Kamis, Juni 20, 2013
Blog ajeng shekar muta'aalimah saputangan Jingga

Teen Blog

Hai Teenholics, buat yang senang nulis cerpen,puisi atau membagi pengetahuan dan lainnya, kamu boleh corat coret disini.

  • Home
    Home This is where you can find all the blog posts throughout the site.
  • Categories
    Categories Displays a list of categories from this blog.
  • Tags
    Tags Displays a list of tags that has been used in the blog.
  • Bloggers
    Bloggers Search for your favorite blogger from this site.
  • Team Blogs
    Team Blogs Find your favorite team blogs here.
  • Archives
    Archives Contains a list of blog posts that were created previously.
  • Login

saputangan Jingga

Posted by on in Teenlit (Cerpen)
  • Font size: Larger Smaller
  • Hits: 900
  • 0 Comments
  • Subscribe to this entry
  • Print
  • PDF

sebelumnya saya minta maaf karna ceritanya kepanjangan.. mungkin gabisa dikategorikan sebagai cerpen.. tapi saya mohon bantuannya untuk membaca sampai habis dan memberi respon... terimakasih.. Smile

"Saputangan Jingga"

Maaf, hanya kata – kata ini yang mampu teruntai dari mulutku… entah apa kau mendengarnya atau tidak… 1 tahun sudah semua terjadi begitu saja waktu terus berputar namun kenangan itu tak pernah hilang. Sekali lagi aku minta maaf.

                                                                          ----

matahari tepat berada diatas kepalaku samar – samar aku melihat seorang laki – laki yang terus saja menggiring bolanya melewati rintangan yang telah disiapkan sebelumnya ditengah terik matahari, sesosok laki – laki yang tak asing lagi dimata ini. Ia adalah Rangga kakak kelas ku aku mulai menyukainya sejak awal aku masuk kesekolah ini, aku berlari – larian disepanjang koridor dan hendak berbelok untuk kekantin namun kecelakaan yang juga keberuntungan itu tak dapat terelakkan aku terjatuh, laki – laki yang menabrakku membantuku berdiri dan beruntung aku melihat nametag nya “M. Rangga Kusuma” sejak saat itu dihalaman belakang bukuku dipenuhi dengan nama itu.
            Apakah ia hanya bayangan fatamorgana? Fikirku, aku merasa saat ini aku adalah Oscar tokoh utama dari kartun Oscar’s Oasis. ‘DUAK’ bola tepat mengenai kepalaku tanpa sadar aku sudah berada ditengah lapangan “apa kau baik – baik saja?” senyuman yang begitu lembut membuat sakit dikepala ini hilang seketika
“i..iya aku tidak apa – apa kak”
 “ooh~ ya sudah, sekarang aku ingin berlatih lagi bisa tolong jangan berdiri disini ga?”
“aah~ iya ka maaf ya kak”
ia tersenyum ramah huaaa~ kalau saja dengan terkena bola aku bisa berbicara dengannya, mendapat senyumannya aku rela sehari 100 bola yang hinggap dikepalaku asalkan ka Rangga yang menendangnya.

