ada yang enggak bisa, adanya enggak mau.

Fabrizio: Bruce Jenner aja bisa berubah jadi Cathlyn Jenner. Muhammad Fatah bisa berubah jadi Lucinta Luna. Masa mencegah diri sendiri buat enggak ngelakuin hal bodoh aja enggak bisa?

Flo: Tuhkan. Lo marah kan sama gue, Yo?

Fabrizio: Nanya mulu lagi sistah. Emang kita ni guru sempoa?

Flo: Hahahaha.

Fabrizio: Gue enggak marah, cuma enggak habis pikir aja.

Fabrizio: Di dunia ini cowok ada banyak banget yet you are obsessed with one dick who won't text you back.

Flo: Dick banget, Yo?

Fabrizio: Emang Daryll bermeki?

Flo: Hehehehehe enggak sih.....

Fabrizio: *sigh*

Fabrizio: How do you feel right now, babygurl?

Flo: Sedih dikit, tapi lega banget, Yo.

Flo: At least sekarang gue berhenti bertanya-tanya.

Fabrizio: Makanya jangan gangguin suami orang.

Fabrizio: Enggak cukup tuh duit yang gue kasih buat lo?

Flo: Buat beli cabe aja enggak cukup!

Fabrizio: Hahahahaha.

Fabrizio: Jangan macem-macem lagi ya, Flo.

Fabrizio: Hadapi kegalauan eneeeehhh dengan martabat dan elegan!

Flo: Hahahaha sialan lo! Kesannya  gue kriminal aja macem-macem!

Fabrizio: Lagian sih lo! Dasar wanita drama!

Flo: NGACA!

Fabrizio: Hahahahaha.

Fabrizio: Refreshing lah shaaaaayyyyyy.

Fabrizio: Biar enggak puspita itu kepala yetiiiii

Flo: Hahahaha ayuk lah!

Flo: Kemana ya enaknya?

Fabrizio: Ke istana keelitan manjah gue aja yuk.

Flo: Dimana tuh?

Fabrizio: Food hall.

Flo: Si anjir.

Fabrizio: Jadi menurut lo super market enggak seru?!!!!

Flo: Seru kok! Sensitif deh yeti!

Flo: Eh, Yo, gue menemukan meme yang gue banget.

Flo:

Fabrizio: Itu buat gue keleus.

Flo: Lo mah  ini.

Flo:

Fabrizio: Ngentiaw.

Flo: Hahahahaha.

Flo: Tapi serius nih.

Flo: Pingin deh dapat laki begitu.

Fabrizio: Just sit back and relax, honey.

Fabrizio: Because he's on his way.

Fabrizio: As fast as he can.

-

Flo.

Asli, kalian mesti banget cobain grocery shopping sama Zio! Cowok itu cocok banget deh jadi duta super market se-endonesaaah! (Ngikutin cara bicara manjah dia! Hihihihi) Entah kenapa, ocehannya tentang makanan ringan dan bumbu dapur bikin acara grocery shopping seperti main ke Disney Land. Dalam dua puluh menit, gue sudah hampir terpeleset dua kali, lari-larian mengambil bungkus terakhir keripik kentang dan bolak-balik mencoba sample  gratis. Seru banget!

Zio juga tahu banget mana makanan dan minuman enak yang mesti kita coba. Seperti Bruggen Sunny Granola Bar ("Asli merek ini susah banget nyarinya, Flo! Makanya kalau nemu harus langsung beli. Gue sih paling suka yang rasa stroberi."), Kettle Brand Potato Chips ("Potato chips sejuta umat lah yeeeee.... Apa? Lo enggak pernah nyoba, Flo? Wagelaseeeh, enggak boleh temanan sama gue nih kalau belum nyobain ini! Nih, cobain yang rasa Honey Dijon!" ), Snack Pack Puddin ("Udah ambil aja yang rasa vanilla! Lo percaya rekomendasi gue kan, Flo?"), dan Mark & Spencers Cookies ("Kesukaan bunda nih! Kata doi sih sehat.... Yang  Maple Syrup & Pecan manisnya pas, Flo!")  

"Gue tuh suka banget perasaan membuka bungkus cemilan baru yang enggak pernah gue coba, Flo. Kaya.... ih, rasanya bakal kaya apa ya? Gue bakal suka enggak ya?" Zio memasukan mie instan yang nama mereknya bahkan enggak bisa dia baca ke dalam trolly, "Gue pernah nyobain Potato Chips merek Torres yang rasa Caviar. Rasanya enggak ada bedanya sama Lays yang rasa rumput laut! Mana mehong lagi!"

