Autumn

Autumn

Deti Mega P
Wednesday, 11 January 2017, 19:30:41 912 1 0

Mungkin orang akan menganggap kisah gua ini tak lebih dari sekedar cerita sinetron. Tapi gimana, hal ini gua rasain sendiri dan sebenarnya gua nggak mau menyamakan kisah ini dengan sinetron yang sekarang ini sudah tak jelas jalan ceritanya demi mengejar rating semata.

Hmm... gua bukan mau bercerita soal sinetron, tapi kisah gua. Ya, kisah cinta gua. Dua tahun lalu, gua terkenal sebagai playboy yang udah banyak cap-nya seaentaro SMA Kemuning. Gua nggak peduli dengan cap-cap yang melekat di diri gua itu, yang penting gua seneng itu udah cukup.

Menginjak kelas sebelas, ke-playboy-an gua makin menggila. Gua mendekati beberapa cewek aktif di sekolah, bahkan gua sempet jadian sama cewek yang satu ekskul dengan gua. Lepas dari dia yang cuma hitungan bulan, gua beralih ke adik kelas yang masih segar-segar karena baru memakai seragam putih abu. Lepas dari adik kelas, gua sempat menjomblo sebentar sampai awal kelas dua belas dan dalam kesendirian gua itulah gua merasakan ada sesuatu yang beda dari seorang cewek yang baru sekelas dengan gua di kelas sebelas.

Gua nggak tahu kenapa gua baru sadar dengan kehadiran dia yang sebenarnya menyejukkan hati. Bukannya selama kami sekelas nggak pernah tegur sapa, kami sering satu kelompok dalam sebuah tugas dan intensitas komunikasi gua dengannya nggak terlalu buruk. Tapi hati liar gua masih belum menarik buatnya.

Pagi itu dalam kesendirian, gua melihat dia baru tiba di sekolah. Gua yang juga baru beberapa langkah dari gerbang menghentikan langkah dan menunggunya supaya bisa bersama-sama menuju kelas.

"Baru datang, Vin?" sapa gua biasa.

Ia tersenyum, "Eh, Kia? Tumben lo udah disini? Biasanya suka telat!" katanya manis.

Gua terkekeh, "Biasa, gua mau nyontek PR matematika sama lo! Lo pasti udah beres kan?" gua mengerling jahil kepadanya.

Vindy si cewek itu menjulurkan lidahnya tanda tak setuju dengan apa yang gua bilang. Ah, gua nggak peduli, awal-awal sih dia selalu nolak tapi ujung-ujungnya gua pasti dikasih juga kok! Hehe...

Gua masih jalan barengan Vindy ke kelas, tapi sebelum kami tiba di kelas gua tiba-tiba memisahkan diri dari Vindy dan masuk ke kelas tetangga. Di sana, gua menemui gadis cantik yang bikin hati gua bergetar, Rindu namanya dan gua nggak tahu lagi ekspresi Vindy bagaimana karena gua tanpa pamit langsung melengos meninggalkannya.

***

Dalam hitungan minggu saja, akhirnya gua benar-benar jadian dengan Rindu. Setiap istirahat, gua selalu ngobrol dengan dia baik di kelas gua maupun di kelasnya. Ketika gua bersama Rindu di kelas, gua seakan nggak peduli dengan teman-teman sekelas gua. Bahkan dengan Vindy sekalipun yang selalu terlihat berada di kelas. Terkadang saat gua asyik ngobrol dengan Rindu, mata gua tertuju pada Vindy yang juga asyik bercanda bareng teman-teman satu gengnya. Gua juga sempat melihat sorot mata indahnya singgah ke hadapan gua dan Rindu. Gua hanya bisa senyum dan dia pun tersenyum menggoda kebersamaan gua itu.

Awal semester akhir di kelas dua belas, guru olahraga kelas dua belas mengadakan turnamen sepak bola yang khusus diikuti oleh seluruh kelas dua belas. Termasuk kelas gua. Gua merasa menjadi cowok sesungguhnya ketika gua ikut bertanding. Gua nggak jago dalam bermain bola, tapi teman gua yang jadi top scorer dari kelas gua ini selalu mengikutsertakan gua dalam pertandingan. Kadang gua nggak pernah ikut main karena dicadangkan, tapi tak apa gua senang dengan hal ini. Apalagi, anak-anak cewek kelas gua termasuk Vindy selalu datang men-support tim sepak bola kelas gua. Itu suatu suntikan semangat buat kami.