Matahari berwarna jingga dan bersiap turun di ufuk barat Ka Wendy tak juga datang, begitupun ojek tidak ada di pangkalannya. Kalau saja aku melanjutkan tugas itu besok hari mungkin sedari tadi aku bisa pulang dan melihat Ka Rangga tentunya. ‘tin tin’ dari balik tubuhku klakson motor berbunyi begitu kencang aku minggir untuk memberinya jalan namun tak juga pergi dan masih saja membunyikan klakson karna aku mulai merasa terganggu aku membalikan tubuhku dan ternyata orang itu adalah “Rama ! lo ngapain sih ?! berisik tau gak !!” Rama laki – laki yang tidak ada lelahnya mengusikku sepanjang hari “ahahaha~ gitu aja marah, muka lo tuh kalo lagi marah kaya ikan fugu tau gak ! dasar ms. Puff” terus saja katakan aku ini ms. Puff apa iya ketika aku marah wajahku akan terlihat seperti Ms. Puff guru mengemudinya Sponge Bob ? “Berisik ! udah sana pergi !” Rama benar – benar laki – laki yang paling menyebalkan setelah adikku Tito tentunya. “gue mau berbaik hati juga ngasih lo tumpangan” serius ?! apa jadinya jika aku naik kemotor itu dan sepanjang jalan harus mendengarkan ocehannya yang terus menghinaku.
 “tidak, terimakasih” dengan ketus aku menolak ajakannya.
“serius ? eh jingga gue gak tanggung jawab ya kalo nanti lo lumutan disini”
“iya udah sana !! sana !!”
akhirnya Rama pergi dengan diiringi lambaian tangan.
            “hei” seseorang menepuk pundakku, aku pun segera membalikkan tubuhku “kak Rangga ?!” gyaaaa!!! Bagaimana bisa ?! 2 kali dalam sehari melihat senyumnya dan berbicara dengannya. Dewi Fortuna pasti sedang berpihak padaku. Terimakasih Ya Allah. “kok kamu bisa tau nama aku?” ‘ngiiuung’ sepertinya darah ku naik kekepala aku harus ngomong apa? “tau dari temen” gawat ! kenapa aku bilang dari temen ? bagaimana jika dia terus bertanya teman yang mana? Kok temannya tau? Aku harus jawab apa. “ooohh~ kok belum pulang ?” biar kutebak, setelah aku jawab aku harus mengerjakan tugas dan sampai detik ini jemputan belum juga datang pasti dia… “mau bareng?!” strike !! tepat sasaran, dia pasti ngajak pulang bareng tapi dari tadi aku tidak melihat ada motor yang tersisa disudut – sudut tempat parkir. “aku gak bawa motor lebih tepatnya gak punya, rumahnya jauh?” aku menggelengkan kepalaku dengan cepat. Bukankah jika berjalan kesempatanku untuk dekat dengan Ka Rangga makin terbuka lebar? “ahahahaha~ yasudah ayo” ajaknya.

Huaaaa~ berjalan berdua dengan orang yang paling kusukai didunia ini benar – benar suatu hal yang gila yang selalu aku harapkan. Ini mimpi bukan ? apakah ini mimpi ? apakah aku bermimpi ? jika iya tolong jangan biarkan aku terbangun. “gak lagi mimpi kok” kenapa dia bisa tau apa yang sedang kufikirkan ? aku tidak bisa berkata – kata lagi hanya dapat tersipu dan menutup wajahku yang memerah. Keheningan mengiringi  langkah kami berdua entah sampai kapan keheningan ini terus terjadi, ka Rangga tak juga mulai berbicara. Aku ?! mana mungkin aku yang harus terlebih dahulu memulai pembicaraan ? aku benar – benar canggung saat ini. “krrruuuyuuuk~” tanpa diduga – duga alarm kelaparan bergema dari perutku cepat – cepat aku menundukkan kepalaku dan memegang perutku yang masih saja berbunyi. “ahahahaha~ kesana aja yuk” ka Rangga menunjuk kesebuah tenda makan sea food, bagaimana ia bisa tau sea food adalah makanan kesukaanku? Kami pun memilih untuk duduk di bangku yang terdekat dengan dapurnya. Bau amis pun tak menjadi masalah hidung ini sudah tertutup dengan harum bunga – bunga yang tumbuh di hati. Pesanan kami datang kami makan. Meskipun begitu hening namun debaran di hati ini seperti soundtrack drama. es kelapa muda telah menunggu untuk ku minum “YAAH!!” tumpah, es kelapa muda yang telah kutunggu – tunggu untuk meminumnya tumpah !! ka Rangga menepuk kepalaku lembut dan memberikanku saputangan untuk membersihkan air yang membasahi seragamku. Saputangan istimewa saputangan jingga…

Terus saja kupandangi saputangan jingga itu pandangan ku tidak pernah luput dari saputangan itu saputangan berwarna jingga, memiliki gambar buah apel disalah satu bagiannya, fur nya sangat lembut, wangi parfume anggur, dan ditempat untuk brand nya ia menambahkan kata “I ♥ O” O itu pasti nama perempuan yang disukainya, fikirku. Sekejap saputangan itu raib dari genggamanku seseorang menariknya
“RAMA !!! BALIKIN !! LO TUH JANGAN KAYAK ANAK KECIL KENAPA ?!” aku terus saja berusaha mengambil saputangan itu namun apa daya tinggi ku dan tingginya sangat jauh berkali – kali ku melompat untuk meraihnya namu semakin tinggi pula Rama mengangkat tangannya sambil terus terus tertawa
“mau lu tuh apa sih Ram ? kenapa lo selalu aja ganggu hidup gue ?!”
“mau gue? Yang gue mau lo”
apa maksud dari perkataannya itu ? aku berdebar saat mendengarnya, perasaan apa ini? Tidak, tidak aku tidak boleh terpengaruh ia pasti akan mentertawakanku saat wajahku mendadak memerah dan aku menjadi kikuk.
”gak usah bercanda bisa gak? Sini !”
akhirnya aku mampu meraih saputangan itu sedangkan Rama, entahlah aku tak tau apa yang ia lakukan saat ini ia hanya terdiam disudut belakang kelas dengan tatapan kosong, abaikan dia jingga abaikan. Sekarang kau harus focus untuk mengembalikan saputangan ini pada pemiliknya.