Gue takut banget deh pipis di celana gara-gara ngakak ngelihat ekspresi lebai Zio setiap lagi cerita, "Terus-terus, lo pernah beli cemilan apa la-"

"Zio? Ini Zio kan?" Seorang cewek berkulit tan dengan badan super seksi menepuk bahu Zio. Cewek itu mengenakan atasan lengan buntung warna biru muda dan celana jeans panjang sobek-sobek yang pas banget melekat di kaki panjangnya, "Ya ampun, Yo! Ini gue Della! Ngenalin enggak?"

"Della? Della IPA-II? AAAAAKKHH!" Zio berteriak manjah, "Anjrit! Udah lama banget beb enggak ketemu! Apa kabar lo, Del?"

"Ih, Zioooo! Ya ampun ini beneran lo kan?" Cewek bernama Della itu menghambur memeluk Zio erat-erat. Gue mundur selangkah. Takut mengganggu reunian mesra mereka, "Yo, lo tahu enggak sih dari awal lo masuk Food Hall gue tuh udah ngelihatin elo! Tapi gue ragu nyapa soalnya kok sekarang lo jadi manly sih?!"

Zio ketawa. Enggak ada raut tersinggung sama sekali di wajah gantengnya. Cowok itu menjawil lengan atasan Della, "Eh, pewong! Udah lama enggak ketemu bukannya makin sopan, malah makin ketat aja baju lo!"

"Biarin dong! Biar dilirik sama cowok ganteng kaya lo, yhakaaaaaan!" Della ngakak, "Eh, gue ke sini sama Fira juga loh! Gue panggilin ya!" cewek itu menghilang di balik rak minuman lalu kembali bersama cewek mungil super imut yang  langsung berlari begitu melihat Zio.

"FIRAAAAAAAAAA!" Zio menggendong Fira sampai cewek itu teriak-teriak ketakutan. Rusuh banget! Gue jadi takut mereka ditegur satpam, "Ih, kesayangan gue! Masih kecil aja badan lo, Ra!"

"Lo juga masih aja cucok meong, Yo!" Fira mencubit pipi Zio gemas, "Ih, biarin deh yang penting masih gantenggggg!"

Lagi, Zio ketawa doang. Entah karena dia sudah terlalu biasa atau karena cewek-cewek ini teman-temannya jadi memang enggak punya niat buat ngatain but still..... How do you that, Yo? Emang lo enggak merasa cekit-cekit sedikit setiap kali mendengarnya?

"Eh, baes kenalin nih teman gue!" Zio merangkul gue, "Namanya Flo. Dia teman kuliah gue." katanya, "Flo, ini Della sama Fira. Teman SMA gue!"

"Yaaaah, gue pikir Flo cewek lo, Yo! Pacaran kek, Nyet! Enggak capek lo digodain om-om mulu?" celetuk Della setelah salaman sama gue, "Eh, lo di UI kan, Yo? Ampun deh! Sama Daryll lagi dong! Udah punya berapa anak lo sama dia?"

Gue ngakak. Zio dan teman-temannya sama aja!

"Dua. Bentar lagi masuk SD nih. Doain ya guys!" Zio merangkul kedua temannya, "Ih, sombong lo berdua! Jalan-jalan enggak ngajak gue! Males ah!"

Fira menoyor kepala Zio, "Eh, bencong! Lo tuh yang kalau diajak jalan habis ngampus enggak bisa mulu!"

Zio membalas menoyor cewek itu, "Gue kan kuliah di Depok, jablaaai! Mati di jalan gue kalau nongkrong abis ngampus! Weekend aja dong sleepover di rumah gue! Pada enggak kangen apa sama masakan bunda?"

Della melompat kegirangan, "Kangen banget! Duh, jadi ngidam deh  gue sama ayam goreng ala bundadari yang kacidaaahhhh raosnaaaa!"

Terus mereka ngobrol-ngobrol bentar. Gue enggak ikutan sih, cuma dengarin di pinggir aja,

Fira: Yo, lo enggak mau operasi di Thailand aja biar jadi kaya Melani Ricardo? (sambil elus-elus rambut Zio)

Della: (memutar bola mata lalu noyor Fira) Melani Ricardo itu cewek tulen, silly..... Lucinta Luna kali maksud lo?

Zio: (menjitak kedua temannya) Kenapa pada pingin banget gue jadi cewek sih?

Setelah puas ngobrol paciweuh, Della minta tolong gue untuk mem-boomerang mereka bertiga. Zio di tengah, diapit oleh Della dan Fira yang memeluk cowok itu manja. Setelah puas, mereka bertiga berpelukan sekali lagi sebelum berpisah di kasir.

Gue jadi penasaran. Waktu Zio memeluk gue di kereta... Waktu Zio memeluk gue dari belakang di depan rumah...  Setiap pegangan tangan dan rangkulan cowok itu, apa memiliki arti yang sama seperti saat ia memeluk Della dan Fira?