Baru beberapa pertandingan saja di gelar dalam kompetisi ini, gua kedapatan patah hati oleh anak-anak. Karena gua putus dengan Rindu. Bukan Rindu yang salah, tapi gua yang memutuskannya karena... BOSEN! Ya, kata itu mungkin yang tepat. Empat bulan saja berhubungan dengannya gua rasa udah cukup. Bukan hanya itu, tapi ternyata bayangan Vindy selalu mengisi hari-hari gua sampai akhirnya gua merasa bahwa gua suka sama Vindy. Ya, mungkin itulah naluri ke-playboy­-an gua. Hanya saja, kali ini gua ngerasa ciut untuk mengungkapkannya secara langsung. Namun tanda-tanda untuk mendekatinya, udah mulai gua lakuin.

Seperti siang itu, sebelum pertandingan antara kelas gua dan kelasnya Rindu berlangsung. Gua mencoba menemani Vindy yang sedang berdiri sendiri di depan ruang guru.

"Vin, kok sendirian lagi apa di sini?" sapa gua biasa.

"Itu lagi nungguin Shasha yang nemuin Pak Ibnu," jawabnya sambil tersenyum, dan selalu begitu.

"Oh, lu mau nonton pertandingan bola kita kan sekarang?"

"Iya dong! Kelas kita kan menang terus, makanya gua juga semangat nontonnya nih! Hehe... Hmm... lu main nggak? Apa tetep setia jadi cadangan?" godanya kemudian dan gua ngerasa dia menjatuhkan gua, tapi itu nggak ngaruh. Dia tipe cewek yang suka bercanda, gua tahu itu.

"Kenapa emang? Lu mau lihat gua main? Lu terpesona sama gua ya, kalo gua main? Lu pasti ngerasa lihat Christiano Ronaldo didepan lu! Iya kan?"

Terdengar tawa lembut yang begitu puas, "Hahaha... sayang gua nggak suka Christiano Ronaldo. Hmm... tapi mungkin penonton dari kelas lawan ada yang pengen lihat lu main," kembali ia mengakhiri ucapan dengan senyum, kali ini senyum yang menggoda gua.

Gua mendelik, "Maksud lu apa?"

"Ya... lu pasti tahu kok maksud gua."

Gua tersenyum sinis, "Bilang aja lo cemburu sama gua!"

Vindy memutar mata dan menjulurkan lidahnya. Ia terlihat begitu manis, ah... mengapa perasaan gua semakin berbeda sama dia? Dan sebelumnya, gua nggak pernah merasakan perasaan seperti ini. Entah itu ketika dengan Wine, Dinar, Septi, bahkan Rindu.

***

Hari itu akhirnya gua bisa main full karena ada salah satu starter yang cedera. Beruntung gua bisa membawa kemenangan buat kelas gua ini dan tentunya menyenangkan hati anak-anak cewek yang nonton, terutama Vindy. Ya, meskipun gua sama sekali nggak ngegolin, tapi setidaknya salah satu gol yang dicetak si top scorer adalah umpan dari gua. Hehe...

"Wah, kalian menang lagi! Selamat-selamat!" kata Shasha membuka ucapan selamat dari penonton ketika kami mulai menepi dari lapangan. "Kalau menang terus kayak gini kan, gua jadi bisa tidur nyenyak juga," lanjutnya.

Saat itu gua sangat berharap Vindy berkomentar sedikit saja tentang permainan gua atau setidaknya permainan kami secara keseluruhan yang akhirnya bisa memenangkan pertandingan. Tapi sampai dia pulang duluan, gua sama sekali nggak mendengar suaranya. Hanya senyumnya saja yang terus membayangi, meksipun tadi gua sempet melihat dia tampak berbicara sejenak dengan si top scorer dan gua tetap nggak mendengar suaranya karena gua melihat itu dari kejauhan.

"Lu kenapa diem aja, Ki?" tanya Shasha kemudian sesaat setelah kami mulai beranjak meninggalkan lapangan. Gua dan kawan dekat Vindy ini berjalan paling belakang diantara anak-anak lainnya.

Gua menghela nafas, "Tadi setelah pertandingan selesai, gua berharap banget ada cewek yang ngasih gua minum!" gua tertawa kecil, tapi Shasha ketawa ngakak.