Langkahku terhenti di depan kelas kecil yang hiruk pikuk, kelas yang tidak terkendali itu adalah kelas ka Rangga 11 IPA D. aku menilik masuk dan bertanya pada teman sekelasnya namun temannya berkata disurat dokternya tertulis ia akan istirahat dirumah untuk 3 hari lamanya. Sepanjang koridor menuju kelas aku terus berfikir apa jangan – jangan ia terlalu kelelahan mempersiapkan diri untuk bertanding dalam Kompetisi olahraga SMA se-DKI yang akan dilaksanakan seminggu dari hari ini. Suatu ide terlintas dikepalaku bagaimana jika aku memberikannya sesuatu entahlah aku ingin membelikan ia sesuatu. SEPATU iya sepatu bola akan aku berikan untuknya. Yups~ selama 3 hari aku akan bekerja keras !
            aku bekerja sambilan di sebuah café dekat stasiun kota, bukan sebagai pelayan namun aku bekerja sebagai gitaris sebuah band yang selalu tampil tiap malam untuk menghibur pengunjung. Alasan aku bekerja adalah aku berasal dari keluarga yang yang dalam segi ekonominya kurang beruntung. Walaupun begitu kami tidak pernah menyesali takdir hidup kami ini kami justru sangat bahagia terlebih kini aku mulai dekat dengan Kak Rangga. Selama 3 hari aku melamar sebagai pelayan cadangan disana kemudian malam harinya aku mulai menjadi gitaris. uang yang kuterima ini ku mohon semoga cukup untuk membelikannya sepatu.
            hari yang ditunggu tiba saatnya aku memberikan sepatu ini padanya. Dengan langkah yang berirama aku berjalan sembari menari – nari. “jangan kayak orang bodoh kenapa” wajahku tersipu namun begitu ku lihat orang itu adalah rama aku tidak peduli dan kembali berjalan. Mengabaikannya, tentu saja aku harus mengabaikannya. Aku menuju kekelas kak rangga namun ka rangga tidak ada dikelasnya entah kemana. Kemudian aku meletakkan sepatu itu diatas tas hitamnya yang tergeletak tidak beraturan diatas meja.

“Jingga !! jingga !!” suara yang sudah tidak asing lagi ditelingaku itu menyeru namaku dari kejauhan
“kenapa gin?” gina menghampiriku ia berlari kecil
“jingga jingga lo tau gak?! Rangga !! ka Rangga tadi dia dipanggil diruang BP gara – gara berantem sama murid sekolah swasta di deket pasar depan !”
“heh?! Kok bisa ?! ka Rangga itukan cowok baik – baik…”
“gue juga gak tau lo keruang BP sana temuin Ka Rangga”
“oke…oke… thanks ya gin lo emang sohib terbaik yang pernah gue punya… makasih banyak infonya!!”
langsung saja aku berlari menuju ruang BP tepat dugaanku Ka Rangga pasti ia mendapat hukuman, namun ruangan BP itu benar – benar tertutup rapat tak  ada celah untuk suara mereka keluar dan menghampiri telingaku. oleh karena itu aku tidak dapat mendengar apa yang mereka katakan aku hanya terus saja berdiri didepan ruang BP menunggu ka Rangga keluar. Tak ada yang mampu membuatku pergi dari sana kata – kata Gina, Harum makanan yang terus saja berputar – putar di sekelilingku, juga bel pertanda masuk.