"Teman-teman lo cantik banget ya, Yo." Gue berjalan di samping Zio yang sedang mendorong trolly. Kami memutuskan ingin makan es krim dulu sebelum pulang, "Apalagi yang namanya Della itu. Seksi banget! Lo enggak mau macarin dia aja?" Della dan Zio terlihat cocok banget waktu berdiri sebelahan. Seperti pasangan model.

"Si Della? Yakali deh. Males banget! Gue udah tahu busuk-busuknya dia kaya apa, lagian dia juga ogah kali sama cowok kaya gue!" Zio membuka plastik sweet potato chips rasa maple lalu mencobanya sebuah. Matanya membulat, "Enak banget! Cobain deh, Flo."

Gue mengambil satu, lalu ikutan mencobanya. Enak! "Ko, bisa Della enggak mau pacaran sama lo? Wong, dari tadi dia muji-muji lo ganteng terus ko."

"Ganteng bisa apa kalau kelakuan gue begini, Flo?" Zio berhenti di depan counter The Body Shop untuk mencium lotion vanilla di depan etalase, "Gue bahkan lebih gay daripada cowok gay."

Gue mencari ke-bitter-an dari nada bicaranya, tapi enggak menemukan apa-apa. "Maksud lo, Yo?" Kenapa lo bisa ngomong sesantai itu?

"Enggak usah sok polos deh, Flo. Lo kenal gue udah lumayan lama kali. Emang lo enggak pernah mikir aneh-aneh tentang gue?" Zio mendorong trolly ke arah Aroma Gelato lalu memesan satu scoop gelato rasa vanilla untuknya dan cookies n cream untuk gue. Yum! "Wajar sih kalau mereka mengira gue apose-aposeeee. Sadar diri aja sih gue...." 

Gue menarik kursi berwarna putih khas Aroma Gelato lalu menempatkan trolly belanjaan tepat di sebelah gue biar enggak hilang, "Terus lo gimana, Yo?" Gimana caranya lo deal with yourself dan enggak baper mendengar omongan apose-apose itu?

Zio menyuap gelato nya, "Ya, enggak gimana-gimana, Flo. Masa lo mau bekap mulut semua omongan orang tentang lo? Lo itu enggak bisa memerintah lautan tapi lo bisa mengontrol perahu yang lo naiki." Kakinya bergerak kesenangan setiap menyuap rasa gelato kesukaannya. Lucu, "Lagian, hidup jangan terlalu kaku saaaaay. Orang-orang juga butuh ketawa kali. Lemesin aja yakaaaan."

 Cowok itu mencampur sweet potato chips rasa maple tadi ke dalam gelato nya. Lo selalu punya cara-cara unik untuk bikin semua hal kecil jadi seru deh, Yo, "Plus, ngetawain diri sendiri itu seru loh! Never take yourself too seriously. Biar enggak boring-boring amat hidup  lo."

Gue ketawa, padahal Zio enggak sedang melawak. Gue doain semoga cowok ini banjir pahala karena sering membuat orang lain tertawa.

Oliv pernah bilang, "Coba Zio lakian sedikit ya, Flo. Pasti perfect banget deh" tapi gue enggak setuju ah! Kalau Zio bukan dirinya yang sekarang, ia enggak akan sedewasa ini. Sisi 'cucok meong' nya lah yang membuat cowok ini jadi sangat open minded, lebih dewasa, banyak belajar dan menjadikannya salah satu advicer paling baik yang  pernah gue temui.

"Tahu enggak, Flo? Gue pernah loh muntah karena kebanyakan makan es krim vanilla. That was kind of guy I am. So weak and fragile..."  Cowok itu pura-pura mengelap air mata di pipinya.

Gue tersenyum. You really are a gentleman, aren't you, Gevanny?

-

 

Zio.

Dasar duduuuuuuuuuuuul! Ngapain coba gue peluk-peluk Della sama Fira di depan Flo? Sharon bilang, bukannya gue enggak boleh memperlakukan teman-teman cewek gue seperti biasanya tapi setidaknya di depan Flo, gue harus menahan diri supaya cewek itu enggak merasa kalau perlakuan gue ke dia dan teman-teman cewek gue itu sama!

"Eh, Yo, si Ka Shaien apa kabar? Gimana tuh dia sama ka Andra? Baik-baik aja kan?" Flo melompat masuk ke jok depan setelah menaruh barang-barang belanjaan kami di jok tengah. Rencananya kami mau nyobain cemilan-cemilan ini bareng-bareng di rumahnya. Yihaaaa!

"Oh, si Shaien...." Ah, Shailendra dan Candrarupa Andara Senayan. Poor them, "Ya.... Enggak apa-apa sih.... tapi ya.... gitu deh pokoknya...."

