Ini kisahku tapi mungkin juga kisahmu…
“Maurin Virginia Kusuma”
“Saya” aku mengangkat tanganku ketika seorang kakak kelas mengabsen! Ya,hari itu hari pertamaku menginjakkan kaki di SMA terbaik di kotaku, awalnya sangat menyenangkan tapi berubah saat masa orientasi siswa di mulai….
Semuanya jadi sangat menyebalkan, aku tak pernah bermimpi masuk sekolah terbaik karna aku tak pandai ! ! ! bukan karna beruntung atau saat tes masuk aku mencontek , tapi semuanya karna uang. Apapun bisa kau lakukan jika kau punya uang termasuk membeli satu bangku di sekolah seperti yang waktu itu kulakukan.
Beberapa hari setelah orientasi rasanya jadi berbeda karna di sekolah itu begitu banyak aturan, aku sungguh malas berangkat kesekolah walau hanya didepan gerbangnya saja. Tapi ada sesuatu yang kadang membuatmu jadi sangat bergembira berangkat kesekolah, ada seseorang yang membuat hatiku jadi tak menentu jika tak datang kesekolah walau hanya untuk melihatnya saja. Teman satu kelasku yang sangat misterius, dia kerap kali duduk dibangku sebelah kanan bangkuku, dia seorang pria, dia tampan, pintar, tapi bahkan tak pernah menyapaku sedikitpun, aku memang sedikit menyedihkan. Dia sungguh tak bereaksi apa-apa ketika murid-murid yang lain tertawa, dia sangat berbeda, tapi karna itu aku justru ingin sekali bicara padanya walau diberi kesempatan sedetik saja.
Waktu itu, saat pertama melihatnya…
“Dicky Ryan Saputra” ketika nama itu disebut, dia mengangkat tangannya tanpa tersenyum dan sangat dingin, dia lebih dingin dari dinginnya salju di kutub utara mungkin karna itu hatinya ikut membeku pula. Sejak pertama melihatnya hatiku bergetar, aku bahkan tak pernah lepas memandanginya, sejak itu pula aku memutuskan untuk terjun dengan bebas memasuki dunia yang bernama cinta! ! ! aku memang tak pernah tau apa itu cinta? Bentuk yang seperti apa dan rasa yang bagaimana? Hanya saja aku merasa yang kurasakan jika melihatnya dan dia berubah jadi begitu penting dalam hidupku.
Dari awal duduk di bangku kelas satu, dia tak begitu akrab dengan banyak teman, tapi dikelas ada teman yang sangat akrab dengannya “ Reka dan Arya”. Entah mengapa mereka berdua bisa sangat akrab dengannya? Dan aku juga tak pernah tau mengapa dicky juga tak pernah menyapaku dan teman lainnya kecuali mereka berdua….
“ Maurin, apa boleh pinjam pulpen mu?” Tanya Arya beberapa waktu itu ketika duduk di belakangku.
“ tak usah pinjam, ambil saja… jika untukmu pasti ku berikan” aku memberikan pulpenku padanya, dia tersenyum dan segera mengambilnya.
“ Maurin,mengapa kau baik sekali pada semua orang?gadis cantik yang lugu itulah dirimu… apa kau sudah punya pacar?” tanyanya sambil menggoda.
“ apa aku harus berubah jadi jahat? Jika aku punya pacar apa yang kau pikirkan?”
“ mungkin aku patah hati, apa kau tak peduli dengan perasaanku?” tiba-tiba dia tertawa ketika melihat ekspresiku yang seperti waktu itu, aku tau dia hanya bercanda.
“ arya, mengapa hanya kau dan reka yang bisa bicara dengan Dicky? Mengapa aku tak bisa?” tanyaku penasaran.
“kau menyukai Dicky? Tampak dari caramu yang bicara seperti itu!” dia mulai menggoda.
“iya…apa benar-benar terlihat seperti suka padanya?” Tanyaku lugu.
“ kau terlihat sangat suka padanya…kau tanya saja pada Reka jika ingin bicara pada Dicky” dia menatapku sambil tersenyum dengan manis, apa aku tampak begitu lucu sampai Arya tersenyum sampai seperti itu?