Ka Rangga keluar, ia keluar dengan wajah tenang sangat tenang… “kak… kakak ngapain di ruang BP ?!” aku menghampirinya aku hanya ingin ia tidak memendam perasaannya sendirian aku akan menjadi perempuan yang selalu ada untuknya dan mendengarkan masalahnya namun ia tak menjawab ia hanya tersenyum dan berlalu pergi aku mengikuti dari balik tubuhnya melihat bahunya, bahunya yang lebar pertanda ia selalu mengemban tanggung jawab. Namun tiba – tiba saja ia berhenti dan menghampiriku “jingga, sekarang mendingan kamu masuk kelas. bel masuk udah bunyi dari tadi” ia kembali berlalu, aku masih terdiam “mendingan kamu lupain perasaan kamu ke aku, kamu Cuma bakal sakit hati karna perasaan kakak biasa aja sama kamu dan kakak rasa kakak gak akan suka sama kamu” dia membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi bagaimana ia bisa tahu mengenai perasaanku?!. “KAK RANGGA TUNGGU !!” bodoh ! kenapa aku memanggilnya ?! ada apa dengan otakku… tidak berfungsi ! dasar jingga bodoh ! “kenapa ?” langkahnya terhenti namun ia tidak menghampiriku aku mendekatinya dan menyodorkan saputangan yang kupinjam darinya aku tak mampu berkata -  kata, entah aku tak tau apa yang kurasa aku tidak merasa begitu tersakiti namun… aaahh!! Perasaanku benar – benar kacau !! “makasih…” ia meraih saputangan itu lalu tersenyum manis seperti biasanya kemudian berlalu begitu saja. Seharusnya seiring berlalunya ia dari hadapku perasaan yang kacau ini juga berlalu namun mengapa menjadi begitu sakit ?!

Perasaan ini tak mampu kujelaskan. Aku sakit hati namun aku tidak merasa sakit. Apa maksudnya perasaan itu ?! kenapa jadi begini ?! gak akan suka?! Kenapa kak rangga bicara seperti itu. “ikut gue” Rama menarik tanganku genggamannya begitu erat. Sakit~ aku terus berusaha melepaskan genggamannya “lepasin gue !! lo tuh apa – apaan sih?!” tidak bisa… genggamannya terlalu erat aku takut darah di nadi ku tidak mengalir lagi. “lepasin !!!” aku terus berusaha melepaskan tangannya. Saat aku tengah disibukkan untuk melepaskan cengkraman Rama tiba – tiba langkah rama terhenti diikutti terhentinya langkahku. Dimana ini? Sebuah taman. Sejak kapan disekolah ini ada taman yang begitu cantik seperti ini? “lo suka?” aku tak dapat berkata – kata bibirku kelu seketika. Hatiku berdebar, debaran yang 100 % berbeda dengan debaran yang kurasa saat aku bersama ka rangga, debaran kali ini meski tidak sehebat bersama ka rangga namun cukup mampu membuatku kikuk.
“jingga?!”
“eh… sorry ram… maksudnya apa?”
aku mencoba menerka – nerka. Apa iya kata – katanya beberapa hari yang lalu itu bukan sekedar lelucon ? apa dia menyukaiku ?
“gue suka sama lo jingga..  lo ma.. ma.. ma… ma… mau gak j..j..jadi orang yang selalu berdiri disamping gue memperkokoh dan menutupi kekurangan gue?!”
aku tidak pernah melihat wajah Rama yang seperti ini wajahnya merah padam, tanggannya yang masih menggegam tanganku begitu dingin, tubuhnya bergetar. Aku terdiam aku bingung harus bagaimana, ka rangga… bayangnya menutupi wajah Rama yang ada dihadapku. Yang kulihat hanya ka rangga. Tapi tidak ada harapan bagiku bersamanya ia telah menolakku bahkan sebelum aku mengatakannya.
“jingga?! P..p.. please.. jawab gue…”
“gue fikir – fikir dulu ya…”
“Gak ! Gak boleh ! gue nyiapin semua ini bukan buat lo fikirin tapi buat lo jawab iya !”
meskipun keadaannya sudah romantic seperti ini kenapa dia masih saja mengesalkan. Tapi benar juga dia, jika aku terus berfikir maka aku tidak akan pernah melupakan ka Rangga.