"HAHAHA... lu minta aja sama cewek lu di kelas sebelah! Tadi kan dia nonton juga! Hahaha..." cewek ini tampak senang dengan kalimatnya ini.

Lagi-lagi gua mendelik, "Dia udah bukan cewek gua lagi, Sha! Masa lalu dia buat gua!"

"Ah payah lu! Asli lu tuh playboy banget, Ki! Kalo lu terus gitu, mana ada cewek yang mau serius juga sama lu!"

"Sha, gua nggak tahu kenapa ya, tapi... gua ngerasa ada yang aneh sama perasaan gua terhadap temen lu!" gua mulai curhat.

"Temen gua? Temen gua yang mana?" Shasha kaget.

"Ya temen lu itu! Perasaan gua sama dia, sama sekali nggak sama dengan perasaan-perasaan gua sebelumnya ke cewek-cewek yang dulu. Bahkan sama Rindu sekalipun. Muka dia itu kebayang terus dipikiran gua, Sha! Makanya, gua nyimpulin kalo gua suka sama temen lu itu!"

Shasha menghela nafas, "Iya temen gua, tapi temen gua yang mana Kia? Temen gua itu banyak! Vindy, Mala, Naya, Sherin! Banyak! Gimana sih lu?!" Shasha mendelik.

"Intinya, gua suka sama temen lu!"

"Iya siapa?! Sebelum lu tembak dia, lu harus bilang dulu sama gua dia siapa! Masalahnya, lu itu playboy kelas kakap man! Gua nggak bisa ngasih temen gua gitu aja sama cowok macam lu!"

"Ah, lebih lu! Tapi yang ini lain, Sha! Udah gua bilang ini gua jatuh cinta beneran!"

"Ya udah bilang aja siapa!"

Gua menarik nafas panjang dan bersiap menyebutkan sebuah nama dihadapan Shasha, "Hmm... gua, suka sama... sama... sama Vindy, Sha!"

Glek! Tampak wajah kaget yang dipasang Shasha tanpa sengaja. "HAH?! VINDY?!" bodohnya ia teriak sehingga teman-teman yang berada di depan menoleh sekilas kepada kami.

"Ah lebih, lu, Sha! Nggak usah pake teriak kenapa?!" gua menegur sikap Shasha yang berlebihan itu.

Shasha masih tak percaya dengan nama yang gua ucapkan tadi, "Kia, lu nggak salah barusan nyebut nama Vindy? Lu beneran suka sama dia?"

"Iya, Sha! Bantuin gua dong, gua nggak berani ngungkapin ini langsung ke dia. Nyali gua ciut, beda sama dulu-dulu deh! Ini gua jatuh cinta beneran, Sha! Bilangin ke dia dong! Terserah sih dia mau balas atau nggak pernyataan cinta gua, tapi yang penting gua udah sampaikan itu meskipun lewat lu. Mau kan lu?"

Shasha diam. Ia masih dalam keterkejutannya. "Gua udah rasain ini sejak lama, Sha! Bahkan sejak kita sekelas, tapi bodohnya gua, gua nggak nyadar dengan perasaan gua yang sesungguhnya ini. Jujur, gua ngerasa lega sekarang. Meksipun gua menyampaikan ini bukan sama Vindy, karena kalo gua ngomong langsung ke dia gua nggak berani. Maksudnya, untuk saat ini gua belum ada keberanian."

Shasha menghela nafas, "Bodoh lu! Nyesel tahu rasa!" ujarnya.

Dan... kalimat itulah yang selalu terngiang sampai sekarang. Sampai lepas setahun masa putih abu, dan sampai itulah gua belum pernah bilang secara langsung pada Vindy. Entahlah Vindy sudah mengetahuinya atau belum dari Shasha, yang pasti gua begitu yakin kalau Vindy juga sebenarnya suka sama gua.

***

Sudah dua tahun ini gua berada di negeri Sakura, di sini gua kuliah karena gua dapat beasiswa dan tinggal bersama Om gua yang kerja di sini. Selama itu pula gua belum lagi bertemu Vindy, meskipun bayangan wajah dan senyumnya setiap hari singgah dibenak gua.

Jepang kali ini sedang autumn alias musim gugur dan gua sangat malas keluar rumah, di saat itulah gua kembali teringat ke-playboy-an gua zaman SMA yang membuat gua nggak bisa dapetin apa yang sebenarnya gua mau, yaitu Vindy.

