Rabu, Juni 19, 2013
Blog merry imania hasanah “ SURAT UNTUK PERI SURGAKU, ZULFA”

Teen Blog

Hai Teenholics, buat yang senang nulis cerpen,puisi atau membagi pengetahuan dan lainnya, kamu boleh corat coret disini.

  • Home
    Home This is where you can find all the blog posts throughout the site.
  • Categories
    Categories Displays a list of categories from this blog.
  • Tags
    Tags Displays a list of tags that has been used in the blog.
  • Bloggers
    Bloggers Search for your favorite blogger from this site.
  • Team Blogs
    Team Blogs Find your favorite team blogs here.
  • Archives
    Archives Contains a list of blog posts that were created previously.
  • Login

“ SURAT UNTUK PERI SURGAKU, ZULFA”

Posted by on in Teenlit (Cerpen)
  • Font size: Larger Smaller
  • Hits: 1498
  • 1 Comment
  • Subscribe to this entry
  • Print
  • PDF

Assalamualaikum wr.wb

    Kutulis untukmu dengan perasaan yang sangat rindu,ku ingin kau membacanya dengan hati yang indah karena kau yang terindah yang pernah Tuhan kirimkan untuk mengisi kekosongan jantungku yang kecil ini.

Semoga surat ini bisa mewakili perasaanku yang teramat dalam karna kehilanganmu.

Sungguh, sungguh sulit mengungkapkannya seperti apa diriku setelah kau meninggalkanku! ! !

    Jika teringat saat pertama berjumpa denganmu, aku tersenyum. Kau tau,betapa kagumnya aku melihat sosokmu waktu itu. Kau berjalan menyusuri anak tangga, kurasa merekapun sama bahagianya denganku karna seorang gadis cantik yang kulitnya putih bagai mutiara cina, berhidung mancung seperti Yoona girls generation, dengan senyum khasmu yang jauh lebik baik dibanding siapapun di dunia ini, yang sulit untuk dilupakan siapapun yang menatapmu, melewati kami dengan perasaan semerbak bagai flamboyan berdaun rimbun.

Kurasa, kau jauh lebik indah dari banyak crissant yang ada, jauh lebih merdu dari sitir berdawai, dan kau juga sulit untuk dipelajari seperti hieroglif.

Kau tau zulfa, diam-diam aku mengagumimu, lalu suara hatiku membisikkan sesuatu. . .

"mungkin akan lebih beruntung jika aku memiliki seorang gadis yang elok bagai peri sepertimu"

entah dengan cara apa aku mendekatimu, bahkan untuk tau namamu saja aku begitu kesulitan. Kau boleh tertawa jika bagimu aku lucu.

SYARIFAH ZULFA ALBAITY, betapa indahnya namamu sejak itu mulai perlahan terukir dengan baik di jantung hatiku. Secara astrologi, kau adalah gadis libra yng sulit didekati dan terus membuatku penasaran, bergolongan darah AB dan kau terlahir pada tanggal 14 oktober 1989 tepatnya di hari sabtu dilahirkan dari rahim seorang ibu. Pasti saat bayi kau sangat lucu sekali dan takkan pernah menyangka bayi yang lucu itu tumbuh seperti seorang peri dari negeri-negeri Fairythopia, gadis cantik yang hinggap dipelupuk kalubuku.

Jika kau ingat, perjalananku mendapatkanmu begitu rumit perlu waktu berbulan-bulan untuk meyakinkanmu bahwa akulah orang yang tepat untukmu mengeluh dan bersandar. Perlu waktu 7 bulan untuk membuatmu percaya padaku seutuhnya. Kau ingat? Jika ingat kau pasti tersenyum dengan baik, senyum musim semi yang membuat sakura bermekaran.

Aku tak tau seperti apa ekspresimu ketika aku menyatakan perasaanku padamu, karna bodohnya aku dan tak jentelnya aku menyatakannya tidak secara langsung dengan mudahnya aku melewatkan ekspresi wajahmu ketika itu. Apa kau bahagia waktu itu zulfa?

Aku sangat bahagia jika kau bahagia dan mengiyakan pertanyaanku. Ingat, saat kita pertama kalinya pergi bersama sebagai seorang kekasih? Kau tampak begitu ceria, seperti itulah dirimu dalam bayanganku. Untuk pertama kalinya aku yang tak pernah mempercayai orang lain begitu percaya padamu, kaulah kekasih sekaligus sahabatku. Aku menceritakannya hanya padamu seorang. Kau orang yang kutemukan dengan tepat diantara banyaknya orang, seperti satu-satunya oase di sahara. Hanya kau yang begitu mengerti siapa aku dan bagaimana aku? Tempatku mencurahkan isi hatiku itulah dirimu Zulfa sayang, hari demi hari kita lalui bersama berjalan dengan baik seperti layaknya pasangan kekasih lainnya, tapi kurasa bahkan jauh lebih indah, semakin baik, semakin percaya, semakin bulat tekadku bahwa ALLAH telah mengirimkan peri secantik dirimu untuk menemaniku selama ini. . .

