Cerbung: The Name of The Game (Chapter 27)

Cerbung: The Name of The Game (Chapter 27)

Adelina Ayu Lestari
Tuesday, 17 April 2018, 20:00:00 305 0
The Name of The Game, Chapter 27.
The Name of The Game, Chapter 27.

Chapter 26, read here

Daryll: Udah sampai rumah, Flo?

Flo: Udah kok, Ryll.

(di-read doang)

Flo: Em, Ryll, besok lo kuliah sampai jam berapa?

(5 menit)

(10 menit)

(15 menit)

(30 menit)

(1 jam kemudian)

Daryll: Emang kenapa?

-

Zio.

"ZIOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!" Gue menjauhkan ponsel dari daun telinga. Enggak pernah gue mendengar Flo berteriak seperti ini sebelumnya. Biasanya cewek itu kan berteriak karena kesenangan. Sekarang lengkingannya terdengar seperti ingin mencekik anak orang, "ASLI GUE KESEL BANGET SAMA COWOK LO GUE KESEL BANGETTTTTTTTTTTTTTTTT!!!!!!!!!!!!"

Cowok gue.......?  Siapa-......OH!

"Ada apa sama kesayangan gue, Flo?" Sebenarnya sekarang bukan waktu yang tepat untuk teleponan. Gue masih di kampus, mengerjakan tugas kelompok yang harus selesai tiga hari lagi, tapi buat lo mah gue relaaaaaaa melesat meroket di angkasaaaaa ke berbagai benua  Eropa sampai Afrika juga melintasi garis khatulistiwa dan melalang buana melewati chakrawalaaaaaaaa yakaaaaaaannnnnn!!!!!!!!!!!

 "GUE KESEL BANGET SAMA DIA GUE KESELLLLLLLLLLL!!!!!!!!!!!!!" Gue melirik jam tangan. Sudah jam setengah enam sore, berarti  cewek itu mungkin baru sampai di rumah, "Sumpah, lo musti dengar cerita gue. Jadi, tadi gue ketemu dia di stasiun, terus yaudah deh kita pulang bareng. Gue udah merasa aneh  banget di situ, Yo, soalnya dia benar-benar jutekin gue. Kesannya gue salaaaah banget ada di sebelah dia."

Bentar lagi kayaknya gue mau bikin film Ada Apa Dengan, Daryll? deh. Jadi ikutan kepo gini gue, "Terus-terus, Flo?"

"Yaudah di situ gue belum kesel, malah sedih banget gitu loh. Kenapa sih kita jadi kayak gini, Ryll? Gue salah apa? Terus di kereta, ada mas-mas ngelihatin gue. Kayaknya mas-mas cabul deh, terus-"

"Lo enggak apa-apa?!" tahu gini gue pulang bareng dia! "Lo enggak diapa-apain kan, Flo?"

"Enggak. Kan, ada Daryll." Lo tahu enggak, Flo? Sekesal-kesalnya lo sama dia, suara lo selalu melembut setiap menyebut nama Daryll, "Dia minjemin gue jaket sama berdiri di depan gue buat nutupin pandangan mas-mas itu. Di situ gue masih sedih tapi jadi senang dikit. Gila, murah banget ya  gue?"

"Terus-terus?" Gue lebih emosi sama mas-mas itu daripada Daryll. Sialan. Berani-beraninya dia macam-macam sama calon pacar gue! (Aminin dong!)

"Yaudah selama perjalanan itu kita diem-dieman aja. Waktu sampai di Stasiun Palmerah, dia nemenin gue nunggu ojek, terus udah. Enggak ngomong apa-apa. Nah, sampai rumah, Daryll nge-chat gue, nanya udah sampai rumah atau belum. Dia emang selalu nanya gitu sih setiap kita pulang bareng, di situ gue mikir oh kita udah 'baikan'. Terus gue baru sadar kalau jaket dia kebawa sama gue. Gue tanya ke dia, besok kuliah pulang jam berapa, niat gue tuh cuma mau balikin jaketnya. Daryll balasnya lamaaaaaaaaaaaaaaaa banget. Jadi panik lagi kan gue, terus giliran udah dibales, LO MUSTI TAHU DIA BALAS APA!"