“jingga !! ini”Rama menghampiriku dengan 2 es krim di tangannya “makasih”. Sudah 1 minggu aku berpacaran dengan Rama, meskipun ia masih saja mengesalkan namun ia punya sisi menyenangkan juga. Ka rangga?! Bayangnya sudah mulai pudar, walaupun masih ada seberkas titik wajah yang masih menempel di benakku namun setidaknya aku tidak begitu memikirkannya lagi. Dan semua itu berkat rama. Sejak saat itu jarakku dengan ka rangga kembali merenggang kami hanya saling tersenyum kala bertemu dan tidak mengucap sepatah katapun. “jingga ?! jingga ?!” “heh?! Kenapa?” “kamu pasti gak dengerin apa yang aku omongin…” “eh, maaf ram… maaf…” rama menghamburkan lamunanku tentang kak rangga. Lagi – lagi aku tertolong olehnya terimakasih rama, kamu telah banyak membantuku melupakan ka rangga. Saat ini aku tengah berada di taman ria, aku pergi bersama rama, gina dan fahmi sejenak melupakan segala masalah. Sebisa mungkin aku harus menutupi masalah dengan tawa.
            “gimana ngga?” aku dan gina menunggu rama dan fahmi yang tengah mengantri membeli makanan. “apa nya yang gimana ?” aku tidak mengerti maksud Gina.
“hubungan lo sama Rama?!”
“oooh~ biasa aja” jawabku datar
“udah bisa lupain ka rangga?” tanyanya, ia mendekatkan wajahnya ke telingaku
“ini lagi nyoba” jawabku lirih sambil meminum es yang tersedia diatas meja
“jadi Rama itu Cuma pelarian buat lo ?!” tiba – tiba saja gina meninggikan suara dan berdiri tentu saja hal tersebut membuatku tersentak.
“ssstttt~ lo tuh jangan kenceng – kenceng kalo ngomong diliatin malu tau gak !”
cepat – cepat aku menutup mulut gina sembari mendudukannya, Gina menatapku tajam, aku hanya mampu terdiam dan menundukkan kepala. Sepertinya Gina sangat marah dan kecewa padaku. Maaf gina maaf…

Fahmi dan Rama pun datang membawa makanan, tak seperti biasanya gina hanya terdiam. Atmosfer aneh menyeliputi kami yang sedang menyantap bakso, hening… hanya seketika kami saling melihat satu sama lain, namun Gina ia tak melihatku. Seusai makan kami pulang, kami berjalan menuju tempat parkir yang berjarak lumayan jauh dari tempat kami makan. Gina tidak mau berjalan disampingku sungguh suatu hal yang tidak masuk akal, mengapa Gina marah padaku ? apa salahku padanya ? aku bersalah pada Rama. Gerah melihat tingkah gina yang selalu menghindar aku menahannya “oke, awalnya gue emang jadiin Rama itu pelarian, tapi…” mulutku berhenti berbicara aku malu mengungkapkannya pada gina. Lama aku berfikir gina mulai bergerak berusaha melepas tanganku.
“gina tunggu !” cepat – cepat ku kembali mengeratkan tanganku
“lama – lama ada sesuatu dari Rama yang bikin gue selalu merindukannya. Sesuatu yang tidak ada dalam diri kak Rangga tentunya. Ya, gue mulai menyukainya… sesuatu hal yang aneh terus terjadi dalam dada ini saat Rama menatap dalam – dalam mata gue. Dan gue yakin itu perasaan suka. Suka dalam arti yang sebenarnya.”
Gina pergi, aku membiarkannya berlalu. Setidaknya aku sudah berkata yang sesungguhnya meskipun ada beberapa kata yang aku bumbui. Tidak masalah bukan? Selagi agar temanku tidak lagi marah padaku.

Gina tak menghubungiku, biasanya ia selalu mengirimkanku pesan text yang berisi “cheer up ya jingga J” atau “semangat jingga :*” sebelum aku tampil. aku terus menantikannya hingga Selly, vokalis band kami menyuruhku naik keatas panggung. Meskipun semuanya kacau setidaknya penampilan jangan menjadi kacau. Kumohon. Aku berusaha tetap berkonsentrasi dalam memetik senar gitarku. Seseorang mencuri perhatianku laki – laki yang sedang duduk sendiri sambil menikmati secangkir kopi hangat. Tiba – tiba saja ia melambaikan sebuah saputangan tidak cukup dilambaikan juga direntangkan. Aku tersipu serta kaget melihat kenyataan bahwa saputangan itu berwarna jingga dan yang melambaikan adalah kak RANGGA !  permainan gitarku kacau seketika. Namun beruntunglah aku karna para penonton tetap menyemangatiku begitu juga ka Rangga.

