vanya amalia putri
Saat Terakhir dalam Mimipi
Hai Teenholics, buat yang senang nulis cerpen,puisi atau membagi pengetahuan dan lainnya, kamu boleh corat coret disini.
“Mohon maaf kepada Bapak-Ibu guru yang sedang mengajar di kelas.” Kata seorang guru melalui speaker. “Sehubungan dengan adanya UAS kelas XII hari senin sampai kamis minggu depan, siswa/i kelas X dan XI IPA/IPS belajar di rumah. Masuk lagi hari jumat depan belajar seperti biasa. Dan diharapkan untuk seluruh siswa/i membersihkan kelas masing-masing setelah jam istirahat. Terima kasih.”
“Horee…….” Seluruh siswa/i bersorak sorai bergembira kecuali Iren.
“Huft… Libur lagi! Setelah ini, gue ga akan bisa ketemu Ari lagi.” Iren menghela nafas. Ari itu anak kelas XII A 2 yang sangat disayang Iren bukan sayang dalam arti perasaan adik kelas pada kakak kelas. Mereka ‘dulu’ sering bercanda dan tertawa bersama. Semua teman terdekat Irenpun mengenalnya dan mereka sangat tahu kalau Iren sayang Ari.
Teng…Teng…Teng… Bel istirahat sekaligus bel saatnya bersih-bersih berbunyi. Dengan lesu, Iren membereskan bukunya dan ikut bergabung dengan teman sekelas lainnya yang sedang bersih-bersih.
“Eh, Ren!” Sapa Dini, temanku yang tak sekelas denganku. Dini datang bersama Lala teman sekelasnya yang juga temanku. “Ke warnet yuk setelah bersih-bersih! Gue mau masukin foto ke Facebook ni!”
“Yah, Din! Terus gue ngapain?” Tanya Iren dan Lala hampir bersamaan.
“Kenapa lo ga bikin facebook? Kan sekarang lagi jamannya facebook!”
“Ga akh! Friendster gue aja udah ga keurus! Ya udah gue sama Lala ke tempat lain aja! Lala kan juga ga ada urusan ke warnet! Sekalian nungguin jam footsal lo ma Lala! Eh, tunggu deh, footsal jam berapa?” Dini dan Lala memang sama-sama mengikuti ekskul footsal.
“Jam 2an.” Sahut Lala yang daritadi diam saja.
Iren melihat jam tangannya. “Ya ampun, masih lama banget! Sekarang aja masih jam 9!”
“Ya udah kita kemana dulu kek! Ntar kita balik lagi ke sekolah!” Bujuk Lala.
“Nah, pas banget! Anterin gue beli komik yuk! Persediaan buat liburan UAS!” Ajak Iren.
“Ya udah tapi jam 10an aja ya! Jam segini mall banyak yang belum buka?!” Tawar Lala.
“Oke! Ntar lo ke kelas gue aja! Lha, terus Dini gimana?”
“Gue mau LLC sekitar jam 10an jadi gue nunggu di sini aja deh!” Sahut Dini.
“Ya udah, ntar gue balik lagi ke kelas lo!” Kata Lala sambil berlalu pergi bersama Dini.
Iren masuk ke dalam kelas membantu teman-teman yang lain membereskan kelas. ‘Aduh, Ari kemana sih? Daritadi pagi ga keliatan?!’ Iren membatin sambil sesekali menengok ke arah kelas Ari di seberang kelas Iren. Tak ada sedikitpun tanda-tanda yang menunjukkan Ari berada di sana. Yang ada hanya Rizki, teman Ari yang selalu bersama Ari.
Tak beberapa lama kemudian, Lala datang. Iren dan Lala segera beranjak pergi ke mall. Sesampainya di mall, Iren dan Lala tak membuang waktu. Mereka langsung ke toko buku. Iren mencari komik yang sangat diinginkannya. Hanya butuh waktu 20 menit untuk menemukan komik itu. Setelah Iren membayar komik tersebut, mereka segera beranjak menuju McD. Iren membeli McFlurry kesukaannya sedangkan Lala membeli McFloat. Iren merasa dengan makan ice cream, kesedihannya akan berlalu. Begitupun sekarang, Iren merasa sangat senang dan tak ada beban saat melahap McFlurry dihadapannya. Setelah menghabiskannya, mereka beranjak untuk segera kembali ke sekolah. Setibanya di sekolah, Iren dan Lala segera mencari Dini di perpustakaan.
