Hati-Hati Instagram Bisa Merusak Kesehatan Mental Remaja

Hati-Hati Instagram Bisa Merusak Kesehatan Mental Remaja

Chelsea Liong
Monday, 22 July 2019, 13:58:00 239 0

Beberapa waktu lalu, ketika saya melintas di pusat perbelanjaan, saya disenggol oleh seorang remaja karena dirinya sedang fokus melihat ponsel dan setelah saya lihat ternyata dia sedang bermain Instagram. Ini salah satu bukti bagaimana Instagram menjadi candu bagi para penggunanya. Kecanduan ini bahkan sudah menjamur pada berbagai kalangan, dari anak muda hingga ibu – ibu sehingga mereka lebih mementingkan konten yang diunggah di Instagram dibandingkan dengan kehidupan nyata. Ini miris enggak, sih?

 

Sebenarnya, Instagram sengaja dirancang supaya masyarakat dapat bersosialisasi dengan baik dan tali silahturahmi tak terputus oleh jarak dan waktu. Hal ini membawa dampak positif dalam berkomunikasi dengan teman – teman, keluarga, personal branding dan juga up date  segala hal. Namun, dibalik kelebihan tersebut ada juga dampak buruknya yang bisa merusak kesehatan mental secara perlahan, tanpa kita sadari. 

 

Menurut hasil survey dari CNBC, terlihat pada sampel 1.500 dimulai dari anak muda usia 14 tahun sampai 24 tahun itu menyatakan bahwa Instagram bisa membuat mereka menjadi rendah diri, minder, dan depresi karena setelah melihat postingan yang terlihat sempurna pada konten feeds Instagram. Misalnya, cyber – bullying yang berisi komentar negative dan tajam kepada orang yang memposting dirinya di Instagram. Hal ini dapat memicu tingkat depresi seseorang yang mendapat cyber – bullying. 

 

Mirisnya, komentar itu berupa olokan pada bentuk muka, tubuh, cara berpakaian, bahkan tutur kata sangat diutamakan pada saat membuat caption di Instagram. Nyaris tiada hari tanpa hujatan, fitnah, cemooh, lontaran kebencian, dan tuduhan keji atas kecurigaan tak berdasar di media sosial. Seakan-akan tiada waktu untuk mengevaluasi apakah mereka sudah benar menjadi pribadi yang berakhlak dan tak meracuni prinsip etis serta moral umum hingga membutakan hati nurani. 

 

 

Berbagai informasi di pusat perbelanjaan, lalu lintas, dan sebagainya yang diunggah oleh citizen journalist membuat masyarakat memiliki efek ketergantungan pada Instagram. Mereka mau tidak mau harus membuka Instagram untuk mengetahui apa yang sedang terjadi sekarang. Hal ini memicu masyarakat memiliki sifat FOMO (Fear of Missing Out) yaitu keadaan individu yang mengalami ketakukan jika ketinggalan informasi dari media sosial sehingga fenomena kecemasan ini dianggap sebagai penyebab buruknya regulasi diri. 

 

Hampir 70 persen masyarakat yang berusia 18 – 35 tahun mengalami sindrom FOMO yang berarti individu memiliki kecenderungan menjadi lebih cemas, mudah marah dan mereka lebih bisa mengontrol dirinya setelah melihat Instagram dan tentunya ini hanya bersifat sementara. Hal ini sangat miris karena secara tidak langsung fungsi otak dan mental kita sudah dipengaruhi oleh Instagram. 

 

Sudah terbukti bahwa banyak sekali anak remaja yang terkena potensi buruk dari penggunaan Instagram secara berlebihan, misalnya Barbie Kumalasari yang terseret kasus viral video ikan asin. Sebenarnya, hal ini merupakan informasi yang tidak penting bagi perkembangan mental anak remaja dan hanya membuat mereka menjadi semakin bodoh dan ikut campur urusan hidup orang. Sungguh miris bukan? Anak remaja yang seharusnya memikirkan masa depan mereka tetapi hanya terpaku untuk mengurusi urusan yang tidak bermanfaat.

 

Menurut Nurfajri tahun 2013, teori Kecanduan Media Sosial diartikan sebagai gangguan psikologis dimana penggunanya menambahkan waktu penggunaan sehingga dapat membangkitkan kesenangan, yang dapat menimbulkan kecemasan, perubahan mood dan depresi. Ada 3 macam tipe kecanduan yang dialami oleh manusia. Pertama, Heavy Users yang melihat Instagram sekitar 6 jam per hari sedangkan Medium Users 3 – 6 jam per hari dan yang terakhir Light Users kurang dari 3 jam. 

 

Salah satu dampak serius yang harus di tangani adalah kesehatan mental remaja itu sendiri apabila mereka terlalu focus terhadap apa yang ditampilkan di media sosial, seperti Instagram yang sebenarnya hanya membuat mereka memiliki sikap dan moral yang semakin rendah. Hal ini perlu dikhawatirkan oleh kita semua karena anak remaja merupakan sosok penerus bangsa ke depannya. Apabila mereka saja memiliki mental yang minim, siapa yang akan menjadi penerus bangsa selanjutnya?

 

Hal ini perlu ditekankan untuk mengatasinya dapat dilakukan ketika kita sedang berkumpul dengan teman atau keluarga, tinggalkanlah sejenak hp dan kesenanganmu di Instagram. Jangan terlalu focus dengan sesuatu yang ada di dunia maya. Lalu, alihkan juga kebiasaan untuk tidak selalu mengecek Instagram dan menjadikannya bukan suatu prioritas sehingga kita dapat menyibukkan diri dengan kegiatan yang lebih positif, misalnya berolahraga, membaca berita yang sebenarnya lebih penting daripada mencari tahu tentang gossip artis/public figure yang sedang viral di Instagram. 

 

Makna aman yang harus ditekankan adalah untuk meminimalisir pengaruh negative dari Instagram yang dapat menularkan kebiasaan dan perilaku yang menyimpang khususnya bagi generasi remaja atau millenials yang pikirannya belum semua dewasa. Apabila hal ini dapat ter-filter dengan baik dan pemahaman mereka menjadi lebih dewasa dalam menghadapi isu – isu dan berbagai macam persoalan maka masyarakat akan terbebas dari racun Instagram yang hingga sekarang sangat melekat pada kita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Last Editor : Vallesca
Komentar