Ka rangga menghampiriku yang baru saja turun dari atas panggung “keren !” katanya sambil menyunggingkan senyum. Kali ini aku marah. Aku merasa ka Rangga adalah penyebab Gina marah. Karna dialah aku menjadikan Rama pelarian tentu saja ia juga yang membuat Gina marah dan terlebih ia membuat penampilanku kacau. Aku berlalu mengabaikannya dan ka rangga masih saja membuntutiku. Namun hati kecilku berbicara untuk mendengarkan apa yang ingin kak rangga sampaikan. Akhirnya aku berhenti dan membiarkan ka rangga bicara. “aku ngerti kok kenapa kamu marah. Aku kesini Cuma mau bilang kalo aku suka sama kamu” apa dia bilang ?! suka ?! ha ! dia bercanda ! dulu dia menolakku dan bilang tidak akan menyukaiku namun sekarang. “maaf, dulu aku ngomong kayak gitu supaya kamu gak khawatirin aku dulu. Lagipula aku harus konsentrasi untuk futsal competition. Sebenarnya saat itu aku udah suka sama kamu. Cuma aku gak punya keberanian untuk itu. Makanya aku berjanji kalau aku menang futsal aku…” kata – katanya sungguh mengerikan aku bisa mati karna nya jika terus mendengarkan kata – kata itu “cukup ! cukup ka cukup ! aku gak mau denger apa – apa lagi. Aku udah lupain kakak dan semua tentang kakak !” aku menutup telingaku sembari berlari keluar café, aku hendak menyeberangi rel kereta api namun kak rangga menahanku.
“JINGGA !! aku mohon dengerin aku dulu !! saputangan ini adalah diri kamu jingga itu artinya aku udah suka sama kamu sejak lama !”
 “sudah lupakan ! apa kakak tau beratnya pengorbananku selama ini untuk melupakan kakak?! bahkan sampai mengorbankan kasih sayang tulus dari orang – orang disekitarku !”
“aku minta maaf jingga”
 tiba – tiba saja palang penghalang turun, bunyi pertanda kereta datang pun berdering keras. Tanpa sadar aku berlari menjauhi ka rangga. Ka rangga mengejarku. Namun, kaki nya tersangkut direl kereta api !! bagaimana ini ya Allah tolong ka rangga. Suara kereta semakin jelas terdengar. Orang – orang panic dan menyuruhnya pergi.
“TIDAK BISA !! KAKIKU TIDAK DAPAT TERLEPAS !!”
”SEPATUMU NAK !! SEPATU !! LEPASKAN SEPATUMU !!”
 ka rangga tetap saja berusaha mengangkat kakinya.
“kak !! lepasin sepatunya kak !!” aku berusaha mendekati ka rangga namun orang orang disekitarku menahanku.
“aku gak akan ngelepasin sepatu ini jingga !! ini sepatu yang khusus dibeli oleh perempuan yang paling kusayang selain ibuku di dunia ini ! aku tau perjuangannya ! oleh karna itu, jika aku mati biarkan aku terkubur bersama sepatu dan saputangan ini !!”
aku tak kuasa menahan bendungan air mataku. Aku menangis histeris, aku terus saja berusaha mendekati ka rangga namun orang – orang masih saja menahanku aku berusaha melepaskannya namun mereka menahanku sangat erat.
“kak aku mohon !! aku akan membelikan yang baru !”
“tidak ! berkat sepatu ini aku bisa menang ! aku tidak akan melepaskannya !”
aku tak kuasa melihat semua ini, aku pun berlari. Semua tangan yang menahanku terlepas tak ada lagi yang mampu menghalangiku. Aku menghampiri kak Rangga dan berusaha melepaskan ikatan tali sepatunya. Namun ka rangga berusaha mengahalangiku dengan menyingkirkan tanganku dari tali sepatunya. Kereta mulai tampak dan semakin mendekat. Orang – orang disekitar kami terus berteriak untuk memperingati kami. Namun tak ada satupun dari mereka yang menolong kami.
“kak, kakak liat kan kereta udah mau kesini. Kalo kakak tetap pertahanin sepatu ini gak Cuma kakak tapi juga aku yang mati. Iya kalo pasti mati kalo ternyata hanya aku yang mati dan keajaiban membawa kakak kembali hidup ?!” kak rangga terdiam. Setelah cukup lama ia terdiam ia mengizinkan aku melepaskan ikatan tali sepatu itu. Kereta api sangat dekat. Spontan aku mendorong ka rangga sekuat tenaga ku.

