Rabu, Juni 19, 2013
Blog merry imania hasanah PELANGI DI SUDUT PAGI

Teen Blog

Hai Teenholics, buat yang senang nulis cerpen,puisi atau membagi pengetahuan dan lainnya, kamu boleh corat coret disini.

  • Home
    Home This is where you can find all the blog posts throughout the site.
  • Categories
    Categories Displays a list of categories from this blog.
  • Tags
    Tags Displays a list of tags that has been used in the blog.
  • Bloggers
    Bloggers Search for your favorite blogger from this site.
  • Team Blogs
    Team Blogs Find your favorite team blogs here.
  • Archives
    Archives Contains a list of blog posts that were created previously.
  • Login

PELANGI DI SUDUT PAGI

Posted by on in Teenlit (Cerpen)
  • Font size: Larger Smaller
  • Hits: 1026
  • 0 Comments
  • Subscribe to this entry
  • Print
  • PDF
“PELANGI DISUDUT PAGI”
Mentari pagi itu sungguh menyilaukan pandanganku, burung-burung menari dirindangnya kamboja berdaun rimbun. Aku berjalan diantara semak-semak perkebunan  jagung  milik paman idris yang matanya memerah dan berubah jadi monster ketika sedang  memarahiku karna tanaman jagungnya rusak jika terus kulewati, sejak kecil aku di besarkan olehnya dengan kekerasan. Aku kerap kali dipukuli jika melakukan kesalahan, tak penting kesalahan yang bagaimana baginya tetap saja salah. . .
Kadang aku merasa sangat ketakutan, aku bahkan tak pernah bicara pada siapapun, aku sudah membendungnya dalam hati dalam sekali sampai rasanya sudah tak terlihat lagi. Tapi dalam kebungkamanku aku sadar yang mengasuhku sejak dilahirkan dan sampai berumur 15 tahun  adalah paman Idris. Jauh sebelum dia pergi meninggalkanku menghadap Tuhan karna sakit. Dalam dua tahun ini aku yang sebatang kara penuh dengan ketakutan melawan kerasnya hidup sendirian dengan menjual jagung-jagung hasil perkebunan yang paman wariskan padaku agar bisa melangsungkan hidup dan bisa terus bersekolah sampai saat inipun.
            Jauh dari teman-teman dan tak pernah sepatah katapun bicara meski pada guru sekalipun, aku sudah terlalu keras menjalani hidup sejak tak punya orang tua lagi. sungguh aku tak mampu menatap mata orang-orang yang memandangiku seperti sampah. Aku hanya sedang bertahan melawan kesepianku, kesepian  dalam dinginnya kekalutan hidupku yang pelik ini.
Sekarang  aku duduk di bangku kelas dua SMA, aku bertahan meski teman-teman menjauhiku dan terus mengataiku sakit jiwa. Aku dengan sikap yang seperti ini sudah cukup nyaman meski dikatai orang gila sekalipun. Aku hanya ingin lulus dengan nilai yang baik dan dapat melangsungkan pendidikanku di Universitas terbaik di kota ini, meski aneh bagimu tapi aku tak ingin dekat dengan siapapun lagi. Pagi-pagi sekali aku sudah berangkat  kesekolah, aku melewati semak-semak perkebunan jagung seperti biasanya. Sekolahku tak jauh dari rumah sehingga mudah dijangkau dengan jalan kaki sekalipun, Aku yang sejak dikelas satu duduk sendirian karena teman-teman tak ada yang mendekatiku, tiba-tiba saja hari itu ada tas yang tergeletak dibangku sebelah kananku. Tak lama saat bel berbunyi penasaranku terjawab, teman sebangkuku bernama “KIKI PRIMA WIDJAYA” dia seorang pria yang berwajah sangat cantik seperti seorang pangeran-pangeran kerajaan korea. Wajahnya begitu putih seperti embun dipagi hari, matanya sangat sipit dan tatapannya ketika itu berwarna-warni seperti pelangi, garis wajah oriental, dengan alis yang tebal, dan senyum yang seperti anak-anak perempuan, dia pria yang tampan tapi wajah yang seperti seorang anak perempuan.
“ kau, siapa namamu?” tanyanya padaku, aku yang memang tak pernah bicara sepatah katapun pada seorang teman meski ditanya sekalipun hanya diam saja. Dia mengetuk kepalaku, aku benar-benar tak suka padanya karna sikapnya yang seperti itu. Aku menatapnya dengan tatapan sinis, menatapnya dengan tatapan marah karana dia terus mengangguku.
“ jangan menatapku seperti itu! kau gadis yang cantik, tapi mengapa begitu mengerikan? kau tak mau bicara, apa karna gigimu bertaring?” tanyanya lagi, aku terus menatapnya dengan tatapan yang tidak suka. Tatapan yang dia bilang mengerikan, mengapa dia duduk disampingku? itu begitu menyebalkan. Sepulang sekolah aku langsung pulang tidak seperti kebanyakan teman yang menghabiskan waktunya untuk main-main, aku segera mengulang pelajaran untuk mempertahankan beasiswaku selama disekolah itu dan setelahnya aku segera memetik jagung-jagung yang sudah bisa di jual untuk kebutuhan sehari-hariku dan sebagian uangnya ku simpan untuk masa depanku. Aku sangat mempersiapkan segalanya dengan baik, karna sebelumnya saat bersama paman meski terus dimarahi aku belajar untuk memperjuangkan hidup. begitulah setiap harinya tak ada yang berubah meski orang-orang berubah, tapi aku tak kan pernah berubah.
            Keesokan harinya aku berangkat ke sekolah seperti biasanya, semenjak ada anak baru itu aku jadi tak bersemangat kesekolah walau hanya sebentar saja.