"Apaan?"

"Dia malah nanya balik, 'Emang kenapa?' NGESELIN TAHU  ENGGAK! Apaan sih itu orang? Gue kan nanya buat balikin jaket dia. Enggak ada niat minta ketemu buat ngobrol-ngobrol enggak penting. Emang gue punya urusan! Ngapain coba dia nanya balik? Enggak mau banget itu orang ketemu gue? Gue juga enggak mau kok ketemu sama dia!"

"Demi apa lo?" Gue berjalan ke koridor sepi supaya bisa mendengar omelannya lebih jelas. Asli, lo kenapa sih, Ryll? Flo kan cuma nanya. Kenapa lo sewot banget? Lagian, ini Daryll gitu loh. D-A-R-Y-L-L. Dia memang jutek, dia cuek, dia sedikit dingin tapi dia ENGGAK nyebelin, "Terus lo balas lagi enggak, Flo?"

"Gue bales, mau balikin jaket. Terus Daryll balesnya, kapan-kapan aja balikinnya. KENAPA SIH DIA TUH IH GUE ENGGAK SUKA BANGET!" Nadanya makin naik. Gue jadi bingung cewek ini sebenarnya sedang marah-marah atau nangis, "Gue enggak suka banget ya dia nanya kaya  gitu. Kesannya gue minta banget ketemu sampai dia harus nanya niat gue apa. Orang gue mau balikin jaket dia kok! Masih untung gue balikin!" cewek itu lalu menghela nafas. Capek teriak-teriak, "Gue lebai enggak sih, Yo, kayak gini? Tapi gue beneran kesel banget sama dia. Males tahu enggak kalau ingat-ingat kemarin gue habis galauin dia. Asli! Males banget! Duhhhhh, gue lebai enggak sih, Yo???? Kalau lo jadi  gue, lo kesel enggak?"

"YA KESEL LAH!" ikutan ngomel gue. Sumpah, ini emang kedengarannya sepele banget. Tapi kalau kalian jadi Flo, pasti ikutan kesel banget deh. Coba urutin kejadiannya. Daryll baru aja mengajak cewek itu untuk merayakan ulang tahun berdua, terus tiba-tiba dia menghilang, dan sekarang pas ketemu malah jutek kayak gini. Siapa yang enggak kesel digituin? Dibikin seneng, galau, habis itu kesel. Mau lo apaan sih, Nyet?, "Enggak lebai kok, Flo. Gue yakin, Shaien si ahli surga juga bakalan ngangkat alis juga kalau digituin."

"Gue lebai enggak, Yo?"

"Lo nanya lebai sama gue! Lo lebai, gue drama. Sama-sama gila yang ada!" Kenapa lo jadi kayak gini sama cewek yang lo suka, Ryll? Atau  jangan-jangan lo.... enggak. Enggak mungkin. Masih terlalu cepat kalau gue langsung menyimpulkan ke arah sana, tapi... masa  sih?

"Besok lo ngampus enggak, Yo? Kalau iya, gue mau nitip jaketnya Daryll nih. Lo aja yang balikin. Males gue ketemu dia."

"Jangan gitu ah, Flo." Gue mencoba menenangkan. Wagelaseh. Sok banget gaya lo, Yo, nenangin anak orang! Padahal kalau gue jadi Flo, udah gue jorokin si Daryll ke sepiteng, "Jangan ambil keputusan pas lo lagi emosi. Pasti nanti lo nyesel deh." Itu nasihatnya Shaien  setiap inner Kardashian gue kumat, "Udah, lo tenangin diri dulu. Jaketnya Daryll lo taruh di lemari. Jangan dilihat-lihat lagi, nanti tambah emosi."

"Siapa juga yang mau lihat! Daritadi juga udah gue masukin ke lemari!" Serunya, "Tapi, ada bagusnya juga tahu, Yo, Daryll bikin gue kesel. Gue jadi enggak  galau lagi. Semuanya berubah jadi kesel!"