"Kia, lagi ngapain?" tanya Om gua yang tiba-tiba nongol di kamar gua.

"Eh, Om? Aku nggak ngapa-ngapain, ada apa?"

"Ini, ada kiriman dari Indonesia. Nggak tahu dari siapa, kayaknya dari temen kamu!" Om ngasih gua sebuah kotak kecil. Gua bingung, setahu gua nggak ada temen-temen gua di Indonesia yang tahu alamat gua disini.

"Temen Kia, Om? Siapa ya? Darimana dia dapat alamat kita disini?"

"Nggak tahu lah! Mungkin, dia minta sama mama atau papa kamu! Sudah buka saja, apa itu isinya! Om tinggal dulu!" Om pun pergi.

Gua bingung dan membolak-balikkan kotak itu. Nama dan alamat yang ditujukan sudah jelas gua dan pengirimnya hanya sebuah inisial SV plus alamat SMA gua dulu. Gua nggak ngerti, tapi buru-buru gua buka bingkisan itu tanpa rasa curiga.

Ternyata, isinya sebuah kaset. Kaset tape yang di zaman sekarang sudah jarang dipilih orang. Terlalu primitif untuk digunakan di zaman yang serba digital seperti sekarang. Mungkin gua harus mendengarkan isi kaset ini, beruntung ada tape nganggur di kamar gua ini dan tanpa banyak nying-nyong gua langsung putar kaset itu. Sejenak sepi, lalu terdengar hela nafas seseorang dan dilanjutkan dengan sebuah narasi bersuara perempuan. Ah, gua merasa kenal dengan suara orang ini.

Kia, apa kabar? Wah udah lama ya kita nggak ketemu? Gaya lu, mentang-mentang udah di Jepang nggak pernah ngabarin temen-temen lu di tanah air. Lu masih kenal suara gua nggak? Awas lu jangan bilang lupa! Gua kan calon comblang lu waktu itu! Hihi...

Deg... hati gua langsung tertuju pada si cerewet Shasha. Ya, ini suara dia!

Ki, maaf ye... gua pake cara beginian, soalnya biar terkesan dramatis gitu. Kebetulan gua punya kaset kosong yang nggak kepake, jadi ya daripada mubazir gua pake aja beginian dan gua kirim ke Jepang. Sebelum gua, kaset gua dulu aja deh yang terbang ke sana. Haha... Gini Ki, bukan maksud apa-apa, gua cuma mau bantu temen gua yang satu ini. Katanya dia pengen bilang sesuatu sama lu, karena ternyata dia juga... (diam sejenak) hihi... langsung aja ya, lu simak suara dia berikut ini!

Hai Kia!

Deg... suara lembut ini... gua tahu... ini suara Vindy! Ya, Vindy!

Apa kabar? Lama nggak ketemu? Gua denger, lu ada di Jepang ya? Kok nggak ngajak gua sih? Hehe... Hmm... langsung aja ya, gua udah denger sesuatu yang bikin gua kaget dari Shasha, dan Shasha bilang itu lu yang bilang langsung. Jujur, gua seneng banget dengernya, tapi kenapa lu nggak bilang dari dulu? Padahal kan setelah itu, masih ada waktu kita untuk ketemu dan bersama dalam satu kelas. Kalau sudah jauh begini, mau bagaimana? Mungkin, kalau sekarang masih berkenan gua mau banget ada disamping lu! Tapi apa daya, janur kuning enam bulan kedepan akan segera melengkung. Gua harap lu bisa datang, ya! Dan terima kasih karena pernah suka sama gua, karena gua juga pernah suka sama lu.

Mendengar itu hati gua bergetar dan gua nggak bisa percaya dengan apa yang gua dengar ini. Apa ini sepenuhnya salah gua? Kenapa dia begitu cepat mengambil keputusan? Gua nggak bisa ngomong apa-apa lagi.

Lengkaplah sudah autumn kali ini, karena harapan dan hati gua untuk Vindy pun gugur terbawa angin Jepang. Benar kata Shasha tiga tahun lalu, gua bodoh dan akhirnya gua menyesal! Sumpah, gua sangat menyesal!

Bandung, At the Moment:

08 Februari 2011

9:13 PM

Komentar
Signin/Signup

Selamat Datang di teen.co.id

Jika tidak dapat login/signup akun, silahkan kontak kami
Twitter: @teencoid, Facebook: TeenIndonesia, Email: teen@teen.co.id

Term & Condition