Dicky memang terlihat begitu berbeda dari pria yang lainnya, aku suka padanya karna hal itu. Setiap istirahat aku mengikutinya ke perpustakaan hanya untuk bisa melihatnya membaca buku, jika setiap hari sabtu aku mengikutinya ke lapangan basket sekolah hanya untuk melihatnya bermain basket walau hanya sendirian saja… yang ku tau dia tak mau ikut club basket sekolah karna begitu menyita waktu belajarnya. Kadang aku merasa Dicky yang amat aku sukai itu begitu aneh…
Dia terus menjadi bagian dalam cerita lembaran demi lembaran kertasku disetiap harinya, meski aku sendiri tak mengerti tapi aku jadi begitu setia dengannya, dengan kisah-kisahnya. Perasaanku jadi begitu rumit di jelaskan… bagai musim sakura yang berguguran menggambarkan perasaan orang-orang jepang yang begitu setia dengan tradisi hanami. Perasaan yang berlebihan tapi sangat sulit dirasakan. Sudah cukup seperti itu, akupun sudah merasa sangat bahagia.
“ Maurin, apa boleh pinjam buku fisikamu lagi?” sapa Reka padaku.
‘ ambillah, untukmu saja jadi kau tak perlu bolak-balik meminjam buku padaku”
“Dicky Ryan Saputra, mengapa ada namanya?” Reka membaca sampul bukunya.
“ssstttt…bisakah kau pelankan suaramu agar tidak ada yang mendengarnya?”
“ kau menyukainya ya?” aku tersenyum sipu karna malu, percaya tau tidak semua buku pelajaran kutulis namanya hanya agar semangat berangkat kesekolah.
“ Reka bolehkah aku bicara pada Dicky?” tanyaku padanya.
“ bicaralah sepuasmu, kau tak perlu izin padaku jika ingin bicara padanya. Apa kau suka padanya sengan serius?” tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk pasti, Reka memang teman yang baik hati pada siapapun sia begitu hangat dan menyenangkan aku jadi tak perlu khawatir tidak punya teman jika Reka di sisiku. Tak terasa waktu terasa lebih singkat saat duduk dikelas satu, semua teman sedang sibuk belajar mempersiapkan diri untuk ujian kenaikan kelas dan mempersiapkan jurusan. Apa saja bagiku sama saja asal bersama Dicky aku akan terus sekolah meski nilai tak baik, aku tak perlu takut tak naik kelas jika tak belajar, tak perlu repot-repot memikirkan jusrusan karna ku yakin bisa masuk IPA dengan mudah.
“ Dicky akan ikut ujian IPA unggul yang akan diadakan 1 minggu lagi, Maurin apa kau mau ikut? Karna aku dan Reka akan ikut ujian itu” ujar Arya padaku.
“ aku kan tidak pintar seperti kalian berdua, aku ini yang sekolah karna punya uang bukan karna punya otak yang pintar seperti kalian” ujarku jujur.
“ kau tak perlu seperti itu, jika kau mau belajar aku yakin kau pasti juga bisa jadi pintar.. semua itu butuh proses” jelas Arya sambil tersenyum. Aku memang tak pintar, bahkan sangat bodoh, aku yang tak pernah mencatat pelajaran, tak pernah mengerjakan PR dan aku tak suka mencontek. Meski bodoh akulah orang yang tak suka mencontek, lebih baik tak mengerjakan daripada harus mencontek tugas temen-temanku. Kurasa semua guru begitu mengenalku. Jika dibandingkan dengan yang lain aku memang murid terbodoh, aku juga merasa tak pantas dengan Dicky yang nilainya memang slalu bagus dan terus jadi murid kesayangan semua guru-guru.
Benarkah aku yang bodoh tak pantas dengan pria yang rasanya jauh lebih pintar dari seorang Eintens? Seperti yang Arya katakan jika belajar pasti bisa jadi pintar, akupun berusaha memulainya. Aku mungkin bisa membeli apapun yang aku mau kecuali otak manusia-manusia pintar. Demi cinta sepihakku, aku berusaha untuk bisa kembali sekelas dengan Dicky lagi. Aku yang awalnya sangat malas berangkat kesekolah hanya karna menyukai Dicky aku terus bertahan di sekolah menyebalkan itu dan waktu itu aku merasa harus belajar dengan keras agar bisa sekelas dengan pujaan hatiku.