“Door…” Seseorang menepuk pundak Iren dan Lala saat mereka sedang mengintip perpustakaan mencari-cari sosok Dini. Dengan sedikit ragu-ragu, Iren dan Lala menengok ke belakang.
“Huft…” Kata Iren menghela nafas setelah melihat kalau Arilah yang datang.
“Aduh, kak Ari ngaget-ngagetin aja!” Lala ngomel-ngomel.
“Ya abis, kalian ngapain di sini ngintip-ngintip?” Tanya kak Ari.
“Yee.. Kita kan lagi nyariin Dini!” Sahut Lala masih rada kesal. Ari hanya tertawa kecil melihat tingkah Lala yang seperti tertangkap basah mencuri. Iren hanya diam dan ikut tersenyum.
‘Udah lama benget rasanya aku ga ngeliat senyum itu. Terakhir, kalau ga salah 5 bulan lalu sebelum kejadian itu. Kejadian yang membuatku sangat terpuruk. Saat aku tau Ari telah memanfaatkanku untuk mendapatkan Risa-teman sekelas Iren-. Dan Risa yang menusukku dari belakang. Padahal Risa tau kalau aku sayang Ari. Tapi, kenapa dia ga ngerti posisinya sebagai temanku dan malah smsan dengan Ari hingga aku tau sendiri dengan tak sengaja membuka inboxnya yang banyak sekali sms dari Ari. Aku memang tak begitu mempermasalahkannya di hadapan Ari karena aku sayang banget sama Ari dan aku ga mau kalau hubunganku sama Ari rusak. Tapi, menapa Risa sangat tak tau diri?!’ Iren membatin dan tanpa terasa air matanya menetes.
“Lho, Ren… Lo kenapa?” Tanya Ari dengan nada cemas.
“Ah, eh, ga pa-pa kok kak! Cuma kelilipan!” Sahut Iren sekenanya.
“Hoy…” Sapa Dini yang baru keluar dari perpustakaan. “Ngapain di luar? Udah, masuk aja ke perpus! Eh, ada kak Ari toh! Hai kak!” Sapa Dini.
“Hai, Din!” Sahut Ari.
“Ya udah deh, Din, La, gue pulang dulu ya! Lo kan masih mau footsal!” Iren pamit.
“Yah, Lo nungguin kita aja sekalian!” Bujuk Lala.
“Ga deh kayaknya! Gue mau tidur! Hhe…” Sahut Iren. ‘Sejujurnya gue ga tahan lama-lama di sini berhadapan sama Ari. Gue bisa nangis lagi.’ Batin Iren.”Ya udah deh, duluan ya Din, La, kak Ari!” Dengan tersenyum aku beranjak untuk segera pulang. Namun, tak sampai 2 meter air mata Iren mengalir lagi. Iren tak mau ada yang melihatnya menangis. Iren berlari keluar sekolah dan segera menyetop sebuah angkot yang menuju rumahnya.
“Huhuhu… Bodoh-bodoh-bodoh… Setelah ini tuh lo ga akan pernah ketemu dia lagi! Kenapa kesempatan ini malah lo sia-siain, Iren! Lo emang bodoh, Iren!” Iren merutuki dirinya sendiri setelah tiba di kamarnya.
©
Hari dengan cepat berlalu. Tanpa terasa sudah hari terakhir UAS berlangsung. Iren sedikit bimbang untuk mengirim sms pada Ari. Namun, sekitar pukul 2 siang Iren memutuskan harus mengirim sms pada Ari.
Cie-cie yang udah selesai dari segala macam ujian.. Wah-wah yang udah free.. Pasti setelah ini anak kelas XII ga bakal dateng ke sekolah lagi ya kak?! Eh, kak, pengumuman kelulusan kapan?
Sender : Iren
Lama Iren menunggu. Namun tak juga dibalas sama Ari. Iren sedikit putus asa. Akhirnya karena terlalu lama, Iren mengirim pulsa ke Ari. Biasanya, Ari kalau memberi alasan pada Iren mengapa tak membalas smsnya adalah karena ga punya pulsa. Jadi, mungkin dengan Iren memberi pulsa, sms Iren akan dibalas oleh Ari. Namun, hingga sekitar pukul 11 malam tak ada tanda-tanda Ari akan membelasnya. Akhirnya, Iren tertidur di samping handphonenya.
