Vitamin C(inta)

Vitamin C(inta)

Lelu Dina Apristia
Friday, 01 July 2016, 11:29:00 853 0 0

Sore yang dihiasi cahaya jingga di cafe favoritku tidak berujung romantis seperti yang ku bayangkan di rumah tadi. Yanuar dan aku memutuskan untuk break atau mempertimbangkan kembali hubungan yang telah kami jalin selama kurang lebih tiga tahun ini.

"Hana, menjadi pelukis itu impianku sejak kecil. Aku rela menghabiskan sebagian besar uang yang selama ini ku tabung dari pendapatanku sebagai staf IT."

"Tapi kan kamu gak harus berhenti dari pekerjaan yang sudah mendatangkan pendapatan untuk membangun galeri mini itu."

Yanuar menenggak teh earl grey yang baru saja dihidangkan waiter. "Walaupun mini, galeriku nantinya akan berdampak maksi. Aku akan menampung sekaligus mempekerjakan setidaknya dua orang seniman muda di galeriku."

"Kadang kamu terlalu percaya diri," celotehku.

"Bagaimana denganmu? Kamu terlalu skeptis," timpalnya sinis. Aku mengerutkan dahi.

"Aku itu realistis, Yan. Hubungan kita sudah berjalan tiga tahun dan orangtua kita sering bertanya tentang pernikahan. Kamu tahu itu kan? Kamu seharusnya menggunakan uang tabunganmu untuk persiapan pernikahan kita. Begitu juga denganku. Lah, sekarang kamu malah mengundurkan diri dari pekerjaanmu, meninggalkan kemapanan dan memulai dari awal sesuatu yang mungkin kamu anggap pekerjaan. Kamu ingin hubungan kita jalan di tempat atau maju jalan?"

"Kamu pikir hubungan kita itu parade gerak jalan atau latihan baris berbaris?" tanyanya sambil menahan senyum.

Antara geli dan jengkel aku berujar, "Itu sekadar analogi. Maksudmu, apa kamu pernah memikirkan keseriusan hubungan kita atau komitmen yang bernama pernikahan?"

Yanuar tampak berpikir sambil menenggak seluruh teh di cangkirnya. Ku biarkan dia berpikir. Setelah beberapa saat, "Hana, laki-laki kadang agak alergi dengan komitmen seperti pernikahan."

"Lantas sampai kapan kita berpacaran? Sampai galeri minimu berubah menjadi maksi? Sampai alergimu terhadap pernikahan sembuh? Sampai aku menemukan obat dari alergimu?" Emosiku mulai tersulut.

Sesaat dia diam. Jika mulutnya terbuka, aku berharap kata-kata yang keluar bisa memadamkan emosiku.

"Selama tiga tahun berpacaran, kamu pikir kita benar-benar tiga tahun bersama? Kita sibuk dengan pekerjaan dan impian kita masing-masing. Kita memiliki pekerjaan dan impian yang berbeda. Kamu di kota sana dan aku di kota sini. Oleh karena itu, kebersamaan kita masih bisa ku kalkulasi dengan mudah. Rata-rata kita bertemu seminggu sekali. Dalam setahun ada berapa minggu, lalu dikali tiga tahun hubungan kita..."

Aku memotong perkataannya yang semakin menyulut emosiku, "Singkat kata, kamu memang belum siap menikah denganku dan belum memiliki modal untuk menikahiku. Sebaiknya kita break." Aku meninggalkannya ketika bibirnya masih sedikit terbuka. Idealnya aku memberi kecupan di bibirnya sebelum pergi, tapi apalah daya aku tidak sedang mood mendengar orasinya tentang impian menjadi seorang pelukis beserta galeri mini yang pembangunannya menghabiskan sebagian besar tabungan yang seharusnya dia habiskan untuk pernikahan kami kelak.

Kami sudah beberapa kali membicarakan tentang pernikahan, tapi dia selalu mengalihkan pembicaraan dan menggantinya dengan pembicaraan seputar impiannya menjadi pelukis. Sesekali dia juga bertanya tentang impianku untuk mendapatkan beasiswa S2 keluar negeri, tapi please tidak bisakah kami membicarakaan impian pasangan pada umumnya, yaitu pernikahan? Itu kan impian yang menyatukan dua insan yang berbeda jenis kelamin, berbeda budaya, berbeda pendidikan, berbeda pekerjaan, berbeda impian dan masih banyak perbedaan lain.