Waktu itu aku memutuskan untuk mendaftarkan diri mengikuti ujian IPA unggul, semua teman bahkan guru sekalipun tertegun melihat perubahanku yang mulai giat belajar. Aku sudah berjanji padadiri sendiri untuk berusaha dengan keras, jika tak bisa masuk IPA unggul dan tak sekelas dengan Dicky lagi aku akan berhenti sekolah. Aku tak ingin sekolah lagi…
“akhir-akhir ini kau sangat giat belajar? Apa sedang berusaha?” Tanya Reka sambil tersenyum.
“aku sedang berusaha sekelas dengan Dicky lagi, apapun akan kulakukan aku sudah berjanji pada diriku yang bodoh ini” ujarku begitu percaya diri.
“ikut belajar denganku saja, agar lebih bersemangat” ajaknya. Sepulang sekolah aku diajak Reka keperpustakaan untuk belajar bersama dengan Arya, Dicky dan Reka. Aku melihat Dicky menatapku, sungguh hatiku tak tenang melihatnya seperti itu. Dia tersenyum dengan ramah padaku untuk pertama kalinya padahal sudah bersama kurang lebih satu tahun dan dalam kelas yang sama.
“ aku tak bisa mengerjakan yang ini” ujarku saat Reka memberikan lembaran soal bayangan untuk dikerjakan. Dicky melihatnya dan mengambil lembaran soal itu dari tanganku. Reka dan Arya hanya menatapi saja, akupun hanya bisa menelan ludah! Aku merasa sangat bodoh ketika bersama dengan mereka bertiga.
“ tak apa dilingkari saja, nanti kita bahas bersama” waktu terasa berhenti ketika untuk pertama kalinya aku mendengar suara yang selama ini tak pernah terdengar sekalipun. Suaranya begitu tegas terdengar dan jantungku rasanya bergetar dengan kencang, sekencang-kencangnya bahkan lebih kencang dari lari seekor cheetah.
“ maaf, aku memang sangat bodoh dan malas. Tapi kumohon bimbingan kalian agar aku juga bisa sekelas dengan kalian lagi”ujarku.
“ kau tak bodoh hanya belum bisa saja, percayalah” ujar dicky menatapku dalam, dia begitu pintar menenangkan hati seseorang. Dia semakin dekat dengannya aku jadi merasa begitu menyukainya, hari-hariku memang tak pernah terasa berarti tapi sejak mengenalnya aku jadi begitu terbiasa menyukai walau penuh denagn cobaan.
Seminggu berlalu dengan cepat, perjuanganku membuahkan hasil aku berada dalam peringkat murid yang masuk kelas IPA unggul meski di urutan paling bawah, aku merasakan benar-benar sedang sekolah. Akhirnya aku kembali sekelas dengan Reka, Arya, dan Dicky.
Sejak pertama duduk di bangku kelas dua, semua guru membicarakanku. Mengatakan aku tak pantas duduk di IPA unggul meski lulus tes sekalipun. Citraku disekolah sudah sangat buruk sampai beberapa guru kelas dua menolak mengajar jika aku berada di kelas tersebut. Hatiku terasa sangat nyeri sekali ketika itu, rasanya ingin menangis dan mengadu ke papaku tapi aku kembali ke prinsip awal bukankah bagiku sekolah sudah tak penting? Atau guru-guru juga tak penting? Yang terpenting bagiku hanya Dicky saja! Dan aku mencoba untuk bersikap biasa saja.
“ Maurin, apa kau baik-baik saja?” Tanya Reka menyentuh pundakku, rasanya memang tak baik tapi tak perlu begitu memperhatikanku.
“ hmmm…” aku mengangguk dengan pasti.
‘ jangan menyerah, aku, Reka dan Arya akan membantumu” ujar Dicky padaku. Aku sungguh tak apa jika ada orang yang mengata-ngataiku yang terpenting bukanlah mereka, tapi pria yang waktu itu baru saja memberiku semangat.