“ Sidratul muntaha, namamu sungguh indah. Kau tinggal di sudut perkebunan jagung itu? kau tinggal sendirian? bolehkah aku mampir jika ada kesempatan?” tanyanya, aku segera menggelengkan kepala. Dia justru tersenyum ketika itu, rasanya sangat tidak lucu, tapi mengapa dia tersenyum? mengapa pria ini tak menyerah menggangguku? saat pulang sekolah dia mengikutiku, aku segera menatapnya sinis sekali. tapi dia tak peduli, dia terus mengikutiku sampai ke perkebunan jagung.
“ berhenti mengikutiku” bentakku padanya.
“ suaramu sungguh merdu, tapi kau bahkan tak pernah bicara” ujarnya padaku, aku kembali berjalan meski awalnya sempat menghentikan langkahku.
“ sidra, maukah kau berteman denganku? walau sebentar saja!” tanyanya tiba-tiba. Aku terheran ketika pertanyaan itu muncul darinya, sebelumnya tak pernah ada orang yang mau mengajakku berteman.
“ baik, tapi berhenti mengikutiku” ujarku padanya, dia menatapku dan segera membalikkan tubuhnya lalu segera menghilang dari hadapanku. senyumnya begitu misterius, sejak kedatangannya kekelas, semua anak perempuan memang begitu memujanya, hanya aku yang merasa tidak seperti itu.
            Pagi itu saat akan berangkat kesekolah, aku bertemu dengannya di sudut perkebunan. dia tersenyum dengan baik dengan pancaran sinar mata yang berkilau seperti pelangi, seperti nyamur yang menetes dihatiku, pemandangan teduh yang sulit dijelaskan.
“ terima kasih sudah ingin bicara padaku, dan terima kasih karna mengizinkan aku berteman denganmu. Bagiku sudah cukup menyenangkan” aku mengangguk dengan pasti, karna akupun merasa sudah sangat senang meski punya teman menyebalkan seperti dia. rasanya tak kan pernah terulang lagi hal-hal dimana dia terus mengikutiku dan berjalan disisiku. sejak itu kami terasa begitu dekat, dia terus mebantuku berjualan dan memetik jagung-jagung meski tak pernah kupinta sekalipun, dia seperti malaikat bersayap emas yang tiba-tiba datang untuk melepaskan sayap emasnya untuk dibagikan padaku. satu tahun bersamanya melewati masa-masa di kelas dua, aku sudah merasa baik sekali, aku mulai bicara pada guru-guru jika ditanya. Aku tak pernah diam lagi…
“jika kau terus diam, kau akan kehilangan suaramu yang merdu itu… kau akan dikatai bertaring jika kau tak pernah tersenyum, berjanjilah untuk terus tersenyum dengan manis dan menjawab pertanyaan orang-orang yang bertanya padamu. jadilah gadis seperti kebanyakan gadis lainnya, kau harus bahagia untukku” ujarnya saat liburan kenaikan kelas berlangsung, itu tandanya aku takkan bertemu dia selama seminggu.
“ aku berjanji, terima kasih prima…” ujarku sambil tersenyum dengan baik.
            Sejak liburan kenaikan kelas, aku memang tak pernah bertemu dengannya lagi. kadang aku melihat bayangannya di sudut perkebunan sambil tersenyum saat pagi-pagi aku memetik jagung, rasanya punya teman yang baik sepertinya memang tak pernah terulang lagi. satu-satunya teman terbaik di hidupku dan tak kan pernah ada lagi, aku sudah berjanji padanya akan bahagia.
Seminggu berlalu dan saat duduk dikelas tiga, aku tak pernah melihatnya lagi datang kesekolah dan menungguku sambil tersenyum disudut perkebunan jagung. tak lama aku mendengar dari teman-teman sekolah bahwa prima tak pernah terdaftar sebagi murid di angkatanku, tapi sebenarnya siapa dia? apa dia malaikat bersayap emas? apa benar-benar malaikat yang sengaja dikirim Tuhan untuk mengisi hari-hariku selama ini? aku sungguh tidak percaya, selama setahun ini bersama dengannya melewati hari-hari dengan penuh senyuman yang sangat manis, yang tatapannya terus berkilauan seperti sinar pelangi dipagi hari yang terus muncul dalam benakku disudut perkebunan jagung.
meski begitu tak kan pernah melihatnya lagi, tapi aku merasakan dia terus hadir di setiap pagi sambil menungguku untuk berangkat kesekolah berjalan bersamaku dan tersenyum dengan manis. di perkebunan jagungku, kutemukan senyum paling baik didunia, senyuman baik milik prima. Pelangi di sudut pagiku, seperti Mimosa pudica yang kian mingkup karana sentuhanku……………semoga kutemukan lagi sinar mata yang seperti itu dikemudian hari.
“ jika kau malaikat, mucullah sebagai bayangan saja dihadapanku. Tapi jika kau sahabat, kapan kita bisa bersahabat lagi dan jalan bersama kembali seperti waktu itu?” ungkapku dalam hati.
Rate this blog entry:
Trackback URL for this blog entry.
Terimakasih untuk Allah atas kesempatan-kesempatan kecil yang telah diberikan kepadaku ditahun 2013 yang penuh berkah ini, disetiap waktu terselip kesempatan, disetiap waktu yang diberikan kuhargai dengan setiap senyuman paling berharga...

terimakasih untuk waktu yang terus memberiku kesempatan. . .

Tambah Komentar

Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi teen.co.id. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.