Aku masuk ke dalam mobil yang tampak mellow menyambutku seakan-akan menyeleraskan diri dengan sang pemilik. Dalam tetesan air mata yang terus memaksa keluar, aku menyusuri ruas-ruas jalan yang masih ramai untuk kembali ke kota tempatku bekerja. Kenyataan bahwa Yanuar tidak mencegahku pergi atau tidak menyusulku mengindikasikan bahwa dia menyetujuiku keputusanku untuk break. Mungkin dia tidak mencintaiku lagi, mungkin dia sedang jenuh, mungkin dia memiliki wanita idaman lain, mungkin dia... Tidaaak! Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat. Yanuar masih normal.

Hujan rintik-rintik menambah dramatis suasana sore menjelang malam ini. Channel radio yang menurutku paling kece pun memutarkan lagu galau yang dinyanyikan oleh solois kece berinisial R. Aku yakin jika ibu berada di sampingku sekarang, ibu akan menyanyikan lagu om Rinto. Jadi, tolong jangan salahkan aku jika air mata mengalir lebih deras di pipi.

Sehari, dua hari, tiga hari, empat hari, nyaris seminggu, tidak ada kabar dari Yanuar. Biasanya dia akan cari-cari perhatian sehari setelah kami bertengkar. Kali ini berbeda. Ada apa dengan cinta? Bukan film, bukan itu maksudku. Maksudku ada apa dengan cintaku dan Yanuar? Aku menyandarkan tubuhku di kursi ruang kerjaku sambil memandang foto kemesraanku dan Yanuar yang ku beri bingkai yang menurut anak muda unyu-unyu. Sepulang kerja, aku memutuskan untuk memanjakan diri di sebuah rumah spa. Di sana, aku sempat tertidur pulas. Jika tidak dibangunkan oleh sang terapis, aku yakin bisa tertidur hingga hari baru tiba.

Dua minggu, tiga minggu, sebulan sudah Yanuar tidak menghubungiku. Aku juga menahan diri untuk tidak menghubunginya. Konyol saja jika aku menghubungi dia terlebih dahulu mengingat akulah yang melontarkan wacana tentang break.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan, nyaris setengah tahun, aku dan Yanuar break. Selama itu pula aku menahan rindu, sekaligus mempersiapkan diri apabila hubungan kami benar-benar berakhir. Tiba-tiba ponselku bergetar dan muncul nama Jony di layarnya. Belakangan ini Jony memang menaruh perhatian yang lebih dari sekadar teman kerja padaku. Dia meneleponku di Sabtu pagi, 'apa dia ingin mengajakku bermalam minggu?' pikirku. Aku memutuskan menerima panggilannya.

"Halo."

"Hana, ini Jony. Lagi sibukkah?"

"Gak. Gimana, Jony?"

"Kalau kamu gak sibuk, aku mau ngajak kamu makan malam."

Pembicaraan di telepon itu berujung pada makan malam bersama. Dia menjemputku ke rumah dengan penampilan prima seperti yang dulu dilakukan Yanuar ketika sedang menggencarkan PDKT. Jony memperlakukanku layaknya seorang putri sepanjang acara yang anggap saja kencan itu. Ketika aku sedang mengunyah irisan steak-ku, Jony menyatakan sesuatu yang nyaris membuatku keselak.

"Maaf kalau aku lancang. Aku ingin konfirmasi. Apa kamu sudah putus dari laki-laki yang dulu pernah menjemputmu di kantor? Aku dengar dari teman-teman, kamu sudah putus. Jika benar begitu, tolong berikan kesempatan padaku. Aku ingin mengenalmu lebih jauh."

Setelah mengusap mulutku dengan selembar tissu, aku merespon pertanyaan dan pernyataan Jony. "Kami memang sedang mempertimbangkan hubungan kami. Tapi kami tidak benar-benar putus."

"Bukankah itu sama saja dengan berada dalam status quo? Sudah berapa lama begitu?"

"Nyaris enam bulan." sahutku.

"Jika dia mencintaimu, dia tidak akan membuatmu terlunta-lunta atau menggantungkan hubungan begini. Ku pikir laki-laki sejati akan berkata dan bertindak tegas, ya atau tidak." Dia menarik nafas sejenak, lalu berkata, "Tapi sebaiknya kamu menghubungi atau menemui dia untuk mendapatkan kejelasan."

Pandanganku tertuju pada lantai yang tidak bersemut. "Heran, kenapa kamu tertarik padaku yang jelas-jelas mencintai laki-laki lain? Padahal aku tahu kamu disukai banyak wanita di kantor ini." Kemudian, pandangan ku arahkan pada Jony yang menatapku lekat-lekat. "Aku juga gak ngerti kenapa aku masih memikirkan, memedulikan, dan merindukan Yanuar."