Gue memutar bola mata. Yaelah, Flo. Sekarang lo bisa bilang begitu, tapi kita lihat aja ke depannya gimana. Gue yakin prosesnya tuh galau-marah-kangen-galau. The circle of life. Bener enggak?

"Yaudah, gitu doang sih, Yo. Sori ya jadi dengarin gue ngomel-ngomel... Eh, lo lagi dimana sih? Kok, ribut-ribut?"

"Lagi nugas gue di kampus."

Flo langsung enggak enak, "Aduh, sori ya, Yo, gue ganggu. Mana enggak penting lagi ceritanya!"

Apapun buat lo beb, "Selow aja elah. Eh, gue punya memes yang pas buat lo nih! Gue kirimin ya."

Fabrizio:

Flo: HAHAHAHAHA  IYA ITU GUE BANGET.

Fabrizio:

Fabrizio: Daryll kayak gitu enggak, Flo, sama lo?

Flo: Najonggggggggg.

Fabrizio:

Fabrizio: Sumpah nanti lo bakal kayak gitu.

Flo: Amit-amit.

Fabrizio: Yaelah, lihat aja nanti.

Flo:

 

Fabrizio: HAHAHAHAHAHAHAHAHA.

 

Fabrizio:

Flo: Hehehehehehe.

Fabrizio: Apaan sih orang itu buat Shaien.

Flo:

Fabrizio: HAHAHHAHAHAHAHAHA.

Fabrizio: I love you, Flo.

Flo: Love you too, ganteeeeeng.

-

 

Flo.

Hari ini kak Andra enggak terlihat seperti biasanya.

Biasanya, mentor gue itu selalu tampil nyentrik. Cewek itu bahkan pernah mengenakan topi pancing lengkap dengan kail-kailnya ke kampus tapi hari ini ia terlihat sangat polos. Aneh rasanya melihat kak Andra hanya mengenakan kaus biasa dan jeans. Cewek itu juga enggak kelihatan bersemangat. Bukannya memeriksa scrapbook gue, ia malah kebanyakan bengong. Pandangannya kosong menatap suasana sore selasar sambil sedikit-sedikit menghela nafas.

Ka Andra membolak-balikan scrapbook gue, "Gimana UTS kemarin, Flo? Bisa kan?"

"Bisa kok berkat bocoran soal dari kak Andra. Makasih ya, kak." Gue memasang senyum Pepsodent agar cewek itu ikutan semangat tapi sia-sia. Nyawanya seperti hilang setengah. Kak Andra memeriksa ponselnya, lalu kembali mengesah.

Kak Shaien ya, kak?

"Ndra, gue cabut duluan, ya." Kak Lala mencolek punggung kak Andra. Cewek itu berdiri di sebelah seorang cowok ganteng berwajah ramah yang berkebalikan dengan raut juteknya.

"Eh, lo lagi lo lagi!" kak Andra mengajak cowok di sebelah kak Lala tos, "Udah lama nyampenya?"

"Udah doooong. Lama banget tauk nungguin kalian keluar kelas! Mana ada kumpul maba segala lagi. Ngapain coba? Enggak penting! Buang-buang waktu!" Cowok itu meringis karena pinggangnya dicubit kak Lala tapi senyum lebarnya tetap mengembang. Ia tertawa lalu mengacak-acak rambut kak Lala, "Galak banget sih, Ndra, teman lo! Gue tiap hari kena KDRT nih!"

Kak Andra ketawa, "Galak tapi tetap lo pacarin mah berarti lo juga yang bego!"

Ohhhh, jadi ini pacarnya kak Lala? Ganteng juga. Badannya setinggi Dary- yah, pokoknya si itu lah. Kulitnya yang kecokelatan bikin wajahnya jadi kelihatan lebih manis. Cowoknya kak Lala ini punya aura yang hanya dengan mendengar suara ketawa dan melihat senyumnya aja bisa bikin lawan bicaranya ikutan senyum juga.