Beruntungnya aku memilikimu, rasanya tak ada yang lebih beruntung dariku di dunia ini bahkan Lee Min Hoo sekalipun, karna kau tau Park Min Young bahkan tak secantik dirimu Zulfa.

Jika teringat bagaimana sulitnya mendapatkan nomor telphonmu waktu itu, betapa sulitnya membujuk mengajakmu sekedar menonton film saja. Betapa aku harus mengumpulkan tekadku dengan bulat untuk menyatakan perasaan karna nyaliku kaku saat kau menolak ajakanku, dengan keyakinan aku takut di tolak olehmu, karna kau cinta pertamaku yang datang setelah lulus dari seragam putih abu-abu. Jika ingat itu semua, aku takkan pernah melepaskanmu seumur hidupku biarlah hanya ALLAH yang tau betapa tulusnya aku padamu. . . lebih tulus dari yang terlihat atau di bayangkan Zulfa.

Setelah 9360 jam perjalanan cinta kita dimulai, saat-saat seperti itu adalah saat anggur-anggur hijau tumbuh dan berbunga tapi entah mengapa satu anggur berguguran? Pemandangan yang sebenarnya tak ingin kulihat, saat-saat dimana kau mengeluh padaku, suaramu begitu kelu.

“ aku merasa sakit, tubuhku sangat sakit” ujarmu waktu itu, kau tau. Betapa khawatirnya aku. Dengan harapan tidak akan ada apa-apa denganmu, Zulfa. Kita hadapi bersama cobaan itu ketika Dokter memvonismu mengidap penyakit kelenjar getah bening yang tumbuh dikerongkonganmu tumbuh menjadi sebuah benjolan dan kau harus segera di operasi. Kau tau betapa khawatirnya aku waktu itu? Saat kau menjalani operasi untuk mengangkat benjolan dilehermu, rasanya ingin menangis tiada henti tapi saat-saat operasi berjalan dengan baik dan masih bisa melihatmu, meski lemah tak berdaya, kau tamnpak ringkih dan mengkhawatirkan, tapi mengingat masih bisa menjagamu saja, aku merasa menjadi lebih baik.

“Zulfa sayang, cepatlah sembuh agar nanti kau bisa kembali kerumah” ujarku, hatiku bagai air mendidih yang bergolak ketika kau mengangguk dengan pasti. Bahkan saat masih tergeletak dirumah sakitpun, sedang terbaring tak berdaya kau terus mengingatkanku.
“sayang, pakailah jaketmu. Jangan lupa ya, karna disini terlalu dingin” Ujarmu di sebrang sana ketika menelphonku waktu itu, betapa nyilunya hatiku, disaat seperti itupun kau masih mengingatkan aku.

Kau masih ingat kan? Aku selalu mengingatnya sampai saat ini.
Keadaanmu berangsur membaik dan pulih, begitu leganya aku saat itu, saat kau keluar dari rumah sakit. Aku berharap bias terus menjagamu, tak peduli sampai kapan aku ingin terus disampingmu. Tapi sepertinya, meski keadaanmu membaik aku tetap saja merasa khawatir dan ternyata kekhawatiranku benar, selang beberapa hari saat kau keluar dari rumah sakit. Kondisimu menurun drastis dan  kau harus menjalankan perawatan lagi. Hatiku seperti teriris sembilu, betapa sakitnya hatiku Zulfa melihat tanganmu terlilit selang infuse, rasanya aku ingin menggantikanmu saja.

Wajah peri surga itu, terbaring dengan manis ditempat tidur rumah sakit. Aku terus menemanimu, menjagamu siang dan malam, tak peduli apa yang telah aku korbankan hanya untuk bisa menjagamu dan tak melewatkan sedetik demi sedetik kebersamaan itu. Bagiku sangat romantis walau terkesan begitu tragis. . .

Kekasihku yang juga sahabatku, Zulfa. Sungguh aku menyatakan bahwa kau begitu berarti dihidupku, aku sulit berkata-kata waktu itu karna melihatmu tak kunjung membaik. Tujuh hari kau terbaring disana, kondisimu begitu lemah, kau disarankan untuk menjalankan kemotherapy tapi karna kondisimu begitu lemah dan dengan kepasrahanmu yang seperti itu tidak mungkin membawamu dengan perjalanan yang cukup jauh dalam kondisi yang sulit untuk aku jelaskan. Kau ingat? Kau di bawa kembali pulang ke rumah, seperti biasanya aku selalu ada di situ, disampingmu.