“ sejak awal hanya kalian yang mau menerimaku..aku sungguh berterima kasih” sejak duduk di kelas dua aku dihadapkan dengan banyak masalah, aku terus melihat dicky didekati oleh adik-adik kelasku. Meski begitu aku melawan perasaanku dengan keras untuk tidak menyerah meski terasa menyakiti hatiku, aku sudah terlanjur basah memasuki cintanya dan terlibat dalam kisahnya bersama gadis-gadis itu. Dan saat mulai menaiki kelas tiga kabar itu begitu terngiang ditelinga hingga rasanya menusuk ke ulu hatiku, Dicky dekat dengan seorang anak kelas satu bernama “Chani”. Aku terus mengikuti mereka setiap hari sabtu seperti dua tahun terakhir yang selalu ku lakukan agar bisa terus melihatnya walau hanya dari jauh, hatiku begitu teriris melihat pandangan mereka bertemu dan saling tersenyum meski yang ku tahu Reka adalah sahabat terbaik Dicky tapi mereka berdua tidak pernah seperti yang Dicky lakukan bersama dengan Chani. Mereka begitu sangat serasi, mengapa dengan gadis itu? Yang baru kenal beberapa bulan saja, sementara denganku sudah hampir memasuki tahun ketiga dan rasanya tidak mudah, cintaku bahkan sudah hampir membusuk.
“ Reka, apa Dicky berpacaran dengan gadis itu?” tanyaku tanpa ragu.
“ tidak hanya gossip saja, aku ingin kau mengatakan perasaanmu pada Dicky agar tidak ada beban dipundakmu dan kau merasa jadi seperti ini. Bukankah rasanya jadi sulit ketika kau melihat Dicky berduaan dengan gadis itu” tiba-tiba wajah Reka berubah jadi sangat serius dan membuatku merasa jadi tak enak padanya.
“ aku takut Dicky membenciku jika dia tau tentang perasaanku, sungguh tak mampu menghilamgkan cinta sepihakku yang bertahun-tahun kusimpan dengan rapi ini”
“ Dicky bukan pria yang seperti itu, aku mohon katakan saja cintamu itu. Dicky sangat suka coklat, berikan itu saja saat ulang tahunnya nanti. Dia pasti akan merasa kau perhatikan, jika kau takut mengatakannya langsung tulis saja sebagai kata ucapan. Aku sangat mendukungmu!” kata-kata yang begitu magis sampai saat ulang tahun Dicky aku melakukan seperti yang Reka katakan padaku, pagi-pagi sekali sebelum banyak murid datang aku sudah sampai di sekolah lebih dulu dan menaruh hadiahku di laci mejanya. Aku sungguh tak yakin waktu itu, tapi meski telah begitu aku tetap tak tau perasaannya padaku, aku sungguh tak tau dia menerima hadiahku atau tidak, atau membaca kata-kata singkat aku menyukaimu, meski sangat singkat paling tidak dia tahu seperti apa persaanku padanya waktu itu, sikapnya terhadapku juga tak berubah dan tetap seperti itu, seperti hari-hari sebelum aku mengirim hadiah ke laci mejanya. Hari-hari seperti waktu itu memang menegangkan dan aku ingin hari-hariku berakhir dengan baik meski prima tetap membuat ku jadi merasa menunggu seperti ini.
Akhir-akhir saat akan ujian nasional berlangsung, semua teman sedang sangat serius mempersiapkannya. Hanya aku yang tidak, aku tidak ingin lulus dari sekolah karna ingin terus bersama dengan Dicky seorang. Aku sudah tak ingin belajar lagi, meski tak luluspun aku tetap saja tidak bersama dengan Dicky! karna Dicky pasti lulus dengan nilai yang baik. Tampaknya aku memang harus lulus meski nilai pas-pasan sekalipun.
“Maurin, kau harus lulus ujian agar kita bisa satu universitas. Aku ingin terus jadi temanmu” ujar Reka yang sedang membaca buku.