Jony tersenyum manis. Astaga, laki-laki ini sangat tampan. Tidak hanya tampan, dia juga mapan. Kemungkinan besar aku akan hidup berbahagia dengannya seperti ending dongeng yang kerap ku dengar waktu kecil. Dibandingkan dengan Jony, Yanuar tentu saja kalah. Tapi....

"Carilah jawaban dari pertanyaanmu tadi. Tuntaskan urusanmu dengan dia. Aku toh tetap sekantor denganmu dan tetap menunggu sampai kamu resmi menjadi istri orang. Jangan tanya kenapa. Yang ku tahu, aku cinta sama kamu sejak pertama kali melihatmu di kantor ini. Setelah selesai makan, ku antar kamu pulang." Aku hanya bisa mengangguk.

Keesokan harinya, hari Minggu, aku memutuskan untuk menemui Yanuar di galerinya. Galeri itu memang masih minimalis, tetapi perabot di dalamnya menampilkan nilai yang maksimalis. Kedatanganku disambut oleh seorang pemuda yang tampaknya baru menginjak usia 20 tahun. Penampilannya agak urakan, tetapi cara berbicaranya tidak seurakan penampilannya.

"Selamat siang, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?"

"Saya mau bertemu dengan Yanuar."

"Mbak Hana ya?" Aku mengangguk sambil melirik ke pemuda lain yang asik menghadap laptop yang tampaknya terhubung dengan koneksi internet dengan headset menempel di kepala dan telinganya.

"Mari saya antar ke studio utama." Sambil mengarahkan jalan, pemuda itu berujar, "Mas Yanuar menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk menyelesaikan sebuah lukisan yang katanya akan menjadi mahakarya pertamanya."

"Oh ya?" tanyaku. "Silakan masuk, Mbak." Pemuda itu membuka pintu. Ku lihat Yanuar memulas kanvas sambil sesekali menyeka keringat di dahi dan dadanya. Dia tampak lelah, tapi tidak kehilangan semangat untuk menyelesaikan mahakaryanya. Begitu menyadari kehadiranku, dia terkejut.

"Hana?" Dia segera menhampiriku dengan wajah sumringah. "Sudah dari tadi di sini?"

"Barusan. Mahakaryamu sebentar lagi selesai." ucapku sambil menunjuk lukisan yang berbentuk seperti cincin berlian itu.

Yanuar cengar-cengir sambil menyeka keringat yang kembali menetes di dadanya. "Ada seorang kolektor yang berani membeli lukisan itu seharga 1000 dolar."

Sekarang giliranku yang terkejut, "Apa?"

"Iya. 1000 dolar Amerika untuk mahakarya pertamaku. Dia sudah membayar setengahnya sebagai tanda jadi. Lusa dia akan datang kemari untuk mengambil lukisan dan melunasi pembayarannya."

"Wow, kamu hebat sekali."

Yanuar tersenyum. "Yang hebat itu si Kinet yang sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk mengutak-atik laptop di ruang depan. Kamu mungkin melihatnya tadi. Dialah yang mempertemukanku dengan sang kolektor dermawan. Kamu gak mau tahu siapa dan apa yang mendorongku membuat lukisan itu?"

"Mau."

"Kamu dan keinginanmu agar kita menikah. Karena modalku belum cukup, aku hanya bisa melukis cincin berlian untuk melamarmu dan berharap agar kamu sudi menemuiku di galeri mini ini. Sudah hampir setengah tahun, rasanya aku nyaris putus asa. Ku pikir kamu tidak akan kembali. Tiba-tiba seminggu yang lalu datanglah kolektor yang membeli lukisanku tanpa ba bi bu dan sekarang, kamu, Hana."

Aku memeluknya dengan haru. Air mataku mengalir begitu saja. Yanuar menepuk-nepuk bahuku. Setelah tenang, aku menatap wajahnya sambil berkata, "Kita hanya kekurangan vitamin C, Cinta. Jarak dan waktu kadang bukannya mengurangi, justru menambah vitamin Cinta." Kami sama-sama tersenyum. "Ayo, kita makan." ajak Yanuar kemudian.

Di sinilah kami berada; di sore yang dihiasi cahaya jingga di cafe favoritku. Demikianlah, perenunganku berujung romantis.

Komentar
Signin/Signup

Selamat Datang di teen.co.id

Jika tidak dapat login/signup akun, silahkan kontak kami
Twitter: @teencoid, Facebook: TeenIndonesia, Email: teen@teen.co.id

Term & Condition