Kak Lala dan cowoknya ngobrol sama kak Andra bentar lalu cabut duluan. Gue memperhatikan punggung mereka yang berjalan menjauh. Cowoknya kak Lala menggamit tangan cewek itu lembut, mengelus rambutnya, mengecup keningnya. Yang  bikin gue baper bukan semanis apa kelakuan pacarnya, tapi bagaimana gestur-gestur kecil cowok itu dapat mencairkan gunung es kaya kak Lala. Gue enggak pernah membayangkan kak Lala ternyata bisa tertawa-tawa dan tersenyum lebar seperti saat bersama pacarnya.

"Tahu enggak, Flo, Lala sama cowoknya tuh udah kenal sepuluh tahun loh. Mereka teman dari SD, sampai akhirnya jadian waktu umur dua puluh. Gemas banget, ya?" kak Andra ikutan memandangi mereka, "Sebelum jadian sama pacarnya, Lala itu dingin banget. Sekarang aja masih kelihatan ya dinginnya? Tapi dulu cewek itu lebih parah. Semenjak naksir dan pacaran sama pacarnya, Lala berubah jadi lebih hangat, sering ketawa, dan peduli sama sekitar." Untung gue ketemu kak Lala setelah cewek itu udah jadian, bayangin kalau belum. Kayanya setiap dilihatin sama dia gue bisa pipis di celana deh.

"Dari situ aku tahu, kalau Lala memang... sesayang  itu sama pacarnya, karena menurut aku, kita itu bisa berubah, entah jadi lebih baik atau buruk karena orang yang kita suka. Emang sih kedengarannya dangdut banget, tapi siapa sih yang bisa ngasih kita pengaruh yang besar kalau bukan gebetan atau pacar sendiri?" tanya kak Andra. Entah kenapa gue merasa cewek itu bertanya pada dirinya sendiri, "Dari yang kecil-kecil aja deh. Dulunya jarang solat, sekarang  jadi rajin. Dulunya enggak suka olahraga sekarang jadi suka. Malah terkadang, sangking sayangnya, kita sengaja 'merubah' diri kita dengan melakukan kebiasaan-kebiasaannya, untuk menghidupkan dia dalam diri kita sendiri."

Kak Andra lalu tertawa kecil, "Aduh, aku jadi ngelantur. Kamu pasti bingung deh aku ngomong apa."

"Aku ngerti kok, Kak." Jangankan perubahan-perubahan seperti yang dialami kak Lala, Daryll bahkan enggak melambatkan langkah kakinya setiap berjalan bersama gue.  Dari awal mengenal sampai sekarang, pribadi jutek dan dingin cowok itu tetap sama. Kalau sudah begitu, kenapa ya? Apa karena gue yang kurang hebat? Apa gue harus punya super power dulu baru bisa bikin Daryll berubah? Atau jangan-jangan karena....

Kak Andra menutup scrapbook gue, "Aku enggak  bisa konsentrasi." Cewek itu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Seperti siap-siap untuk menangis.

Gue pingin tanya ada apa dengan dia dan kak Shaien tapi kesannya lancang banget. Gue emang enggak dekat sih sama mereka berdua tapi siapapun yang at least pernah kenalan sama keduanya pasti akan menganggap kalau mereka baik banget. Kak Shaien bahkan bisa menjinakkan Paris Hilton Indonesia aka Gevanny E. Fabrizio dan kak Andra enggak pernah sekalipun protes walau tahu gue malas banget ngerjain tugas maba. Kalau mereka jadian, gue yakin bakalan minim konflik tapi kenyataanya malah begini.

Kak Andra menurunkan kedua tangannya. Matanya merah, "Aku periksa scrapbook kamu nanti-nanti aja ya. Sekarang aku... enggak bisa. Maaf ya, Flo."

"Enggak apa-apa, Kak." Gue memasukkan scrapbook ke dalam tas.

Apapun itu, semoga mereka berdua baik-baik aja.

-

 

Zio.

"Lo beneran enggak apa-apa, Ien?"