"Pokoknya gimana? Split the tea dong, Yo! Jadi kepo nih gue!"

"Ih, enggak boleh. Ini rahasia Shaien! Kalau gue bocorin, nanti gue melanggar bro code." Gue akan ngegosipin siapapun sampai muntah kecuali Shaien, "Intinya ya, Flo, banyak alasan kenapa dua orang enggak bisa bersama dan lo harus tetap bersyukur dengan hal itu."

 "Ah, lo mah kasih info setengah-setengah. Makin kepo gue!" Flo memakai seatbelt nya, "Cerita Ka Shaien sama Ka Andra dan.... gue sama Daryll, sedihan mana, Yo?"

"ANDRA SAMA SHAIEN LAH!" Asli deh kalau kalian tahu cerita mereka tuh... Duh....  Antara sedih sama gereget tapi cuma bisa pasrah, "Lagian, lo harus bersyukur karena jatuh cinta sama orang baik, Flo. Daryll baik loh. Kalau dia jahat, dia bakal nerusin deket sama lo tapi ending-nya lo tetap dilepeh juga."

"Gue tahu ko. Dia memang baik. Baik banget." Yah, salah ngomong gue. Mood Flo jadi sendu lagi, "Lo tahu enggak, Yo? Waktu gue nemuin Daryll kemarin itu... gue dandan banget. Gue pakai baju baru, gue nyatok, gue banjir parfum. Emang sih itu cuma usaha-usaha kecil, tapi gue mikirnya, kalau gue kelihatan lebih cantik, perasaan Daryll akan berubah. Ternyata enggak."

"Makanya gue bilang kemarin lo goblok banget." Pardon my poisonous tongue. But true friends stab you in the front rite? "Kemarin lo tuh cuma lagi kangen aja tahu, Flo, makanya sampai 'gila' kaya gitu." Mobil gue keluar dari parkiran Sency, ternyata hari udah gelap, "Kangen itu wajar, asal lo tetap sadar kalau you deserve better."

"Jangan ngomong gitu ah, Yo. Kesannya Daryll cowok brengsek. Bukan salah dia kok karena enggak suka sama gue." Cewek itu menyandarkan badannya ke pintu mobil, "Daryll pasti bakalan usaha dan setia banget kalau udah ketemu cewek yang dia benar-benar suka." Tangannya memainkan seatbelt, "Sayangnya bukan gue orangnya. Walau gue enggak bisa ngebayangin sih cewek kaya apa yang bisa bikin Daryll cinta mati. Sialan tu cewek!"

Gue ketawa. Senang karena sekarang cewek itu jadi lebih dewasa dan nerimo, "Terus, lo nyesel enggak sama kelakuan lo kemarin?"

"Enggak. Malah gue bersyukur banget nyamperin dia." Kepala cewek itu bergerak mengikuti alunan musik dari radio. Vibes nya berubah drastis dari terakhir ia masih galauin Daryll di stasiun, "Lo pernah nonton How I Met Your Mother enggak, Yo? Di situ ada episode waktu Lily -salah satu pemeran utamanya, bilang kalau dia sengaja melakukan sesuatu yang padahal dia udah mengira kalau itu salah, supaya sepuluh tahun ke depan dia enggak akan menengok ke belakang dan masih bertanya-tanya apa hal itu benar-benar salah." Katanya, "At least sekarang, gue enggak akan membawa penyesalan di masa depan." 

"Halah, itu mah emang lo nya aja yang desperadoooo!" Gue menghindari serangan cubitan dari Flo, "Tapi emang harus gitu sih, Flo. Kata orang, harus usaha sampai enek dulu baru bisa move on."

"Betul banget sih." Cewek itu menjentikkan jarinya  sok asyik, "Udah puas gue nangisin dia! Sekarang saatnya parteeeehhhhh yhakaaaaaaaaan!"

 Gue ngakak. Hidup Incess Flower! "Yah, bagus deh kalau lo udah move on dari laki gue."

Flo ikutan ketawa, "Hahahaha, bagus ya, Yo?"

"Iyalah!" Gue memukul setir kesenangan seperti habis memenangkan lotre, "Soalnya, gue kan suka sama lo."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

FAK.

"Hah......?" tawa cewek itu surut. Wajahnya berubah horor. Gue bisa merasakan jantung kami sama-sama mencelos, "Zio lo.... suka sama gue?"

BUNDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!

-

*Bersambung*

Chapter 31

Komentar
Signin/Signup

Selamat Datang di teen.co.id

Jika tidak dapat login/signup akun, silahkan kontak kami
Twitter: @teencoid, Facebook: TeenIndonesia, Email: teen@teen.co.id

Term & Condition