“kau selalu baik padaku, terima kasih Reka” aku jadi ingin menangis jika menatapnya, selama kurang lebih tiga tahun terakhir ini Reka memang selalu bersamaku dan aku tak kan pernah lagi bisa menjumpai teman baik hati sepertinya, aku memang tak bisa membelinya dengan uang karna pertemanan bukan hanya soal uang. Saat- saat upacara kelulusan berlangsung, semuanya terasa sangat berat bagiku. Entah lulus atau tidak aku sudah tak peduli. Aku yang sejak awal datang ke sekolah hanya untuk bisa melihat Dicky, belajar dengan keraspun hanya untuk bisa bersama dengan Dicky dan hari itu hari dimana di umumkannya kelulusan. Dicky yang di umukan akan mendapatkan beasiswa uni eropa untuk belajar di Rusia, dan aku tak punya kesempatan bertemu meski tidak saling menyapa, kesempatan melihat senyumnya yang indah bagai flamboyan berwarna merah, kesempatan mendengar suaranya yang merdu bagai sitir berdawai, dan tak ada lagi kesempatan-kesempatan seperti itu. Namanya sudah terpatri di hati dan menancap di jantungku, dan aku tak ingin menggantinya dengan nama siapapun lagi, hanya Dicky seorang!!! Waktu itu kami diberi kesempatan untuk menyampaikan sesuatu saat upacara kelulusan, dan ketika giliranku, mata guru menatapku dengan sinis. Gadis terbodoh di sekolah waktu itu akan menyampaikan sesuatu. Tanganku bergetar ketika microfon ku genggam dengan erat. Aku tau semua menunggu dan menanti-nanti apa yang ingin kukatakan.
‘terima kasih, aku tak suka sekolah ini karna begitu menyebalkan. Awalnya aku malas untuk datang kesekolah apalagi untuk belajar dan bertemu guru-guru yang membenciku. Tapi karna seseorang, aku bertahan selama tiga tahun berada di tempat seperti ini… hari ini kukatakan bahwa aku tidak ingin lulus dari sekolah ini agar bisa bersamanya,bersama dengan Dicky” semua murid-murid terpaku menatapku dan mendengar kalimatku apalagi semua guru, tapi itulah yang ingin kukatakan selama ini, perasaanku selama tiga tahun menahan dan bertahan di sekolah itu. Aku ingin mengulang masa orientasi siswa, saat-saat di kelas satu, di kelas dua IPA unggul dan di kelas tiganya asal besama dengan Dicky akan kulakukan.
Saat itu aku meninggalkan panggung, meski rasanya waktu itu sudah tak mampu berlari karna kakiku begitu bergetar aku terus berlari dengan kencang. Sudah cukup rasanya agar Dicky bisa mendengarnya, aku berlari keatap gedung sekolah, bukan untuk bunuh diri tapi rasanya tempat yang paling tepat untuk menenangkan diri. Aku sudah tak ingin bicara lagi, waktu itu aku begitu gugup dan khawatir. Aku duduk dan memeluk erat kakiku, terima kasih sekolah menyebalkan karna telah mempertemukan aku dengan pria yang sulit di tebak-tebak bernam Dicky, dia jauh lebih sulit di bandingkan Matematika.
“ mengapa bicara seperti itu? Kau harus lulus dengan nilai yang baik!” tiba-tiba suara merdu itu masuk ke gendang telingaku. Aku segera menatap wajah yang ku kagumi itu, wajah yang penuh dengan keteduhan seperti hati yang ditetesi embun didedaunan.
“ apa yang bisa kulakukan agar terus bersamamu? Apa kau menerima hadiah ulang tahun dariku? Apa kau membacanya? Aku begitu berharap kau katakan sesuatu, tapi rasanya meski menunggu terlalu lama kau tetap diam saja. Aku sungguh tersiksa menunggunya” tanyaku menatapnya. Perlahan dia duduk di sisiku, aku tak pernah begitu dekat seperti hari itu dengannya.
“ aku menerima dan membacanya, terima kasih! Sebagai seorang pria aku sungguh tersanjung dengan sikapmu itu, tak mungkin rasanya jika seorang pria menolakmu. Kau cantik dan lugu, tapi aku memang tak bisa lebih memilihmu dibandingkan dengan gadis itu rasanya akan terasa tak adil untuknya. Maafkan aku Maurin” dadaku sangat sesak mendengarnya, hatiku terasa hancur berkeping-keping tak berwujud. Mungkin dia sudah punya kekasih, karna tak ingin menyakitiku dia tak mengatakan apapun.
“mengapa tak katakan sejak itu?” ujarku terbata, mataku mulai berkaca. Aku ingin sekali menangis karana rasanya sudah tak tertahankan lagi.
“ aku ingin sekali melihatmu lulus dengan nilai yang bagus”
“ kau berpacaran dengan Chanie?”
“ Chanie itu adik sepupuku, aku memang sudah punya kekasih tapi dia bukan Chanie”
“ lalu siapa?”