Waktu itu kau mulai bicara dalam keadaan yang serius.
“sayang, carilah gadis lain karna aku rasanya sudah tak pantas lagi untukmu. Aku gadis yang sakit-sakitan” ujarnya, dengan rasa ingin marah aku katakan padamu.
“jangan bicara seperti itu” ujarku, kau ingat kan zulfa? Kau pasti ingat! Itu semata-mata untuk membuatmu segera kembali seperti dulu padaku yang masih selalu setia menunggumu dipenghujung usiamu. Saat itu tepat tanggal 7 Oktober sekali lagi aku katakan padamu.
“sayang, cepatlah sembuh bukankah satu minggu lagi kau berulang tahun?” ujarku pelan padamu yang terbaring dikamarmu, ruangan yang menjadi saksi-saksi bisu dimana aku begitu khawatir.
“iya, ulang tahunku” ujarmu dengan manis, kau tau Zulfa. Waktu itu meski dengan keadaan yang seperti itu kau tetap saja cantik seperti peri-peri dongeng barby, kau bahkan jauh lebih cantik.

Malam itu di tanggal 7 Oktober aku menyuapimu, aku ingin sekali melihatmu sembuh dan ceria seperti waktu dulu. Bukan hanya aku tapi orang-orang terdekatmu.
Setelah kau tertidur, aku sengaja tidak berpamitan denganmu karna kau begitu tidur dengan lelap. Jejakku rasanya sangat sulit untuk melangkah keluar kamar yang begitu menggambarkan seperti apa dirimu!

Aku kembali kerumah, ketika tanggal 8 oktober 2011, ketika suara adzan subuh selesai di kumandangkan, SYARIFAH ZULFA ALBAITY kekasihku dipanggil untuk menghadap Sang Maha Pencipta. Betapa hancurnya hatiku, rasa sakit yang bisa menyiksaku seumur hidup, betapa aku menahan sekuat mungkin rasa sakitnya menancap ke ulu hatiku, bagaimana aku bisa hidup setelah itu Zulfa sayang? Bantu aku tetap berdiri di dua kaki yang begitu gemetar mendengar berita duka itu sayang.

Zulfa sayang, aku sungguh mengikhlaskanmu. Firasatku ketika melihat keranda keluar dari rumahmu dan saat ku temui tak ada lagi dirimu waktu itu, mimpi yang benar-benar terjadi. Aku kehilanganmu kekasihku, benar-benar kehilangan kekasihku.
Aku bahkan sempat berpikir untuk menyusulmu ke akhirat seperti Oferus yang begitu cinta pada pada Eridik dalam mitologi yunani kuno, tapi aku tak ingin sebodoh itu, bukankah hidup harus tetap berjalan meski tanpamu sayang?
Bukankah secara tidak langsung saat kita terlahir kedunia, perlahan-lahan kita berjalan menuju kematian? Betapa aku harus sabar menjalani ini sayang!

Tak ada yang lebih indah darimu Zulfa, kau tetap jauh lebih indah dari tarian aurora, tetap jauh lebih indah dari kerlipnya ribuan kunang-kunang di malam hari, semoga ALLAH menempatkan dirimu di tempat yang telah DIA sediakan untuk orang-orang Nya yang beriman. Jika 1000 bangau kertas Senbazhuru Orikata atau 1000 bangau Origami Tsuru dan disetiap kepak sayapnya mengandung cinta dan bias mengabulkan permintaaan akan kubuatkan untukmu agar kau kembali padaku. Tapi sepertinya itu hanya berlaku untuk Sadako Sasaki bukan untukku. Kini, meski sudah empat bulan kau meninggalkanku, betapa rindu yang begitu besar memburuku, aku lemah tanpamu, hatiku bahkan tak sesempurna dulu. Tolong sayang beri aku semangat yang waktu dulu, aku belum bisa mencari gadis lain, jantungku yang kecil hanya butuh satu orang saja dan itulah dirimu.

Zulfa sayang, kau tau kalau cinta sudah bertakhta apalah yang sanggup menghalangi? Tetapi cinta, menjadi tak sederhana ketika kita tak juga berkata, aku cinta. Kala cinta mengambil pena untuk menggambar masa depan kita coretannya begitu lembut melukis dalam tinta kukuh seorang pasangan, sahabat, dan kekasih yang akan melengkapiku dan begitu denganmu. Kemudian kau melukis dalam tetesan untuk mengingatkanku bahwa kita saling terhubung meski kau telah tiada lagi di dunia, kemanapun aku menoleh, kau akan ada disana. Bukan begitu?

Unutkmu peri surgaku, Zulfa. Aku mengerti apa itu cinta, setelah kau tiada. Aku tak ingin lupa denganmu. Tapi tolong bantu aku menjadi aku yang dulu. Seandainya aku punya setangkai bunga setiap kali mengingatmu, aku dapat berjalan selamanya di tamanku.

Rate this blog entry:
Trackback URL for this blog entry.
Terimakasih untuk Allah atas kesempatan-kesempatan kecil yang telah diberikan kepadaku ditahun 2013 yang penuh berkah ini, disetiap waktu terselip kesempatan, disetiap waktu yang diberikan kuhargai dengan setiap senyuman paling berharga...

terimakasih untuk waktu yang terus memberiku kesempatan. . .

Komentar  

 
0 #1 Ayu Ariani Pratama 28-02-2012 16:54
mau biografi penulis cerpen ini doong buat tugas resensi cerpen :)
Quote
 

Tambah Komentar

Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi teen.co.id. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.