"Enggak apa-apa, Yo."

"Enggak ada yang mau lo ceritain?"

"Enggak kok."

"Lo enggak bohong sama gue kan?"

Shaien ketawa melihat gue bertingkah seperti pacar posesif. Cowok itu mengaduk-aduk gelas Nutrisarinya dengan sedotan. Daritadi yang ia lakukan hanya mengaduk-aduk minuman tanpa menyesapnya, "Nanti gue ceritain tapi enggak sekarang. Sori."

"Enggak apa-apa." Sedih gue lihat Shaien enggak semangat kayak gini tapi gue juga enggak ingin memborbardir dia. Shaien orangnya tertutup, jarang banget curhat kalau memang enggak perlu-perlu amat. Semenjak dekat dengan Andra, Shaien jadi lebih terbuka, tapi sekarang dinding cowok ini jadi makin susah untuk ditembus, "Lo  mau balik kapan, Ien?"

Shaien mendorong gelas Nutrisarinya, "Nanti aja. Lo mau balik sekarang?"

"Kayaknya."

"Hati-hati." Shaien ngajakin tos lalu kembali merenung. Duh, semoga dia beneran enggak apa-apa deh. Bingung gue kalau Shaien kenapa-napa karena dia sendiri enggak mau memberi tahu sebabnya. Mau gue undang barongsai ke depan apartemennya pun cowok ini enggak akan terhibur karena bukan itu jawaban dari masalahnya.

Waktu melewati BCA Teknik, gue melihat Daryll sedang duduk-duduk di depan kelas internasional. Tu dia tuh si anjing. Lagi santai-santai baca buku sambil pakai earphone. Samperin ah. Mau minta duit bulanan. Enggak dweeeeeeeeeeeeeng.

Gue menoyor belakang kepala cowok itu lalu duduk di sebelahnya. Daryll mengangkat kepalanya lalu melihat siapa tersangka yang mengganggu ritual baca bukunya dengan tatapan pembunuh, "Rusuh lo, Yo!"

Gue mengangkat  bahu enggak peduli lalu memeriksa pesan di ponsel.

Flo:

Flo:  Sumpah itu lo banget.

"HAHAHAHAHAHAHAHA." Aduh, kesayangan gue. Tahu aja sih!

"Kenapa lo?" Daryll mengintip layar ponsel gue dari balik bukunya.

"FLO nge-chat gue." Gue sengaja mengeraskan sedikit suara ketika menyebut nama cewek  itu. Daryll sedikit tersentak. Ekspresi dipergoki itu datang lagi. Cowok itu cepat-cepat menutupinya dengan sok-sok kembali membaca buku tapi tidak semudah itu kabur dari gue, Romeo! Gue akan berusaha untuk mengungkap misteri ini. Doakan aku ya! (ala-ala peserta Benteng Takeshi) "Ryll, kemarin gue main ke rumah Flo."

"Oh."

"Lo pernah ke rumahnya, Ryll?"

"Nganterin doang."

"Gue pikir lo sering main ke rumahnya."

"Enggak pernah."

"Gue habis ini mau main sama dia." Coba kalau gue kibulin, cowok ini akan bereaksi apa, "Kemarin Flo bilang kalau dia enggak pernah...  enggak pernah ke kantin selain Kansas sama Kantek. Makanya gue pingin ngajakin dia keliling-keliling naik bikun buat main-main ke kantin fakultas lain."

"Seru dong." Daryll membalikkan halaman bukunya, "Salam ya."

Anjir lah?????

"Mau ikut enggak, Ryll? Biar rame."

"Enggak."

"Seru loh."

"Enggak."

"Nanti bisa nyobain Milo di kantin lain juga." Gue melempar kartu As. Enggak mugkin Daryll enggak tertarik kalau pujaan hatinya disebut-sebut dan benar aja. Cowok itu menutup bukunya lalu menatap gue lurus-lurus. Sekarang jadi gue yang kicep. Gue kan cuma ngibul. Kalau Daryll beneran mau ikut, gue harus ngomong apa sama Flo?