“ aku sudah minta Reka untuk mengatakannya, tapi dia bilang tak ada gadis yang mencintaiku lebih dari dirimu. Karna itu aku lebih memilih untuk menjaga perasaanmu saja”
“ siapa gadis itu? Apa Reka mengenalnya dan tau sejak dulu?”
“ kekasihku Reka, kami sudah berpacaran sejak duduk dibangku SMP” aku yang mendengarnya begitu sungguh sangat hancur. Aku terisak dihadapannya, aku sudah tak mampu membendungnya lagi. Reka gadis yang kupercaya menjadi sahabatku, tau perasaanku terhadap Dicky dan yang begitu memaksaku mengatakan persaanku justru kekasih orang yang amat ku sukai. Aku tak percaya ada gadis seperti Reka! Aku sangat marah mendengarnya, merasa sangat dibohongi tapi selama ini aku tak pernah memikirkan perasaan Reka yang begitu menghargai perasaanku. Dan mereka membohobngiku sampai seperti itu, rasaya igin menagis sekencang-kencangnya agar semua orang tau bahwa aku memang gadis terbodoh di dunia.
“ maaf, Maurin! ! !” ujarnya menatapku, maaf? Mengapa hanya maaf saja? Mengapa minta maaf? Aku yang selama ini bertanya-tanya tentang perasaannya dan selama itu menderita, menyiksa diriku karna menyukai Dicky hanya bisa mendengar maaf saja. Aku yang wakut itu hanya bisa mnengis menahan sesaknya dada sampai tak tertahankan,aku bahkan tak pernah membayangkan hal-hal seperti itu sebelumnya. Dicky dan Reka yang tamaknya berteman dan tak seperti layaknya orang yang berpacaran, tak pernah jalan berdua dan bergandengan tangan justru berpacaran. Arya yang justru kukira berpacaran dengan Reka bahkan tak bicara apapun padaku selam tiga tahun hanya diam saaja dan begitu menikmati perasaanku yang besar terhadap Dicky.
“ jangan menangis Maurin, jangan seperti ini”uajrnya wakut itu.
“ bagaimana aku bisa hidup setelah hal ini? Apapun kulakukan hanya unutk bisa bertahan dikelas yang sama denganmu, datang kesekolahpun hanya untuk melihatmu saja rasanya sudah puas. Bagaimana aku bisa meneruskan hidupku setelah ini?” aku terus terisak, dan dia menatapku dengan belas kasih, dia memelukku dengan erat untuk menenangkan hatiku. Dan aku sudah tak ingin katakan apapun untuknya.
“ jangan seperti itu. Jika lulus nanti, kau harus ikut tes beasiswa ke Rusia bersamaku” mendengar berkata seperti itu, aku sungguh tak mengerti dengan sikapnya yang sama sekali tak membenciku. Aku akan terus menjadi bayang-bayang yang ada di dalam hubungannya bersama dengan Reka. Selama itu aku terus bangga dengan cintaku yang sepihak itu, cinta yang tak pernah tau apa artinya, cinta yang sebatas rasa manusia tanpa formula dan memang tak ada artinya.
Waktu itu ditahun kelulusan, aku di umumkan lulus dengan nilai yang baik. Reka merekomendasikan namaku untuk bisa ikut tes beasiswa ke Rusia, meski marah padanya dan tak ingin menyapanya lagi tapi Reka tetap berusaha untuk memperbaiki hubungannya denganku. Dan sebenarnya jauh dari lubuk hatiku aku sudah memaafkannya, dan tak disangka aku masuk dalam daftar murid yang ikut pergi untuk belajar di Rusia. Kau tau sampai detik ini, sampai berada di bangku kuliah dan berada dalam almamater suci dengan Dicky seorang, dan Reka memilih untuk mengakhiri hubungannya dan tinggal di Indonesia saja… meski sudah seperti itu aku tetap menjadi bayang-bayang saja dan belum bisa mendapatkan hatinya karna Dicky selalu serius dengan yang dia jalani untuk masa depannya tidak sepertiku yang meski sudah di Rusia sekalipun tetap jadi mahasiswi terbodoh.
Aku hanya bisa menunggunya dan menunggu waktu sampai cinta bisa mendamaikan dia dan aku, meski yang ku tau cinta tak kan pernah bisa menunggu. Begitulah akhirnya…
Ini kisahku, tapi mungkin juga kisahmu…