Setelah pingsan cukup lama aku kembali sadar kulihat ada ibu, kak Wendy, tito,  Gina, serta Rama berdiri mengelilingi ku. Disamping tempat tidurku kulihat kak Rangga masih terpejam tanpa ada satu orang pun yang menemaninya. Aku berusaha bangkit dengan menopang tubuhku dengan kedua tangan ku. Namun, tangan kanan ku !! tangan kanan ku !! mengapa aku tak dapat merasakan apa – apa ?! aku melihat keadaan tanganku yang tertutup rapi oleh balutan perban dan gips. “tangan mu patah, kau harus segera diamputasi agar tidak enfeksi keseluruh tubuhmu” kulihat wajah ibu yang sangat sedih garis – garis wajahnya terlihat ia begitu lemah ternyata, ku fikir ia begitu tangguh. Aku menangis mengetahui kondisi ku ini. Bagaimana aku mencari uang jika tangan kananku diamputasi ? Ya Allah… bagaimana ini… aku menangis begitu juga Rama dan Gina. Ibuku pergi meninggalkanku aku yakin pasti beliaulah yang merasa sangat sakit saat ini. Rama mengelus – elus kepalaku lembut namun itu tak cukup membuatku ku tenang. Fikiranku kacau. Aku teringat kak Rangga yang sendirian dan menghampirinya sambil terus mengangis tersedu – sedu aku menggenggam tangannya. “jingga”rama menepuk pundakku. Mungkin inilah saat terbaik aku mengatakannya
“rama sebenarnya gue”
“sssst~ aku udah tau kok jangan dilanjutin ngomongnya. Nanti aku jadi sakit hati. Aku lebih suka keadaan kita kayak dulu kok, keadaan saat gue ngeliat lo tertawa lepas saat memikirkan seseorang dan gue tau itu bukan gue.” 
Syukurlah rama mengerti. GINA !! aku juga harus meminta maaf padanya. Aku menghampirinya yang terduduk di bibir tempat tidurku.
“maafin gue ya Gina…”
“lo gak salah lagi. Gue Cuma gak suka aja lo berlaku sesuka hati lo tanpa mikirin orang lain. Gue masih kecewa sama lo. Tapi dengan kondisi lo yang kayak gini… gue gak bisa lama – lama marah sama lo.” Aku pun menangis bersama Gina.
“gina… gue gak bisa main gitar lagi…” aku tersandar dipelukan gina.

Ka rangga menunjukan tanda – tanda akan terbangun. Aku segera menghampirinya dan duduk disampingnya. ka rangga membuka matanya ia menatapku dan menghapus air mataku dengan lembut.
“mulai saat ini, karna kamu gak bisa menghapus air matamu sendiri biar aku yang menghapusnya.” Aku kaget mendengar pernyataan ka rangga. Bagaimana ia tau tanganku tidak dapat kugunakan lagi ?!
“aku melihatmu sedang menangis dalam mimpi. Kau terus saja memegangi tanganmu. Kau tau ?! kakiku juga di amputasi.” Aku menutup mulutku tidak percaya. Bagaimana bisa ia bermain bola jika dia… jika dia tidak memiliki kaki ?! kak rangga mengelus – elus kepalaku. Aku jadi sedikit tenang aku mulai bisa mengendalikan perasaanku.
“kalau begitu karna kau tidak dapat menggunakan kaki kirimu untuk berjalan, maka biarkan aku melangkah bersamamu menopang tubuhmu dengan tubuhku.” Bendungan air mata tertahan digaris mata kak rangga. Kini aku sadar memang dialah yang aku suka.