Daryll melipat tangannya di depan dada. Tampangnya berubah seperti komdis yang sedang memeriksa tugas maba, "Lo suka sama Flo, Yo?" tembak cowok itu.

Hah.

Lah.

Kok??????

"Apa?"

"Lo suka sama, Flo?" ulang Daryll. Nadanya sedingin wajahnya. Gue yang pingin melihat cowok itu  bereaksi, tapi sekarang giliran Daryll balik nanya gue malah jadi speechless. Gue memang pernah ngasih tahu dia langsung kalau gue suka juga sama Flo, tapi itu kan lewat telepon. Ini pertama kalinya kami berhadap-hadapan langsung sebagai dua cowok yang menyukai cewek yang sama, "Jawab, Yo."

Gue membalas tatapan matanya tajam. Gue enggak bisa membayangkan kalau di hari pertama masuk kuliah gue pulang naik mobil dan enggak diajak kenalan sama dia di stasiun. Gue bersyukur karena sabtu pagi itu bunda mengajak gue belanja di Food Hall. Gue senang hari itu gue kebelet beser dan memutuskan untuk boker di toilet cewek. Gue enggak menyesali setiap keputusan yang gue ambil. Keputusan-keputusan kecil yang mempertemukan gue dengan dia. Jadi jawaban gue dari pertanyaan lo adalah, "Iya. Gue suka sama Flo."

 Let's play this game fair and square, Ryll.

Daryll enggak langsung menjawab. Cowok itu menyelidiki wajah dan jawaban gue, seolah-olah mencari kebenaran di sana. Setelah mendapat apa yang dia mau, cowok  itu mengangguk, "Ohhhhhh."

.

.

.

.

.

.

.

Hah?

"Kok, oh?" Apaan sih ini orang? Udah nanya-nanya  serius, giliran dijawab malah cuma bales oh. Dasar laki-laki. Enggak bisa dipercaya! Brengsek! Manja! Buaya!

"Emang harusnya apa?" Daryll mengangkat bahu, "Gue kan emang cuma nanya."

"Ya apa kek." Gue protes. Kita kan lagi ngomongin Flo. Masa jawaban lo gitu doang setelah mendengar ada cowok lain yang juga menyukai cewek yang sama kaya  lo? Kecuali kalau lo...

 "Lo juga..."  Gue berdehem, "Lo juga suka sama dia kan?"

Checkmate. Enggak ada lagi menerka-nerka. Gue butuh jawaban langsung dari lo sekarang.

Daryll mengelap wajahnya dengan satu tangan. Tampangnya seperti habis lari sepuluh kali keliling di GBK pakai sepatu lecet. Capek, "Enggak."

"Apa?"

"Enggak."

"Apa?"

"Enggak."

"Apa?" sekali lagi gue nanya kayanya gue dilempar pakai meja. Tapi gue harus memastikan kalau apa yang  gue dengar ini salah. Daryll nge-chat gue waktu pertama kali tahu kalau gue kenal juga sama Flo. Daryll berusaha menjawab kuis tebak-tebakan supaya enggak gue doang yang bisa caper sama Flo. Daryll mengajak cewek itu ke rumahnya dan merayakan ulang tahun berdua. Gue enggak bisa menelan satu kata itu begitu aja.

Jangan macem-macem sama gue, Ryll.

Daryll menghela nafas. Kalau tadi tampangnya kaya habis lari sepuluh kali keliling di GBK pakai sepatu lecet. Sekarang berubah seperti habis lari bolak-balik f(x) sampai bunderan HI pakai sandal refleksi. Capek dan....... menyesal, 

 "Gue enggak suka sama Flo." 

*Bersambung*

Baca juga: 

Langit Hari Ini: Skeleton Flower 

Komentar
Signin/Signup

Selamat Datang di teen.co.id

Jika tidak dapat login/signup akun, silahkan kontak kami
Twitter: @teencoid, Facebook: TeenIndonesia, Email: teen@teen.co.id

Term & Condition