Hatiku Patah di Tengah Guyuran Hujan

Hatiku Patah di Tengah Guyuran Hujan

Evelyn Tahar
Saturday, 15 July 2017, 20:06:36 473 2 0
Hatiku Patah di Tengah Guyuran Hujan (dok. unsplash)
Hatiku Patah di Tengah Guyuran Hujan (dok. unsplash)

Rintik-rintik hujan menghiasi jendela di sampingku. Aku berada di tempat terjadinya pertemuan dan perpisahan, Bandara Beatus. Aku duduk menunggu di sebuah cafe ditemani secangkir kopi hangat yang ku pesan. Sembari menunggu dia, ku seruput sedikit demi sedikit kopiku dengan pelan dan melihat keadaan di sekitarku. Seorang pria bertubuh tinggi dan putih dengan kacamata bulatnya menatap lembut kearahku dan melambaikan tangannya. Ya, itu dia. Ken, teman masa kecilku.

Ken datang menghampiri dan duduk diseberangku. Hanya sebuah meja yang membatasi kami berdua.

"Hai, sudah menunggu lama, ya? Maaf nih, tadi aku nungguin bagasinya agak lama," kata Ken kepadaku.

Aku terdiam cukup lama sambil menatap matanya. Bukan karena marah atau menunggu terlalu lama, tapi suaranya. Suara Ken. Suara yang selama ini ku rindukan. Aku sudah menunggu sangat lama untuk mendengar suara ini.

"Ehm, Hei! Jangan melamun, dong. Terlalu lama, ya?" sergap Ken sambil melambai-lambaikan tangannya di depan mataku

"Ah, nggak, kok," jawabku sambil mengalihkan pandanganku dari matanya.

"Eh, ngomong-ngomong setiap kali kita bertemu, selalu hujan, yah," kata Ken.

"Iya, nih. Jadi ingat waktu kita kecil sering main di tengah hujan mencumbui bumi mengguyur tubuh," jawabku.

"Ah, iya. Kita sering lari-larian dan menari dengan bahagianya kalau hujan turun," sahut Ken dengan diiringi oleh tawa kecilnya.

Aku dan Ken pun mulai mengingat dan menertawakan hal-hal yang kami lakukan bersama saat kecil. Teringat akan masa kecil bersamanya, menggedorkanku juga akan rasa yang dulu pernah ku pendam padanya. Tatapan hangatnya yang sedari dulu tak pernah dikikis untukku, senyum manis dibibirnya yang menghiasi hari-hari masa kecilku.

Aku tak tahu, apa aku masih berharap atau harapanku punah padanya. Mungkin ini yang menyebabkanku tak bisa menemukan laki-laki lain untuk menemaniku. Ken terlalu sempurna untuk hati seorang perempuan, dan perempuan yang memilikinya akan sangat beruntung.

Tak lama usai kami menyelesaikan pembicaraan seputar masa kecil kami, Ken menerima sebuah pesan di handphonenya. Ken pun mengecek isi dari pesan itu dan langsung memalingkan wajahnya ke arah pintu masuk cafe. Di sana, berdiri seorang perempuan berambut panjang dengan wajah yang manis sedang menunggu seseorang sambil memainkan handphonenya.

"Ehm, Aku permisi sebentar, ya. Ada seseorang yang harus kutemui," kata Ken kepadaku.

"Oh, iya!" jawabku sambil mempersilahkan Ken keluar.

Ken pun keluar dan menemui perempuan itu. Aku tidak tahu ada hubungan apa antara Ken dengan perempuan itu. Tak lama setelah itu, Ken masuk menemuiku lagi dengan perempuan itu.

"Hani, kenalin nih, pacarku, Sally," kata Ken kepadaku.

"Oh, hai Sally," kataku sambil menjabat tangannya.

"Hai, Hani. Aku udah dengar banyak tentang kamu dari Ken," ungkap Sally dengan lembut.

Aku membalasnya dengan senyuman di bibirku.

"Oh, iya. Hani, Aku pergi duluan ya, soalnya aku ada acara dadakan. Maaf banget," kata Ken kepadaku.

"Ah, iya. Gak apa-apa, kok," jawabku dengan nada kecewa yang kusembunyikan.

"Nanti kalau ada waktu luang, kita ketemuan lagi, ya," imbuh Ken kepadaku.

Ken dan Sally pun pergi meninggalkan diriku. Aku hanya ditemani guyuran hujan. Aku tak banyak berharap lagi dengan Ken. Tapi, mengetahui Ken telah memiliki kekasih membuatku terdiam dan kehabisan akal. Hatiku patah ditengah guyuran hujan. Mungkin itu kata yang keluar dari rasa sakit yang sedang aku rasakan sekarang.

Seiring waktu berjalan, Aku pun sepenuhnya mengerti dan menyadari bahwa jatuh cinta diam-diam pada akhirnya hanya bisa merelakan. Hanya bisa mendoakan agar Ken bahagia bersama Sally. Kebahagiaan Ken dan Sally telah mencubit hatiku dan membuat aku harus menanggung rasa sakit yang amat mendalam.

 

"Terkadang yang kita inginkan bisa jadi yang tidak kita sesungguhnya butuhkan, Dan sebenarnya, yang kita butuhkan hanyalah merelakan. Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka lakukan, jatuh cinta sendiri."

- Raditya Dika, Marmut Merah Jambu 

Komentar
Signin/Signup

Selamat Datang di teen.co.id

Jika tidak dapat login/signup akun, silahkan kontak kami
Twitter: @teencoid, Facebook: TeenIndonesia, Email: teen@teen.co.id

Term & Condition