Keadaan kak rangga membaik, aku senang sekali bahkan dokter mengatakan ia boleh pulang. Sebelum pulang kak rangga memintaku mengantarnya kesebuah danau dekat rumah sakit. Aku mendorong kursi roda yang didudukinya karna sekarang ini aku adalah kaki kirinya. Dan kak rangga memutar rodanya menggunakan tangan kanannya karna ia adalah tangan kanan ku. Ayunan tangan kak rangga serta langkah kakiku benar – benar seirama. Aku merasa hal baik akan terjadi hari ini. Sesampainya didanau aku melihat banyak sekali saputangan jingga tergantung mereka membentuk huruf “O”. aku bertanya – Tanya dalam hati apa maksud dari “O” itu.
“O itu berarti kamu jingga ‘orange’ itukan namamu dalam bahasa inggris?”
“ja… jadi yang ada disapu tangan kakak itu… I © O itu aku ?!” kak rangga menganggukkan kepalanya. Aku terharu benar – benar terharu. Mengapa aku tidak peka.. seandainya aku lebih peka…
“jingga…” kak rangga menyentuh tangan kiri ku dengan sangat lembut.
“ada apa kak ?!” aku mendekatkan wajahku.
“ku mohon maafkan aku ya jika aku tidak dapat menjadi tangan kananmu lagi… kuharap kau bisa melakukan segalanya tanpa aku nanti.”
apa maksud perkataan ka rangga barusan ?! kenapa hatiku terasa terkoyak – koyak ?!
“gak usah terlalu dipikirin kata – kata aku tadi… kan Cuma seumpama ngga” 
namun tetap saja ada yang janggal dari kata – katanya barusan. Angin bertiup kencang aku membawa ka rangga kembali kamarnya dan membawa barang – barangnya. Kasihan dia. Ia ditinggal oleh keluarganya dan tidak begitu mengenal sanak saudaranya selama ini ia tinggal sendiri.

Kak rangga tangan kananya terus menggenggam tangan kiriku selama perjalanan didalam taksi. Sedang tangan kirinya menggenggam erat saputangan jingga. Aku menatap wajahnya yang sedang terlelap, hidung yang mancung, garis matanya yang meninggi, alis yang tebal dan tanpa diduga bulu matanya pun lentik. Aku tertawa kecil. Kak rangga mengerutkan dahinya, ia… seperti orang kesakitan. Iya… sekarang ini pasti ia menahan sakit yang amat. Kami tiba dirumahnya, untunglah ada dermawan yang membayar biaya rumah sakit kak rangga. Aku menidurkannya diatas sofa diruangan kosong dirumahnya. Tidak ada apa – apa rupanya, hanya sofa, tempat tidur, lemari, buku – buku serta peralatan lainnya. TVpun ia tak punya. Pasti ia menderita selama ini. Aku memegang wajahnya dengan tangan kiriku. Tubuhnya dingin, tangannya, begitupun kakinya. DINGIN !! sungguh ada apa ini !! aku harus bagaimana !! aku memeriksa detak jantung serta nafasnya. Terhenti ! semuanya terhenti ! KA RANGGA !!!

                                                    ---

Didepan batu Nissan aku membaca lagi surat yang kau tinggalkan untukku.
sambil merasakan hembusan angin dan suara dedaunan yang saling bertalu, perlahan – lahan aku membaca surat itu dan berusaha menahan air mataku.
“ kepada jingga…  aku minta maaf jika aku tidak mampu membuatmu bahagia… aku hanya mampu membuatmu menangis. Aku tau akulah satu – satunya orang yang patut disalahkan. Selama ini… ditengah kesendirianku ini hanya kau yang mengisi hati kosongku. Aku memang pengecut ! tidak berani menatap mu terlebih bicara denganmu. Namun saputangan ini terus berkata aku harus berani. Setidaknya untuk berbicara denganmu. Aneh bukan ?! saputangan ini… setiap aku melihatnya bayangmu muncul dan menyemangatiku.  Bodohnya aku menyakitimu kala itu. Aku benar – benar minta maaf jingga… aku tak mampu menepati janjiku untuk menghapus air matamu. Saat ini saat air mata terjatuh dipipimu. Kuharap kau tau aku disampingmu berusaha menghapuskannya untukmu. Kuharap kau bisa menemukan orang yang lebih baik yang akan terus menjadi tangan kananmu dan menghapus air matamu layaknya saputangan.”

              ---

Maafkan aku juga kak, semua yang telah terjadi takkan pernah bisa hilang dari benakku. Jika kau bilang kau ada disampingku untuk menghapus air mataku, ku yakin kau mendengar ini . tak ada semenit dalam hidupku aku tak memikirkanmu. Terimakasih kak telah memberiku kesempatan merasakan cinta dan mendapatkan ketulusan. tunggu aku disana… saat waktu ku tiba akupun akan datang padamu dan kita mulai dari awal lagi.

                                  End

Rate this blog entry:
Trackback URL for this blog entry.

Tambah Komentar

Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi teen.co.id. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.