Paginya, Iren bangun tidur dengan tak bersemangat. Iren segera mandi, sarapan dan langsung berangkat sekolah.
“Huft..” Iren menghela nafas saat meletakkan tasnya di atas meja. Satu persatu teman Iren berdatangan. Iren segera beranjak ke toilet untuk merapikan penampilannya sebelum pelajaran dimulai. Namun, di tengah jalan, Iren bertemu dengan Ari yang ternyata datang ke sekolah.
‘Aduh, gue harus bersikap kayak gimana ya? Gue pengen banget dia ngasih alasan kek kenapa dia ga bales sms gue!’ Batin Iren berharap. Namun, pada kenyataannya tak terjadi apapun. Ari hanya tersenyum kecil saat berpapasan dengan Iren.
“Iks-iks, dia jahat banget sih sama gue!...............” Iren menceritakan apa yang terjadi pada Tia, teman sekelas Iren yang mengetahui semua cerita tentang Ari dan mengenal Ari.
“Ya udah! Lo sabar aja ya!” Kata Tia menenangkan Iren. Namun, Iren belum tenang seutuhnya. Seharian selama di sekolah, Iren tak seperti biasanya. Iren hanya duduk dalam diam.
“Huhuhu….” Iren melanjutkan acara menangis di sekolah yang tadi tertunda begitu sampai di rumah. “Kenapa sih dia jahat banget sama gue?! Padahal gue sayang banget sama dia! Apa ini balasannya menyayangi seseorang dengan tulus?”
Iren melampiaskan kekesalannya pada barang-barang yang ada di kamarnya. Ia melempar semuanya yang bisa dilempar hingga seisi kamarnya tampak seperti kapal pecah. Namun, seperti biasanya. Amukan Iren hanya berlangsung selama 1 jaman. Iren akhirnya tertidur karena kelelahan.
“Hai, Tia!” Sapa kak Ari pada Tia di depan kelas Tia.
“Hai, kak! Ada apa? Kok tumben?” Tanya Tia kebingungan.
“Ah, Ga pa-pa kok! Gue ke sini cuma mau minta maaf sama lo! Doain ya supaya gue lulus dengan nilai bagus!” Kata Ari sambil menjulurkan tangannya.
“Oh, pastinya dong kak!” Tia membalas uluran tangan Ari.
“Eh, ada Iren!”Ari menengok ke sebelah Tia dimana Iren sedang duduk. “Gue juga mau minta maaf sama lo! Doain gue ya supaya gue bisa lulus dengan nilai yang bagus!” Kata Ari sambil menjulurkan tangannya juga pada Iren.
Iren segera berdiri dan mebalas uluran tangan Ari. “Pastinya kak!” Kata Iren.
“Ini!” Ari mengeluarkan 2 buah coklat dari tasnya. “Anggap aja kenang-kenangan!”
“Hh..Hh..Hh..” Iren tersadar dari tidurnya dengan keringat dingin. “Aduh, kenapa aku mimpi kayak gitu ya?! Mudah-mudahan ga akan terjadi apapun. Mungkin karena aku kelelahan kali ya jadinya mimpi Ari pamit mau lulus.”
Hari berganti tak terasa sudah hari Senin. Iren segera mandi, sarapan dan berangkat ke sekolah. Setibanya di sekolah, Iren mencari-cari keberadaan Ari. Namun, Ari tak ada di manapun di sekolah. Hari berikutnya pun sama saja. Ari tak datang ke sekolah. Sampai pengumuman kelulusan pun, Ari tak datang. ‘mungkin Ari melihat kasil UAN dan UASnya di website sekolah ya?!’ Batin Iren yang mulai putus asa.
‘Huft.. Mungkin mimpi itu pertanda aku ga akan ketemu Ari lagi setelah itu. Jadi, itu tanda perpisahan Ari padaku walau hanya lewat mimpi. Mungkin aku memang harus mulai membiasakan diri tanpa Ari di sekolah. Tanpa kehadirannya yang menerangi hari-hariku. Tanpa kehadirannya yang selalu ada di depan kelasnya saat istirahat lagi. Aku harus bisa tanpanya. Tanpa kehadirannya. Aku harus melepaskannya supaya dia bisa mengejar cita-citanya. Ya, aku harus bisa!’ Pikir Iren.
©
Komentar
RSS feed untuk komentar ini